Fetish dan Kink, Apa Sih Perbedaannya?

Meski telah ada sejak zaman dahulu, istilah fetish dan kink kini semakin sering muncul di media, khususnya dengan perkembangan teknologi internet. Ada banyak sekali persepsi yang berbeda mengenai keduanya. Di kalangan awam, sebagian orang menganggapnya sebagai penyimpangan seksual, sementara sebagian lagi memiliki opini yang berbeda. Untuk meluruskan pemahaman Anda, berikut penjelasan mengenai fetish dan kink dari sudut pandang psikologi.

Menurut kamus psikologi resmi terbitan American Psychological Association (APA), fetishism adalah kondisi di mana seseorang menggunakan benda-benda mati seperti pakaian dalam, stocking, benda-benda karet, sepatu, atau boots untuk meraih kepuasan seksual. Penggunaan sex toys seperti vibrator tidak tergolong bagian dari fetishism. Fetish pada dasarnya dimiliki sebagian besar orang, namun tidak semua fetish tergolong gangguan psikologis. Seseorang bisa saja memiliki fetish tertentu tetapi tetap dianggap sehat. Berdasarkan DSM-5, buku panduan pembuatan diagnosis yang digunakan oleh psikolog di seluruh dunia, fetish hanya bisa dikategorikan sebagai gangguan apabila:

  • menyebabkan rasa tertekan
  • menyebabkan gangguan di ranah sosial, karir, dan bidang lainnya
  • prakteknya menyakiti orang lain

Jika fetish yang dimiliki seseorang tidak memenuhi karakteristik di atas, fetish tersebut tidak bisa disebut gangguan, hanya variasi dari preferensi seksual seseorang saja. Misalnya, seorang laki-laki terangsang oleh sepatu hak tinggi. Ia menyalurkan fetish-nya di tempat tidur dengan meminta istrinya menggunakan sepatu tersebut ketika bercinta. Istrinya tidak terganggu dengan hal ini. Dalam contoh kasus tadi, fetish ini bukan gangguan, karena tidak mengganggu kehidupannya. Akan tetapi jika ia ejakulasi di publik karena melihat perempuan menggunakan sepatu hak tinggi, hingga ia malu, hubungan sosialnya terganggu, dan tidak bisa fokus bekerja, maka fetish ini adalah sebuah gangguan.

Lalu bagaimana dengan kink? Menurut Samuel Hughes, psikolog yang banyak meneliti kink di ranah sosial, kink adalah istilah yang menggambarkan berbagai perilaku seksual dan intim yang sifatnya non-tradisional (tidak umum) namun dilakukan atas dasar mau sama mau (Aaron, Psychology Today, 2018). Beberapa contoh perilaku kink adalah sebagai berikut:

  • Bondage: mengikat diri sendiri / pasangan dengan tali atau dengan objek lain yang bisa membatasi ruang gerak untuk meningkatkan gairah seksual
  • Domination & submission: aktivitas seksual di mana satu pihak menjadi sangat dominan dan pihak lainnya menunjukkan kepatuhan sehingga terjadi permainan kekuasaan yang bisa memberikan rangsangan seksual
  • Role-play: bermain peran dalam hubungan seks, misalnya sebagai dokter dan pasien, guru dan murid, dan sebagainya agar mendapat suasana baru dalam aktivitas seksual

Jadi, jika fetish fokusnya pada benda mati, kink berfokus pada aktivitas dan seringkali dilakukan bersama pasangan. Seperti fetish, kink juga bukan merupakan penyimpangan, selama tidak menyebabkan rasa tertekan ataupun gangguan yang signifikan dalam kehidupan seseorang. Agar fetish dan kink Anda tidak mengganggu pasangan, kuncinya adalah komunikasi yang baik. Jangan ragu untuk jujur pada pasangan mengenai hal-hal yang merangsang Anda. Siapa tahu, ia mau bereksperimen atau malah memiliki fetish atau kink-nya sendiri.

Begitulah pembahasan singkat soal fetish dan kink. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Ini Teknik Fingering yang Aman dan Menambah Kepuasan Bercinta

Anda yang sudah cukup berpengalaman di ranjang tentunya mengetahui pentingnya pemanasan alias foreplay. Selain untuk membangun momentum, foreplay juga mempersiapkan tubuh sebelum penis menyapa vagina secara langsung. Dengan adanya foreplay, vagina menjadi lebih basah. Aliran darah berpusat pada vagina dan klitoris (Dweck & Westen, 2017). Penis pun punya waktu untuk mengeluarkan cairan pra-ejakulasinya terlebih dahulu. Seks jadi lebih aman, nyaman, dan memuaskan. Salah satu strategi foreplay yang bisa Anda lakukan adalah bermain dengan jari atau yang disebut sebagai fingering.

Fingering biasanya dilakukan dengan memberikan rangsangan pada vagina melalui jari. Pada umumnya, fingering relatif aman. Meskipun begitu, Anda harus mengetahui trik-triknya terlebih dahulu. Berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan agar fingering bisa lebih aman dan menambah kepuasan bercinta:

  • Pastikan Anda sudah mendapatkan consent dari pasangan untuk melakukan fingering. Jangan langsung mengasumsikan pasangan Anda akan mau kalau Anda belum pernah mendiskusikannya.
  • Bila kuku Anda panjang atau pendek tetapi agak tajam, potong dan kikirlah kuku Anda demi mengurangi risiko melukai bagian dalam vagina.
  • Cuci tangan Anda terlebih dahulu sebelum Anda melakukan fingering.
  • Risiko tertular infeksi menular seksual (IMS) melalui fingering mungkin relatif kecil, tapi tetap ada (Gotter, 2019, Healthline). Oleh karena itu gunakanlah kondom pada jari Anda. Kalau sulit menemukan kondom jari, Anda juga bisa memakai kondom laki-laki biasa.
  • Gunakan pelumas. Saat memilih pelumas, pastikan bahwa pelumas sesuai dengan kondom yang digunakan. Bila menggunakan kondom berbahan lateks, jangan menggunakan pelumas berbahan dasar minyak. Pilihlah pelumas berbahan dasar air, misalnya Fiesta Intimate Natural Lubricant atau Fiesta Intimate Strawberry Lubricant. Perlu diperhatikan bahwa terkadang mengaplikasikan pelumas satu kali saja tidak cukup, Anda mungkin perlu menambahkannya lagi secara berkala (Dweck & Westen, 2017). Ikuti intuisi Anda.
  • Rangsang bagian luar dulu, tepatnya di area vulva. Jangan langsung memasukkan jari ke dalam vagina. Raba bagian-bagian vulva seperti mon pubis, labia, hingga klitoris. Berikan sentuhan yang menggoda khususnya di bagian klitoris. Klitoris memiliki sekitar 8.000 ujung saraf dan fungsi utamanya memang untuk memberikan kepuasan seksual (Hill, 2019). Manfaatkan kesempatan Anda.
  • Saat pasangan sudah siap, masukkan jari Anda ke dalam vagina. Tiap perempuan memiliki preferensi yang berbeda mengenai gerakan, tempo, dan jumlah jari yang mereka sukai, oleh karena itu cari tahu apa yang disukai pasangan Anda. Komunikasi memegang peranan penting di tahap ini. Perhatikan juga bahasa tubuh pasangan Anda dan jangan melanjutkan apapun yang Anda lakukan bila pasangan terlihat tidak nyaman.
  • Fingering tidak harus selalu berakhir dengan seks vaginal. Soalnya, selain bisa digunakan sebagai foreplay, fingering juga bisa dinikmati sebagai tindakan seksual yang berdiri sendiri. Ikuti saja mood Anda dan pasangan Anda.
  • Orgasme adalah bonus, namun jika tidak terjadi, tak perlu menyalahkan diri Anda. Masih ada waktu untuk belajar lagi. Yang terpenting adalah membangun kedekatan intim berdua.

Itulah sejumlah tips fingering yang aman dan bisa menambah kepuasan bercinta. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

4 Tips Mengurangi Covidivorce di Masa Pandemi

Bagi pasangan yang salah satu atau keduanya bekerja di luar rumah, kebijakan untuk bertahan di rumah saja selama pandemi COVID-19 tentunya menuntut penyesuaian diri. Jika tadinya waktu yang dihabiskan berdua hanya beberapa jam dalam sehari, kini sebagian besar waktu dihabiskan bersama. Tidak jarang, absennya waktu pribadi ini justru memicu konflik. Di beberapa kota di Indonesia, angka perceraian meningkat selama pandemi (CNN Indonesia, 2020; Kompas TV, 2020; Vivanews, 2020). Hal serupa juga terjadi di negara-negara lain, hingga istilah ‘covidivorce’ mulai menjadi tren. Lalu bagaimana cara mencegahnya agar tidak terjadi pada kita? Berikut beberapa tips yang bisa Anda terapkan untuk mengurangi konflik rumah tangga di masa pandemi.

  • Membagi tanggung jawab rumah tangga dengan adil
    Tanggung jawab rumah tangga bisa meningkat secara drastis di masa pandemi. Sebagai contoh, jika tadinya Anda dan pasangan tidak perlu mencuci pakaian sendiri karena ada jasa laundry kiloan, sebagian besar penyedia jasa tersebut kini tidak beroperasi. Kalau tadinya tidak ada yang makan siang di rumah, sekarang Anda dan pasangan harus memikirkan hal ini karena kebijakan work from home (WFH) dan sekolah online bagi anak-anak. Rutinitas membersihkan rumah pun menjadi ribet dengan keharusan untuk mensterilkan ruangan dengan antiseptik secara berkala. Pikullah tanggungjawab domestik bersama-sama agar tidak ada yang kewalahan.
  • Memastikan bahwa Anda dan pasangan sama-sama punya waktu untuk diri sendiri
    Waktu untuk diri sendiri alias me-time merupakan sesuatu yang sangat penting demi kelanggengan hubungan Anda. Tidak semua aktivitas yang Anda sukai juga akan disukai oleh pasangan Anda, dan sebaliknya. Anda mungkin butuh 1-2 jam bermain game tanpa diganggu untuk meluapkan emosi setelah seharian melakukan pekerjaan yang melelahkan. Pasangan Anda mungkin ingin menonton serial kesukaannya di televisi. Pastikan bahwa me-time tetap ada sehingga Anda dan pasangan bisa menyegarkan otak kembali.
  • Bersama-sama mendiskusikan solusi untuk mengatasi beban finansial akibat corona
    Diskusikan secara jujur dan terbuka kekhawatiran Anda soal beban finansial ekstra yang muncul akibat pandemi corona dengan pasangan Anda. Tagihan listrik tentunya akan meningkat jika Anda sekeluarga harus terus berada di dalam rumah. Biaya hidup pun jadi semakin mahal akibat naiknya harga barang kebutuhan sehari-hari. Jika Anda punya anak, Anda mungkin harus membeli gadget tambahan akibat sistem sekolah online. Apa yang bisa Anda lakukan bersama pasangan Anda untuk mengatasi hal ini? Misalnya, berhemat listrik, mencari penghasilan tambahan, dan sebagainya.
  • Menjadwalkan momen intim bersama pasangan
    Di tengah kesibukan, sangat mudah bagi pasangan untuk melupakan pentingnya momen intim. Jadwalkan seks seperti Anda menjadwalkan meeting online untuk kantor. Yang penting slot waktunya tersedia dulu. Urusan apakah nanti Anda dan pasangan memiliki mood untuk berhubungan seks atau hanya sekadar ingin berpeluk manja sambil mengobrol di ranjang, tidak masalah. Jangan lupa menggunakan kontrasepsi untuk mengurangi risiko kehamilan di masa yang kurang mendukung ini.

Itulah 4 tips untuk mengurangi konflik rumah tangga di masa pandemi. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Seks Oral Tanpa Kondom, Ini Risikonya Bagi Kesehatan Reproduksi

Bila dilakukan dengan cara yang tepat, seks oral bisa menjadi suatu pengalaman positif yang meningkatkan kedekatan dan kemesraan Anda dengan pasangan. Meskipun begitu, ketika Anda melupakan pentingnya faktor keamanan, aktivitas seksual yang satu ini bisa berakhir dengan suram. Berikut sekilas pembahasan mengenai risiko seks oral tanpa kondom bagi kesehatan reproduksi.

Selama ini, salah satu miskonsepsi yang cukup sering beredar adalah bahwa infeksi menular seksual (IMS) hanya menyebar melalui hubungan seks vaginal. Seks oral dianggap lebih aman dan tidak membutuhkan upaya pencegahan penyebaran IMS yang sama. Padahal, kenyataannya beberapa jenis IMS juga bisa menyebar melalui seks oral. Beberapa di antaranya yaitu (Dweck & Westen, 2017; Villines, 2018, Medical News Today):

  • Gonorrhea / Kencing Nanah
  • Klamidia
  • Herpes
  • HPV / Kutil Kelamin
  • Sifilis / Raja Singa

Kalau ejakulasi di luar, apakah seks oral jadi aman bagi kesehatan reproduksi? Tidak juga. Permasalahannya bukan hanya soal interaksi dengan sperma, namun dengan apa yang disebut sebagai cairan membran mukus. Ketika membran mukus dari dua orang yang berbeda saling bersentuhan, IMS bisa menyebar. Sama halnya ketika membran mukus terkena sperma atau darah dari pasangan yang positif IMS. Selain pada penis dan vagina, membran mukus yang perlu diperhatikan adalah yang terletak di anus, mata, dan mulut (Perez, 2018). Inilah alasan mengapa seks oral tetap berisiko meskipun ejakulasi terjadi di luar.

Apapun jenis seks oral yang Anda praktekkan, baik fellatio ataupun cunnilingus, gunakanlah kondom untuk mencegah IMS dan melindungi kesehatan reproduksi. Kondom laki-laki tersedia dalam berbagai jenis dan sangat mudah diperoleh. Kondom perempuan agak lebih langka, namun ini bukan alasan untuk tidak menggunakan pengaman. Jika Anda kesulitan menemukan kondom perempuan, Anda bisa menggunakan dental dam atau menggunting kondom laki-laki agar lebih lebar dan rata untuk ditaruh di permukaan vulva atau vagina perempuan. Pastikan juga bahwa Anda selalu mengganti kondom dengan yang baru untuk setiap tindakan seksual yang berbeda. Misalnya, jika Anda menggunakan kondom untuk seks vaginal, kemudian hendak melakukan seks oral, gantilah kondom yang sudah dipakai dengan yang baru agar risiko IMS berkurang.

Tidak seperti di zaman dulu di mana penggunaan kondom mengurangi kenikmatan seksual, kondom-kondom modern sudah memiliki desain yang jauh lebih baik dan tidak lagi berbau lateks. Anda justru bisa bereksperimen dengan berbagai fitur kondom yang menarik, misalnya dengan memakai kondom bertekstur atau kondom beraroma. Beberapa contoh kondom bertekstur dengan kualitas prima misalnya kondom Supreme Sensation, Fiesta Max Dotted, dan Sutra Gerigi. Sementara itu, untuk kondom beraroma, Anda bisa memilih rangkaian produk Fiesta beraroma buah-buahan, seperti Fiesta Strawberry, Grape, Banana, dan Durian. Tekstur yang merangsang dan aroma kondom yang manis akan membuat seks oral lebih menyenangkan bagi Anda dan pasangan.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai risiko seks oral bagi kesehatan reproduksi dan langkah-langkah yang bisa Anda lakukan untuk membuat pengalaman seks oral menjadi lebih aman dan nyaman. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

10 Jenis Biaya yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Punya Anak

Membangun keluarga bahagia merupakan impian banyak pasangan. Meskipun begitu, tanpa perencanaan yang matang, target ini akan sulit dicapai. Salah satu kendala utama adalah faktor biaya. Berikut 10 jenis biaya yang perlu Anda persiapkan sebelum memutuskan untuk punya anak.

  • Biaya kehamilan
    Mencakup tes kehamilan, pemeriksaan kesehatan rutin, asupan gizi semasa hamil, kelas persiapan parenting, dan sebagainya.
  • Biaya persalinan
    Mencakup biaya melahirkan, biaya operasi jika diperlukan, biaya rawat inap, biaya perlengkapan ibu melahirkan, dan sebagainya.
  • Biaya perlengkapan bayi
    Mulai dari pakaian bayi, popok, gendongan, tas, pompa ASI, botol susu, dan sebagainya.
  • Biaya kebutuhan nutrisi anak
    Mencakup segala jenis makanan dan minuman yang dibutuhkan anak dari masa bayi hingga dewasa.
  • Biaya kesehatan anak
    Mencakup imunisasi, biaya berobat ketika anak sakit, dan sebagainya, dari masa bayi hingga anak dewasa.
  • Biaya pendidikan
    Mencakup biaya yang perlu dikeluarkan sejak anak masuk playgroup, TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah, mulai dari uang pendaftaran, buku, seragam, dan sebagainya.
  • Biaya transportasi
    Mencakup biaya yang perlu dikeluarkan untuk mobilitas anak, mulai dari bayi hingga kuliah, baik itu berupa biaya mobil, maintenance, dan pajaknya, biaya bensin, biaya transportasi umum.
  • Biaya rekreasi
    Mencakup biaya yang perlu dikeluarkan untuk uang jajan, mainan, gadget / internet, serta liburan.
  • Biaya perayaan
    Mencakup segala perayaan yang akan Anda lakukan untuk anak atas dasar budaya maupun agama, mulai dari acara pemberian nama anak, acara ulangtahun, acara kelulusan studi, pertunangan, hingga pernikahan anak di masa depan.
  • Biaya emergensi
    Mencakup tabungan cadangan untuk situasi darurat jika ada kebutuhan anak yang belum bisa diprediksi untuk saat ini.

Biaya-biaya tadi bisa bervariasi tergantung dari tempat tinggal Anda. Pasangan yang hidup di kota besar mungkin perlu mengeluarkan biaya yang lebih banyak daripada pasangan yang tinggal di kota kecil. Menurut kajian tim riset Tirto.id (2016), keluarga bertaraf sosial menengah dengan penghasilan >5 juta rupiah di Jakarta yang melahirkan anak pada tahun 2016 membutuhkan biaya sekitar 31 juta rupiah per tahunnya untuk membesarkan anak. Hingga anak tersebut bisa mandiri di usia 21 tahun, dibutuhkan biaya hampir 3 miliar rupiah. Tentunya tidak semua biaya tersebut harus sudah tersedia sebelum anak lahir. Biaya ini bisa dibagi per tahunnya dan ditanggung bersama jika pasangan Anda ikut bekerja. Meskipun begitu, Anda tetap harus merencanakannya dengan strategis agar tidak terasa berat nantinya.

Dari informasi tadi, dapat disimpulkan bahwa idealnya setiap pasangan harus mulai menabung sejak dini. Salah satu strategi yang bisa membantu adalah dengan berkontrasepsi terlebih dahulu hingga lebih siap. Ada beberapa jenis metode kontrasepsi yang bisa digunakan, misalnya:

  1. Beragam pilihan IUD Andalan dengan masa perlindungan 10 tahun, 5 tahun, dan 3 tahun
  2. Implan Andalan dengan masa perlindungan 4 tahun
  3. Suntik KB Andalan 3 bulanan dan 1 bulanan
  4. Pil KB Andalan, Andalan Fe, dan Andalan Laktasi untuk 28 hari per pack
  5. Kondom Andalan, Sutra, Fiesta, dan Supreme

Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan soal ini, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan dijamin kerahasiaannya.

Keyakinan Terhadap Performa Membuat Seks Tahan Lama, Benarkah?

Jika Anda ingin seks tahan lama demi memuaskan pasangan, namun kesulitan mencapai ekspektasi tersebut, Anda tidak sendirian. Banyak orang yang mengalami masalah yang sama. Akan tetapi tahukah Anda? Ternyata salah satu penyebab seks berakhir terlalu cepat adalah karena kecemasan terhadap performa seksual.

Kecemasan mengenai performa seksual terjadi ketika seseorang terlalu khawatir mengenai penampilan tubuhnya serta kemampuannya untuk memuaskan pasangan (Scaccia, 2017, Healthline). Misalnya, Anda  tidak percaya diri karena perut yang agak buncit, ukuran penis, atau karena kurang yakin mengenai trik foreplay yang disukai pasangan. Akibatnya, muncul keraguan bahwa Anda bisa membahagiakan pasangan di ranjang. Padahal, belum tentu apa yang dikhawatirkan benar-benar dianggap masalah oleh pasangan. Kalaupun Anda akan membuat sejumlah kesalahan di tempat tidur, kemungkinan besar akibatnya tidak akan sefatal yang Anda bayangkan. 

Apapun akar masalahnya, kecemasan performa sering dialami banyak orang. Pada laki-laki, hal ini bisa menyebabkan disfungsi ereksi, yaitu kondisi di mana penis susah mencapai ereksi (Johnson, 2018, Medical News Today). Selain itu, kecemasan performa juga bisa memicu ejakulasi dini (Thomas, 2015, Psychology Today). Inilah yang membuat seks tidak tahan lama.

Lalu, bagaimana caranya mengatasi kecemasan yang berlebihan dan membuat seks tahan lama? Strategi terbaik adalah dengan membangun keyakinan terhadap performa seksual. Dua pakar di bidang ini, Masters dan Johnson, menangani 186 kasus ejakulasi dini yang membuat seks tidak bertahan lama. Dari angka tersebut, mereka hanya mengalami 4 kegagalan. Menurut psikiater Australia yang mengkritisi penanganan yang diberikan, Michael Clarke dan Laurel Parry, kesuksesan intervensi tadi terjadi karena metode yang digunakan, yaitu menurunkan kecemasan performa seksual, meningkatkan rasa saling percaya di antara pasangan, dan menambah rasa percaya diri dalam hubungan (Vice, 2018).

Oprah pernah mengatakan bahwa keyakinan terhadap performa seksual bukan hanya terbatas pada rasa yakin bahwa Anda benar-benar diinginkan oleh pasangan, namun juga bahwa apapun yang Anda bawa ke dalam hubungan seks kemungkinan besar akan dihargai. Orang-orang yang percaya diri dalam hubungan seks akan jauh lebih rileks, menikmati momen-momen intim yang ada, dan mendapatkan seks yang berkualitas. Kalaupun menghadapi kegagalan, mereka tidak akan terobsesi secara berlebihan mengenai kegagalan, sehingga bisa menikmati kesuksesan saat mencoba lagi di kali berikutnya.
Agar lebih yakin terhadap performa seksual, berikut langkah-langkah yang bisa Anda lakukan:

  • Sadari pemikiran-pemikiran negatif yang muncul di kepala Anda dan ubahlah dengan yang lebih positif.
  • Upayakan untuk lebih fokus menikmati apa yang memang sedang terjadi di ranjang dan hindari memikirkan hal-hal lain.
  • Perkaya pengetahuan Anda mengenai alat bantu seks yang bisa meningkatkan performa. Misalnya, Anda bisa menggunakan kondom yang mengandung Climax Delay Lubricant seperti Fiesta Delay atau Supreme Performax.
  • Cobalah lebih terbuka dengan pasangan mengenai kekhawatiran Anda. Faktanya, pasangan dengan komunikasi seksual yang baik dan terbuka memiliki hasrat seksual yang lebih tinggi, lebih mampu mengontrol ereksi, serta lebih sering orgasme (Mallory et al., 2019).

Masih kurang yakin juga bahwa keyakinan terhadap performa bisa membuat seks tahan lama? Atau Anda ingin berkonsultasi? Hubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan dijamin kerahasiaannya.

8 Hal yang Sebaiknya Dilakukan Sebelum Pemasangan IUD

Kecil-kecil cabe rawit! Ini merupakan perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan IUD. Kemampuan IUD sebagai alat kontrasepsi tidak bisa disepelekan. Terlepas dari ukurannya yang sangat mungil, IUD mampu memberikan perlindungan dari kehamilan hingga 10 tahun pemakaian (Dweck & Westen, 2017). Beberapa brand IUD populer di Indonesia misalnya IUD Andalan TCu 380A, Andalan Cu 375 Sleek, dan Andalan Silverline Cu 200 / Cu 380 Ag. Tertarik untuk mencobanya? Berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan sebagai persiapan sebelum pemasangan IUD:

  1. Jadwalkan kunjungan di waktu yang ideal agar Anda bisa lebih tenang dan rileks.
  2. Minumlah air putih dan makanlah sebelum pemasangan IUD untuk mengurangi kemungkinan pusing (WebMD, 2019).
  3. Persiapkan diri Anda untuk tes kehamilan, sebab IUD hanya boleh dipasang apabila Anda sedang tidak hamil.
  4. Kalau Anda sebelumnya sudah pernah melakukan tes infeksi menular seksual (IMS), bawalah hasil tes tersebut dan konsultasikan ke dokter/Bidan Andalan terlebih dahulu. IUD sebaiknya dipasang ketika hasil tes IMS sudah negatif, sebab jika tidak demikian bakteri bisa masuk ke dalam rahim saat pemasangan IUD dan menyebabkan infeksi yang lebih serius (Planned Parenthood).
  5. Konsultasikan riwayat kesehatan Anda dengan dokter agar dokter bisa menentukan apakah IUD memang cocok untuk Anda. Sampaikan pada dokter bila memang Anda memiliki keluhan terkait kesehatan reproduksi, misalnya masalah yang berhubungan dengan menstruasi.
  6. Pemasangan IUD ke dalam rahim sangat singkat, hanya memakan waktu sekitar 5 menitan, tidak membutuhkan operasi, serta biasanya tidak menyebabkan rasa sakit. Meskipun demikian, beberapa orang terkadang merasa agak keram sedikit saat pemasangan sedang berlangsung atau justru setelah pemasangan selesai. Sensasi ini biasanya hanya sebentar saja. Usahakan untuk tetap rileks. Kalau memang dirasa perlu, minumlah ibuprofen sebelum kunjungan Anda ke klinik atau ke rumah sakit. Anda juga bisa menjadwalkan kunjungan seminggu setelah menstruasi, ketika hormon lebih stabil dan sensitivitas Anda terhadap rasa sakit jauh lebih rendah (Dweck & Westen, 2017).
  7. Jika Anda mudah merasa tegang atau khawatir, mintalah pasangan untuk mendampingi Anda saat pemasangan. Anda juga bisa datang sendiri kalau memang merasa tidak perlu ditemani. Semuanya kembali lagi pada kenyamanan Anda.
  8. Untuk kenyamanan ekstra, bawalah buli-buli/kantong air hangat dari rumah untuk ditaruh di perut Anda setelah pemasangan IUD.

Itulah 8 hal yang bisa Anda lakukan sebelum pemasangan IUD. Mudah-mudahan dengan persiapan tersebut, proses pemasangan akan berjalan lancar dan nyaman. Untuk melakukan pemasangan IUD pada Bidan Andalan terdekat, kunjungi https://dktindonesia.org/andalan-clinic/. Selain itu, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Kondom Terbalik Saat Mau Dipakai, Bolehkah Digunakan Ulang?

Bisa karena biasa. Ini merupakan pepatah yang tepat untuk menggambarkan tantangan dalam menggunakan kondom dengan baik dan benar. Kondom dikemas dalam keadaan tergulung. Akibatnya, orang yang belum terbiasa menggunakannya mungkin mengalami kesulitan ketika memasang kondom. Salah satunya adalah memakai kondom secara terbalik. Saat ini terjadi, kondom yang terbalik akan sulit ditarik ke bawah karena bagian yang masih tergulung menghadap ke dalam. Alhasil, gulungan tersebut tidak membuka. Apabila hal ini terjadi pada Anda, apa yang akan Anda lakukan? Penelitian menunjukkan bahwa hampir 30% pengguna kondom yang melakukan kesalahan ini membalik kondom dan menggunakannya kembali (Crosby, Milhausen, Sanders, et al., 2014). Padahal, tindakan ini sebenarnya tidak boleh dilakukan karena berisiko menyebabkan kehamilan yang tidak direncanakan dan menyebarkan infeksi menular seksual (IMS). Berikut penjelasannya.

Kondom biasanya dipakai sebelum berhubungan seks, saat penis sudah dalam keadaan tegang atau ereksi. Dalam kondisi ini, penis laki-laki mengeluarkan cairan pra-ejakulasi. Cairan pra-ejakulasi ada yang memiliki kandungan sperma dan ada yang tidak (Hill, 2019). Selain itu, cairan pra-ejakulasi dikeluarkan melalui lubang yang sama dengan sperma, yaitu saluran kencing atau yang dikenal sebagai uretra. Karena keluar dari lubang yang sama, cairan pra-ejakulasi bisa membawa sisa sperma bekas ejakulasi sebelumnya yang masih tertinggal di saluran uretra (Scaccia, 2018, Healthline). Misalnya, cairan pra-ejakulasi yang keluar ketika berhubungan seks di malam hari bisa saja membawa sisa sperma bekas ejakulasi sehabis masturbasi di siang hari tadi. Jika sperma yang terkandung dalam cairan pra-ejakulasi adalah sisa sperma bekas ejakulasi sebelumnya, apakah sperma tersebut masih hidup? Ternyata bisa saja demikian. Penelitian menemukan bahwa 37% sperma dalam cairan pra-ejakulasi ditemukan dalam keadaan masih sehat serta bisa bergerak dengan aktif (Killick, Leary, et al., 2010).

Lantas apa hubungannya dengan kondom yang terbalik? Meskipun arah kondom sudah diperbaiki, ketika Anda atau pasangan Anda memakai ulang kondom yang sama, kondom tersebut sudah terkena cairan pra-ejakulasi. Artinya, ada kemungkinan bahwa kondom telah terkontaminasi oleh sperma dan Anda tidak menyadarinya, sebab warna cairan pra-ejakulasi tidak putih seperti cairan mani, melainkan bening dan transparan. Akibatnya, ada risiko kehamilan yang lebih besar. Selain itu, terdapat pula risiko penularan IMS, sebab IMS pun bisa menyebar melalui cairan pra-ejakulasi.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Langkah terbaik adalah membuang kondom yang sudah sempat digunakan dengan terbalik, kemudian menggantinya dengan yang baru. Kalau Anda khawatir akan memasangnya dengan arah yang salah, gunakan jari Anda untuk memeriksa arah gulungan kondom terlebih dahulu. Periksa arahnya sedikit saja, namun jangan membuka keseluruhan gulungan kondom dengan jari Anda. Kalau sudah menemukan arah yang benar, pasang kondom pada penis. Pastikan bahwa Anda telah mencuci tangan dan memotong kuku sebelum melakukan hal ini.

Demikianlah alasan mengapa kondom yang terbalik sebaiknya tidak digunakan ulang. Dengan memperhatikan petunjuk tadi dan sering berlatih, mudah-mudahan Anda akan lebih terbiasa menggunakan kondom secara tepat dan konsisten. Selain itu, jika Anda ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Spotting Bukan Berarti Tak Cocok dengan Pil KB, Ini Penjelasannya

Bagi Anda yang baru menggunakan pil KB, Anda mungkin pernah khawatir dengan munculnya bercak-bercak darah di luar jadwal menstruasi Anda. Ternyata, bercak-bercak darah yang juga dikenal sebagai spotting bisa muncul tanpa adanya gangguan kesehatan (Hill, 2019). Adanya spotting bukan berarti tubuh Anda tidak cocok dengan pil KB, sebab spotting merupakan efek samping yang normal saat tubuh pertama kali beradaptasi dengan masuknya hormon. Berikut penjelasannya.

Pil KB ada dua jenis, yaitu pil kombinasi dan pil KB Laktasi. Jika pil kombinasi mengandung hormon estrogen dan progesteron, pil laktasi hanya mengandung progesteron saja. Keduanya sama-sama efektif untuk mencegah kehamilan.

Salah satu efek samping penggunaan pil KB adalah spotting. Spotting bisa terjadi hingga 3-6 bulan sejak Anda pertama kali meminum pil, ketika Anda berganti jenis pil, atau ketika dosis pil yang Anda konsumsi berubah (Santos-Longhurst, 2019, Healthline; Nall, 2018, Medical News Today). Setelah itu, spotting akan berakhir dengan sendirinya tanpa intervensi apapun.

Spotting tidak dialami oleh semua orang yang mengonsumsi pil KB, namun menurut penelitian sekitar 30-50% pengguna pil KB mengalaminya di awal pemakaian. Di bulan ketiga pemakaian, persentasenya menurun menjadi 10-30% (Villavicencio & Allen, 2016). Artinya, tubuh biasanya cukup cepat beradaptasi dengan hormon.

Jika jenis pil yang Anda gunakan adalah pil laktasi, spotting cenderung lebih sering terjadi apabila pil tidak diminum pada jam yang sama setiap harinya. Spotting juga bisa muncul di hari di mana Anda lupa meminum pil KB (Santos-Longhurst, 2019, Healthline). Ini merupakan efek samping yang normal dan tidak perlu Anda khawatirkan. Meskipun begitu, usahakan untuk selalu disiplin mengonsumsi pil KB pada jam yang sama setiap harinya untuk mengurangi risiko kehamilan yang tidak direncanakan.

Walaupun spotting akibat pemakaian kontrasepsi hormonal merupakan efek samping yang normal, ada kalanya spotting disebabkan oleh hal-hal lain yang lebih serius. Infeksi menular seksual (IMS), radang panggul, endometriosis, dan fibroid juga bisa menyebabkan spotting. Jika Anda mengalami hal-hal di bawah ini, sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter (Nall, 2018; Medical News Today):

  • Spotting lebih dari seminggu setelah mengonsumsi pil KB lebih dari 6 bulan.
  • Volume darah yang keluar sangat banyak sehingga harus menggunakan pembalut dan menggantinya dalam 2 jam.
  • Spotting diikuti dengan rasa sesak di bagian dada, pusing, gangguan penglihatan, dan nyeri di bagian kaki

Baca juga: 6 Alasan Krusial Mencegah Kehamilan di Tengah COVID-19

Begitulah sekilas penjelasan mengenai spotting ketika mengonsumsi pil KB. Selain itu, jika Anda ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Bahaya Menggunakan Bedak Saat Keputihan

Bedak merupakan produk yang banyak dipakai sehari-hari, baik untuk perawatan kecantikan, penghilang bau badan, maupun pencegah lecet. Beberapa orang mungkin memiliki kebiasaan menaburkan bedak di pakaian dalam atau di sekitar area vulva, entah untuk menghilangkan bau tidak sedap dari vagina atau untuk mengatasi keputihan. Ternyata menaburkan bedak di organ reproduksi bisa sangat berbahaya bagi kesehatan. Berikut penjelasannya.

Sebagian besar jenis bedak mengandungtalk. Talk merupakan sejenis mineral yang ditemukan di bawah permukaan tanah. Karena teksturnya yang lembut, talk sering digunakan dalam berbagai produk kosmetik (Rabin, 2018, NY Times). Salah satunya adalah bedak tabur. Masalahnya, proses ekstraksi talk dari bawah tanah seringkali menyebabkan talk terkontaminasi dengan asbes yang bisa menyebabkan kanker. Akibatnya, penggunaan bedak bisa menyebabkan kanker paru-paru, tumor, dan kanker ovarium (Gordon, Fitzgerald & Millette, 2014).

Untuk mengurangi risiko terkena kanker ovarium, jangan menggunakan bedak tabur pada vulva ataupun pada vagina. Kenyataannya, vagina memiliki caranya sendiri untuk menjaga keseimbangan bakteri baik yang memang dibutuhkan untuk kesehatannya. Bahkan keputihan pun merupakan sesuatu yang normal (Dweck & Westen, 2017).

Keluarnya keputihan merupakan salah satu cara vagina untuk membersihkan diri dari jamur, bakteri jahat, parasit, dan ancaman-ancaman lainnya yang berpotensi mengganggu kesehatan organ reproduksi. Pada umumnya, keputihan adalah tanda bahwa tubuh Anda sehat. Meskipun begitu, ada kalanya keputihan menandakan penyakit, misalnya bacterial vaginosis, trikomoniasis, infeksi jamur candida, serta beberapa jenis infeksi menular seksual (IMS). Cara membedakan keputihan yang sehat dan keputihan yang tidak normal adalah melalui bau, warna, dan teksturnya. Idealnya, keputihan yang sehat terlihat bening, tidak berbau, volumenya tidak terlalu banyak, dan tidak menyebabkan rasa sakit atau gatal. Jika Anda memiliki keluhan dan mencurigai adanya keputihan yang tidak normal, langkah yang tepat adalah berkonsultasi dengan dokter. Terkadang orang seringkali malu karena keputihan sehingga mereka membersihkannya sebelum kunjungan ke dokter. Hindari hal ini, sebab dokter perlu mengetahui informasi seperti ada tidaknya bau pada keputihan untuk memberikan diagnosis (Hill, 2019). Kalaupun Anda sudah terlanjur melakukannya, sampaikan pada dokter Anda informasi mengenai bau, tekstur, serta warna keputihan sebelum dibersihkan.

Jika Anda memang ingin mencegah keputihan yang tidak normal, ada banyak cara yang lebih aman daripada menggunakan bedak tabur, misalnya:

  • Memilih pakaian dalam dengan sirkulasi udara yang baik, misalnya yang berbahan katun. Gantilah pakaian dalam secara rutin.
  • Disiplin mengganti pembalut atau tampon saat menstruasi. Jika Anda menggunakan menstrual cup, pastikan bahwa cup selalu bersih dan steril sebelum dipakai. Jangan membiarkan cup di dalam vagina lebih lama dari waktu yang disarankan di petunjuk pemakaiannya.
  • Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten setiap kali berhubungan seks agar tidak terkena IMS.
  • Menggunakan sabun Andalan Feminine Care yang mengandung prebiotik apabila diperlukan, untuk membantu menjaga pH dalam vagina dan menjaga kebersihannya

Baca juga: Keputihan? Jangan Sembarangan Membeli Jamu dan Obat Herbal

Begitulah sekilas penjelasan mengenai bahaya menggunakan bedak saat keputihan dan langkah yang sebaiknya Anda lakukan jika Anda mencurigai bahwa keputihan Anda merupakan gejala penyakit. Selain itu, jika Anda ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.