Cegah Infeksi Saluran Kemih dengan Kontrasepsi, Apakah Bisa?

Setiap tahunnya, sebanyak 250 juta orang di seluruh dunia terkena infeksi saluran kemih (ISK). ISK bisa menyerang laki-laki dan perempuan, namun perempuan dewasa memiliki risiko terkena ISK 30 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan laki-laki dewasa (Mohiuddin, 2019). Jika terlambat ditangani atau terjadi komplikasi, ISK bisa berakibat fatal. Berikut sekilas penjelasan mengenai ISK dan strategi pencegahannya.

Saluran kemih manusia terdiri dari sepasang ginjal, saluran ureter, kandung kemih, dan saluran kencing alias uretra. ISK adalah infeksi yang menyerang salah satu atau beberapa bagian dari saluran kemih tadi. Dibandingkan dengan laki-laki, uretra perempuan lebih pendek, sehingga bakteri lebih mudah menjalar ke bagian dalam saluran kemih dan menyebabkan infeksi. Apalagi, posisi uretra secara fisik berdekatan dengan anus, di mana banyak terdapat bakteri. Apabila seseorang terkena ISK, ada beberapa gejala yang bisa muncul, yaitu sebagai berikut (Dweck & Westen, 2017).

  1. Timbul rasa nyeri saat buang air kecil
  2. Merasa harus bolak-balik buang air kecil
  3. Warna urin berubah menjadi kemerah-merahan atau keruh akibat nanah
  4. Muncul rasa sakit di bagian bawah panggul atau di sekitar tulang pubis
  5. Hanya bisa buang air kecil sedikit-sedikit saja meskipun sudah merasa kebelet
  6. Merasa lemah dan lelah
  7. Perut bagian bawah terasa berat seperti ada tekanan
  8. Nyeri di salah satu sisi punggung belakang bagian tengah, tepatnya di posisi ginjal
  9. Apabila infeksi sudah agak berkelanjutan, bisa terjadi demam, meriang, mual atau muntah, disertai dengan munculnya darah dalam urin

Salah satu cara untuk mengurangi kemungkinan terkena ISK adalah dengan menggunakan alat kontrasepsi, yaitu kondom. Faktanya, meskipun ISK bukan merupakan infeksi menular seksual (IMS), risiko terjadinya ISK meningkat seiring dengan seringnya seseorang berhubungan seks. Hal ini terjadi karena bakteri bisa terdorong masuk ke lubang saluran kencing alias uretra saat hubungan seks terjadi (Westheimer & Lehu, 2019). Jika Anda ingin menggunakan kondom untuk mencegah ISK, gunakan kondom tanpa spermisida, sebab spermisida bisa meningkatkan risiko terkena ISK (Bergamin & Kiosoglous, 2017).

Untuk perlindungan maksimal, pastikan Anda mengganti kondom untuk setiap tindakan seksual yang berbeda, baik seks oral, vaginal, maupun anal. Soalnya, menggunakan kondom yang sama tanpa diganti terlebih dahulu atau bahkan tidak menggunakan kondom sama sekali ketika melakukan lebih dari satu tindakan seksual yang berbeda bisa memicu ISK.

Baca juga : Kondom Terbalik Saat Mau Dipakai, Bolehkah Digunakan Ulang?

Di samping menggunakan kondom, beberapa cara lain yang bisa Anda terapkan untuk mencegah ISK antara lain (Westheimer & Lehu, 2019):

  • Menjaga kebersihan organ reproduksi bagian luar, baik penis maupun vulva
  • Cebok dari depan ke belakang agar bakteri dari anus tidak terbawa ke uretra
  • Buang air kecil setelah berhubungan seks agar bakteri yang sempat terbawa masuk bisa langsung keluar dari uretra

Itulah penjelasan mengenai beberapa cara untuk mencegah ISK. Jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai topik ini, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang Anda sampaikan dijamin kerahasiaannya.