Sildenafil Citrate atau Pil Biru, Bisakah Jadi Solusi Faktor Kesuburan Laki-laki?

Pada awal tahun 1990an, sebuah uji klinis dilakukan demi mencari obat untuk mengatasi penyakit jantung, nyeri pada dada yang diakibatkan oleh kurangnya aliran darah. Penelitian tersebut tidak berhasil, sehingga akhirnya dihentikan. Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan kemudian terjadi. Para peserta penelitian malah protes, mendesak agar obat yang dihasilkan tidak dibatalkan pengembangannya. Ternyata, mereka mengalami efek samping yang luar biasa, yaitu ereksi penis yang jauh lebih mantap. Peneliti pun berubah haluan, tak lagi berusaha mengembangkan obat tersebut untuk jantung, namun berfokus untuk membantu masalah ereksi. Inilah awal mula terciptanya ‘obat kuat’ alias ‘Sildenafil Citrate atau Pil Biru’ (Spitz, 2018), salah satu solusi faktor kesuburan laki-laki.

Sildenafil Citrate, kandungan dalam Pil Biru, bekerja dengan memperlancar aliran darah ke seluruh anggota tubuh, termasuk ke dalam penis. Khasiatnya sebagai salah satu solusi faktor kesuburan laki-laki sudah sangat banyak terdokumentasikan. Berikut ini beberapa temuannya.

  • Mengatasi impotensi akibat stres (Jannini, Lombardo, et al., 2004)
    Sebagian dari penyebab impotensi adalah stres. Stres dan kecemasan bisa mengganggu sinyal dari otak untuk mengirim aliran darah yang lebih banyak ke penis. Alhasil, penis jadi sulit tegang. Nah, Sildenafil Citrate atau Pil Biru membantu mengatasi kendala ini dengan memperlancar aliran darah ke penis.
    Sildenafil Citrate atau Pil Biru, Bisakah Jadi Solusi Faktor Kesuburan Laki-laki?

  • Meningkatkan kesuksesan dalam berhubungan seks (McCullough, Barada, et al., 2002
    Sekadar bisa ereksi saja belum cukup. Ereksi harus bisa bertahan cukup lama hingga hubungan seks bisa selesai dengan sukses. Dengan menggunakan Sildenafil Citrate atau Pil Biru secara tepat, persentase kesuksesan dalam berhubungan seks bisa meningkat hingga 82%. Meskipun begitu, Anda tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengontrol berbagai faktor risiko, sebab kemungkinan sukses saat menggunakan Sildenafil Citrate atau Pil Biru bisa berkurang jika Anda memiliki lebih dari satu penyakit bawaan.
    Sildenafil Citrate atau Pil Biru, Bisakah Jadi Solusi Faktor Kesuburan Laki-laki?

  • Meningkatkan kemungkinan terjadinya pembuahan sel telur oleh sperma (Plessis, Hons & Franken, 2004; Jannini, Lombardo, et al., 2004).
    Untuk bisa terjadi kehamilan, sperma laki-laki harus mampu berenang dari dalam vagina melalui leher rahim hingga ke tuba falopi tempat dilepasnya sel telur perempuan, melekat pada sel telur, serta melakukan penetrasi untuk menjebol sebagian dari dinding sel telur. Masalahnya, tidak semua sperma bisa bergerak secara aktif dan memiliki ketahanan yang baik. Dengan mengonsumsi Sildenafil Citrate atau Pil Biru, kemampuan sperma untuk bergerak meningkat, lebih banyak sperma bisa melalui lendir rahim, serta melekat pada sel telur.
    Sildenafil Citrate atau Pil Biru, Bisakah Jadi Solusi Faktor Kesuburan Laki-laki?

Baca juga : ‘Kepanasan’, Salah Satu Faktor yang Bisa Mengurangi Kesuburan Laki-laki, Benarkah?

Itulah beberapa penjelasan mengenai manfaat Sildenafil Citrate atau Pil Biru sebagai salah satu kunci faktor kesuburan laki-laki. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Sehabis Pasang KB Susuk Tak Boleh Kerja Berat, Betulkah?

Sebagai perempuan yang sedang fokus dalam mengejar karir dan cita-cita, memiliki kontrasepsi yang bisa diandalkan telah menjadi sebuah kebutuhan. Oleh karena itu, tak mengherankan jika banyak yang memilih menggunakan KB susuk alias implan. Dengan efektivitas hingga 99% dalam mencegah kehamilan (Hill, 2019), kinerja KB susuk tak perlu diragukan lagi. Meski demikian, sering juga kita dengar bahwa perempuan tidak boleh melakukan pekerjaan berat sehabis memasang KB susuk. Betulkah informasi tersebut? Berikut pembahasannya.

Sehabis Pasang KB Susuk Tak Boleh Kerja Berat, Betulkah?

KB susuk merupakan alat kontrasepsi hormonal berisi hormon progesteron yang dimasukkan oleh tenaga medis terlatih di bawah permukaan kulit pada bagian lengan atas (Dweck & Westen, 2017). Ukurannya mungil seperti batang korek api. Sekali pasang, KB susuk bisa memberi perlindungan hingga 3-4 tahun, tergantung dari produk yang digunakan. Sebagai contoh, salah satu brand KB susuk ternama di Indonesia, Andalan Implan dengan 75 mg Levonorgestrel (hormon progesteron) per batang, bisa dipakai hingga 4 tahun. Selain itu, KB susuk juga dapat dilepaskan kembali oleh dokter atau bidan dengan mudah kapanpun bila penggunanya memutuskan untuk tidak menunda kehamilan lagi .

Nah, di kalangan awam, orang seringkali khawatir mengenai boleh-tidaknya bekerja berat setelah pemasangan KB susuk, sebab KB susuk dipasang di bagian lengan. Faktanya, Anda tetap boleh beraktivitas dengan bebas meskipun menggunakan KB susuk. Soalnya, pemasangan KB susuk merupakan tindakan medis yang sangat sederhana, cepat, dan tidak membutuhkan operasi. Di hari yang sama dengan pemasangan KB susuk, Anda bisa langsung kembali ke kantor. Bahkan, menurut informasi dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Universitas Colorado, Amerika Serikat, aktivitas-aktivitas berat seperti berolahraga, push-up, dan mengangkat beban juga aman dilakukan setelah pemasangan KB susuk.

Jadi, tak perlu cemas, sebab pemasangan KB susuk tidak akan mengganggu produktivitas Anda. Justru dengan KB susuk, produktivitas Anda bisa semakin meningkat. Anda dapat lebih memusatkan perhatian dan energi pada pekerjaan dan target yang ingin dicapai. Tak ada lagi yang membatasi kebebasan Anda.

Begitulah penjelasan singkat mengenai boleh-tidaknya melakukan pekerjaan berat ketika menggunakan KB susuk. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan, ingin berkonsultasi lebih lanjut, atau ingin segera mencari kontak Bidan Andalan untuk melakukan pemasangan KB susuk, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Bercinta Tanpa Kontrasepsi Saat Menstruasi, Apakah Bisa Hamil?

Banyak orang yang meyakini bahwa bila mereka bercinta di kala datang bulan, maka pasti akan aman dari risiko kehamilan. Faktanya, meskipun risiko hamil berkurang secara signifikan jika hubungan seks dilakukan saat menstruasi, cara tersebut bukanlah jaminan untuk menghindari kehamilan (Westheimer & Lehu, 2019). Berikut sekilas penjelasannya.

  • Sperma bisa bertahan hidup di dalam tubuh selama beberapa hari
    Meski di berbagai buku teks, lamanya siklus menstruasi standar adalah tepat 28 hari, kenyataannya hanya 12,4% orang yang siklus menstruasinya terjadi setiap 28 hari sekali (Hill, 2019). Banyak yang siklusnya lebih panjang, banyak juga yang lebih pendek. Bila siklus menstruasi seseorang sangat pendek dan ia berhubungan seks di hari-hari terakhir menstruasinya, terdapat kemungkinan bisa terjadi kehamilan. Soalnya, jarak waktu antara masa tidak subur dan masa subur sangat tipis, sementara sperma bisa bertahan hidup di dalam tubuh hingga 5 hari setelah berhubungan seks.
    Bercinta Tanpa Kontrasepsi Saat Menstruasi, Apakah Bisa Hamil?
  • Tidak semua darah yang keluar dari vagina adalah menstruasi.
    Salah menginterpretasikan bercak darah yang keluar sebagai menstruasi bisa menyebabkan kehamilan (Westheimer & Lehu, 2019). Padahal, tidak semua darah yang keluar dari vagina adalah menstruasi. Terkadang, vagina juga bisa mengeluarkan darah justru di tanggal ovulasi, yaitu hari paling subur di mana sel telur dilepaskan dari indungnya. Selain itu, bisa saja darah yang keluar adalah akibat faktor lain, seperti spotting karena stres atau infeksi tertentu.
    Bercinta Tanpa Kontrasepsi Saat Menstruasi, Apakah Bisa Hamil?
  • Menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman dan lebih disarankan
    Walaupun risiko kehamilan bila berhubungan seks di masa menstruasi sangat rendah, akan tetap lebih baik bila Anda dan pasangan menggunakan kontrasepsi. Dengan perkembangan teknologi, efektivitas alat-alat kontrasepsi modern dalam mencegah kehamilan sudah sangat tinggi. Artinya, kontrasepsi merupakan cara paling aman untuk menunda bila Anda dan orang yang Anda kasihi memang sama sekali tidak siap untuk menimang anak. Beberapa jenis kontrasepsi yang bisa Anda gunakan misalnya IUD, implan, suntikan KB, pil KB, dan kondom. Akan tetapi, bila memang Anda sudah terlanjur berhubungan seks di masa menstruasi dan amat khawatir akan risiko kehamilan, Anda bisa menggunakan pil kontrasepsi darurat. Kontrasepsi darurat seperti Andalan Postpil  dapat mencegah kehamilan jika diminum maksimal 120 jam setelah hubungan seks. Semakin cepat diminum, semakin tinggi efektivitasnya.
    Bercinta Tanpa Kontrasepsi Saat Menstruasi, Apakah Bisa Hamil?

Baca juga : Bolehkah Berenang Bila Menggunakan IUD? Ini Penjelasannya

Itulah sekilas penjelasan mengenai risiko kehamilan bila berhubungan seks di masa menstruasi. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Sering Disamakan, Ternyata Ini Perbedaan HIV dan AIDS

Walaupun sudah bertahun-tahun dikenal di seluruh penjuru dunia, masih banyak orang yang belum mengetahui perbedaan antara HIV dan AIDS. Keduanya seringkali disamakan. Padahal, memahami perbedaan tersebut sangat penting, terutama dalam mengambil langkah pencegahan dan penanganan yang tepat.

Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan suatu kondisi di mana imunitas tubuh mulai terganggu secara bertahap hingga lebih mudah terkena infeksi dan bisa berakibat fatal (Dweck & Westen, 2017). HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. Akan tetapi, memiliki HIV belum tentu sudah terkena AIDS.

Seseorang dikatakan sudah hidup dengan AIDS hanya apabila sistem imun tubuhnya telah rusak akibat HIV. Artinya, sudah tidak ada lagi sistem pertahanan yang melindungi badan dari berbagai macam penyakit, sehingga penyakit yang pada umumnya terkesan sepele pun bisa menjadi sesuatu yang mengancam nyawa. Bila seseorang berstatus positif HIV, maka masih bisa ditangani agar tidak sampai ke tahap AIDS. Caranya adalah melalui terapi antiretroviral (ARV).

ARV bekerja dengan mencegah pertumbuhan dan perkembang-biakan virus HIV. Jumlah virus HIV di dalam tubuh dikenal dengan istilah viral load. Jika seseorang mengonsumsi obat ARV, viral load dalam tubuhnya akan menurun. Apabila penurunannya hingga level yang tak terdeteksi melalui tes, maka HIV tidak bisa menular (Westheimer & Lehu, 2019), meskipun sebenarnya virus tersebut masih ada di tubuh orang yang bersangkutan dalam jumlah yang sangat rendah. Inilah mengapa ada istilah TD = TM, yang artinya Tidak Terdeteksi = Tidak Menular, atau yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan U=U, Undetected = Untransmittable.

Terapi ARV hanya bisa untuk mengontrol saja, namun tak bisa menyembuhkan hingga orang dengan HIV (ODHIV) bisa 100% lepas dari obat-obatan. Dengan ARV, ODHIV bisa berumur panjang dan berada dalam kondisi sehat. Akan tetapi, ARV harus diminum secara terus-menerus dan tidak boleh dihentikan. Alhasil, beban finansial yang ditanggung oleh ODHIV seringkali cukup besar.

Oleh karena itu, pencegahan sebaiknya dilakukan sejak awal, sebelum HIV masuk ke dalam tubuh. Beberapa langkah yang bisa diterapkan untuk mencegah HIV adalah sebagai berikut.

  • Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten ketika berhubungan seks
  • Tidak berbagi jarum suntik, pisau cukur, silet, dan sebagainya
  • Mengonsumsi obat preexposure prophylaxis (PrEP) untuk melindungi diri apabila memiliki pasangan yang berstatus positif HIV
  • Melakukan tes HIV untuk mengetahui status diri sendiri dan pasangan
  • Bila sudah berstatus positif HIV, sebaiknya menjalani terapi ARV agar mengurangi risiko penyebaran HIV ke pasangan dan / atau anak

Baca juga : Kesetaraan Gender sebagai Kunci Persoalan HIV/AIDS, Apa Kaitannya?

Itulah sekilas pembahasan mengenai perbedaan HIV dan AIDS, mudah-mudahan Anda jadi lebih memahaminya. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Pasutri Positif HIV, Bisakah Punya Anak dengan Status Negatif HIV?

Meski perkembangan teknologi medis telah mampu menyediakan obat-obatan yang dapat memberikan umur panjang dan kehidupan yang relatif sehat bagi orang-orang dengan HIV (ODHIV), stigma negatif seringkali menghambat berbagai upaya yang dilakukan ODHIV untuk memperoleh kehidupan yang normal. Salah satunya adalah persepsi yang muncul ketika ODHIV ingin menjalin kasih dan membangun keluarga. Pasalnya, banyak orang yang khawatir bahwa pasutri yang merupakan ODHIV tak bisa memiliki anak berstatus negatif HIV.

Faktanya, dengan perencanaan yang matang dan konsultasi medis yang tepat, hal ini sebenarnya bisa dicapai. Hanya saja, banyak yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Dengan demikian, semuanya akan berjalan lancar. Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan.

  • Melakukan konseling sebelum program kehamilan
    Agar Anda dan pasangan sama-sama mengetahui setiap langkah dari perencanaan kehamilan yang agak berbeda dari umumnya ini, ada baiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu. Dalam sesi konseling, Anda dan pasangan bisa membahas mengenai pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi, hal-hal yang perlu diperhatikan terkait perawatan bayi setelah melahirkan nanti, apa yang harus dilakukan apabila bayi tetap terinfeksi meski sudah dicegah secara maksimal, strategi bertahan di tengah stigma negatif yang mungkin muncul dari lingkungan sekitar, dan sebagainya. Beberapa topik yang perlu didiskusikan agak berat, sehingga Anda dan pasangan mungkin perlu menyediakan waktu yang cukup.
    Pasutri Positif HIV, Bisakah Punya Anak dengan Status Negatif HIV?
  • Menjalani terapi antiretroviral (ARV)
    Bercermin dari Thailand, negara pertama di Asia yang mampu memenuhi target WHO dalam menurunkan angka transmisi HIV dari ibu ke anak (Lolekha, Boonsuk, et al., 2016), maka calon ibu dengan HIV sebaiknya menjalani terapi ARV. Tujuannya adalah untuk menurunkan angka viral load hingga tak terdeteksi. Dengan viral load yang tak terdeteksi, kemungkinan HIV menyebar dari ibu ke bayi ketika melahirkan serta apabila menyusui jauh lebih rendah. Selain itu, bayi juga harus menjalani terapi ARV selama setidaknya 4 minggu.
    Pasutri Positif HIV, Bisakah Punya Anak dengan Status Negatif HIV?
  • Melahirkan melalui operasi caesar
    Salah satu jalur penyebaran HIV adalah melalui cairan vagina saat ibu melahirkan bayi. Oleh karena itu, operasi caesar (sesar) dapat mengurangi risiko transmisi HIV dari ibu ke anak, khususnya apabila viral load masih terdeteksi (Regan, 2019). Meskipun demikian, tentunya Anda dan pasangan harus berkonsultasi pada dokter terlebih dahulu.
    Pasutri Positif HIV, Bisakah Punya Anak dengan Status Negatif HIV?

Baca juga : Ini Realita HIV di Masa Pandemi dan Strategi Pencegahannya

Dengan segala persiapan tadi, pasutri positif HIV bisa memiliki anak berstatus negatif HIV. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Ini Lima Kemungkinan Penyebab Hubungan Seks Terasa Sakit

Seks adalah pengalaman yang seharusnya nikmat dan menyenangkan. Sayangnya, dyspareunia alias nyeri saat berhubungan seks cukup banyak dialami orang. Sebanyak 30% perempuan dan 5% laki-laki merasakannya (Herbenick, Schick, et al., 2015). Mengingat bahwa membicarakan seks dianggap tabu dalam banyak budaya, diprediksi bahwa jumlah orang yang merasa nyeri ketika berhubungan seks sebenarnya lebih banyak lagi, namun sebagian besar tidak pernah melaporkannya.

Ada banyak kemungkinan mengapa hubungan seks bisa terasa sakit. Berikut lima di antaranya.

  • Kurang pemanasan alias ‘foreplay
    Bercinta butuh waktu. Bila Anda dan pasangan Anda terlalu terburu-buru, belum tentu tubuh sudah siap untuk saling menyambut. Tubuh membutuhkan pemanasan terlebih dahulu, entah melalui ciuman yang membangkitkan gairah, gombalan maut, atau permainan erotis seperti Karna Sutra yang akan membuat pasangan Anda ketagihan.
    Ini Lima Kemungkinan Penyebab Hubungan Seks Terasa Sakit
  • Kurang pelumas
    Idealnya, tubuh Anda dan pasangan mengeluarkan cairan ‘pelumas’ sendiri. Penis mengeluarkan cairan pra-ejalukasi, sementara vagina mengeluarkan lendir dari rahim. Keduanya basah serta licin, sehingga bisa mengurangi gesekan antara penis dan vagina ketika penetrasi terjadi. Akan tetapi, masalahnya terkadang organ reproduksi bisa kurang basah, entah karena hasrat seksual yang rendah, kadar hormon yang kurang seimbang, atau efek samping dari penggunaan obat-obatan tertentu (Dweck & Westen, 2017). Anda dan pasangan Anda mungkin membutuhkan pelumas tambahan. Tak perlu khawatir, sebab ada banyak produk pelumas berbahan alami yang aman digunakan ketika berhubungan seks, misalnya Fiesta Intimate Lubricant dengan tiga varian, yaitu Natural, Aloe Vera, dan Strawberry.
    Ini Lima Kemungkinan Penyebab Hubungan Seks Terasa Sakit
  • Hubungan seks dilakukan atas dasar paksaan
    Seks akan jadi sulit dinikmati bila tidak dilakukan secara konsensual, atas dasar mau sama mau. Oleh karena itu, jangan memaksa pasangan bila ia sedang lelah atau tidak ingin berhubungan seks. Selain akan terasa menyakitkan, ini juga merupakan bentuk kekerasan seksual.
    Ini Lima Kemungkinan Penyebab Hubungan Seks Terasa Sakit
  • Organ reproduksi memiliki kondisi fisik tertentu
    Pada penis yang tidak disunat, phimosis atau kondisi kulit kulup yang terlalu ketat bisa membuat hubungan seks terasa menyakitkan bagi laki-laki (Goonewardene, Pietrzak, dan Albala, 2019). Bagi perempuan, nyeri saat berhubungan seks juga dialami oleh penderita vaginismus, suatu kondisi yang menyebabkan otot-otot di sekitar vagina menutup dengan ketat, sehingga penis jadi sulit masuk dan bila masih bisa masuk, hubungan seks terasa menyakitkan. Vaginismus juga menyebabkan perempuan jadi merasa takut dan cemas terhadap hubungan seks (Pacik & Geletta, 2017). Untuk mengatasi phimosis dan vaginismus, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter.
    Ini Lima Kemungkinan Penyebab Hubungan Seks Terasa Sakit
  • Terdapat infeksi
    Infeksi menular seksual (IMS) seperti chlamydia dan gonorrhea bisa membuat hubungan seks terasa menyakitkan (Dweck & Westen, 2017). Apabila terlambat ditangani, IMS juga bisa menyebabkan berbagai gangguan kesuburan. Oleh karena itu, Anda sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mencurigai adanya IMS. Sebagai langkah pencegahan, gunakan kondom secara tepat dan konsisten.
    Ini Lima Kemungkinan Penyebab Hubungan Seks Terasa Sakit

Baca juga : 5 Trik Memakai Kondom Tanpa Mengganggu Momen Bercinta

Itulah beberapa kemungkinan penyebab hubungan seks terasa sakit. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Masturbasi Perempuan, Apakah Normal?

Meskipun pembahasannya seringkali dianggap tabu, kenyataannya masturbasi merupakan aktivitas seksual yang banyak dilakukan orang. Tak hanya untuk laki-laki, perempuan pun ternyata turut melakukannya. Apakah masturbasi perempuan itu normal? Begini sekelumit penjelasannya.

Setiap orang memiliki hasrat seksual. Perempuan pun demikian. Sebuah penelitian menemukan bahwa perempuan memiliki tingkat fantasi seksual yang tinggi (Kasemy, Desouky & Abdelrasoul, 2016). Oleh karena itu, tak mengherankan jika perempuan juga memiliki kebutuhan untuk bermasturbasi.

Masturbasi perempuan adalah sesuatu yang normal. Melakukannya bisa dengan sex toys seperti vibrator, dildo, atau clit suction, bisa pula dengan jari jemari saja tanpa menggunakan alat apapun. Bila sebagian besar laki-laki melakukannya sebagai pengisi kekosongan ketika mereka tak bisa berhubungan seks, banyak perempuan justru melakukannya sebagai ‘pelengkap’ untuk menambah kenikmatan di samping dari melakukan hubungan seks dengan pasangan (Regnerus, Price & Gordon, 2017). Perempuan umumnya sulit mencapai orgasme dari penetrasi saja, sehingga kadang dibutuhkan rangsangan ekstra, khususnya di area klitoris. Nah, perempuan yang mengkombinasikan masturbasi dengan hubungan seks bersama pasangannya biasanya lebih mudah mencapai orgasme dan mendapatkan kenikmatan seksual yang lebih besar (Rowland, Hevesi, et al., 2020).

Agar terhindar dari risiko infeksi bakteri, virus, atau jamur, masturbasi sebaiknya dilakukan dengan cara yang aman. Soalnya, bila dilakukan sembarangan, dampaknya bisa buruk bagi organ reproduksi. Berikut beberapa tips masturbasi yang aman bagi perempuan.

  • Mencuci tangan terlebih dahulu dengan air bersih dan sabun antibakteri.
    Masturbasi Perempuan, Apakah Normal?
  • Memotong kuku hingga pendek dan terkikir halus.
    Masturbasi Perempuan, Apakah Normal?
  • Menggunakan sex toys / alat-alat yang memang didesain untuk aktivitas seksual, bukan sembarang objek seperti timun, terong, botol, dan benda-benda lainnya yang bisa mengandung zat-zat berbahaya.
    Masturbasi Perempuan, Apakah Normal?
  • Mencuci sex toys dengan air bersih atau mensterilkannya terlebih dahulu dengan UV sterilizer sesaat sebelum dan sesudah digunakan.
    Masturbasi Perempuan, Apakah Normal?
  • Melapisi sex toys dengan kondom berkualitas baik yang lolos standar mutu internasional. Beberapa produk kondom ternama di Indonesia misalnya Kondom Fiesta, Kondom Sutra, Kondom Andalan, dan Kondom Supreme. Belilah dari gerai terpercaya dan pastikan bahwa tanggal kadaluarsa kondom masih jauh.
    Masturbasi Perempuan, Apakah Normal?
  • Menggunakan lubricant atau pelumas dengan bahan yang sesuai dengan kondom dan sex toys. Hindari pelumas berbahan dasar minyak karena bisa merusak kondom. Selain itu, jangan menggunakan pelumas berbahan dasar silikon, sebab pelumas berbahan dasar silikon tidak kompatibel dengan sex toys yang sebagian besar terbuat dari silikon juga. Agar lebih aman, gunakan pelumas berbahan dasar air atau lidah buaya, misalnya Fiesta Natural, Strawberry, atau Aloe Vera.
    Masturbasi Perempuan, Apakah Normal?

Baca juga : Ini dia Kondom Enak yang Bisa Mempermudah Orgasme Perempuan

Pada akhirnya, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah bahwa masturbasi dilakukan dengan aman. Dengan demikian, organ reproduksi tetap sehat, dan Anda pun bisa menikmati prosesnya, baik ketika masturbasi dilakukan sendirian maupun bersama pasangan. Jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Keputihan Sedang Muncul, Bolehkah Berhubungan Seks?

Keputihan yang membasahi pakaian dalam seringkali membuat perempuan jadi merasa tidak nyaman beraktivitas. Salah satunya termasuk aktivitas seksual dengan pasangan. Hal yang cukup sering ditanyakan adalah: bolehkah berhubungan seks bila keputihan sedang muncul? Berikut sekilas pembahasannya.

Leukorrhea atau keputihan merupakan cairan yang tipis dan cenderung bening yang keluar dari vagina (Dweck & Westen, 2017). Berbeda dengan pemikiran masyarakat pada umumnya, adanya keputihan nggak selalu menandakan infeksi ataupun gangguan kesehatan. Tergantung dari ciri-ciri keputihan tersebut.

Bolehkah berhubungan seks ketika sedang keputihan? Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda harus memeriksa warna dan bau dari cairan keputihan yang muncul. Bila warnanya bening keputih-putihan, tidak berbau, serta tidak menimbulkan rasa gatal maupun nyeri, maka keputihan tersebut tergolong normal (Sari, 2017). Ketika keputihan normal, hubungan seks aman dilakukan. Sebaliknya, keputihan tanda jamur, bakteri atau virus akan cenderung keruh dengan warnanya kekuningan, kehijauan, atau keabuan. Teksturnya aneh, misalnya menyerupai saus keju atau susu basi. Baunya nggak sedap, seperti ada sesuatu yang jamuran atau amis. Tak jarang, keputihan tanda infeksi akan bercampur dengan darah. Selain itu, volume yang keluar pun mengganggu karena jauh lebih banyak, menyebabkan gatal-gatal, dan kemunculannya disertai dengan rasa sakit. Nah, kalau ini yang terjadi, maka sebaiknya Anda menghindari hubungan seks terlebih dahulu dan memeriksakan diri ke dokter kandungan atau bidan.

Bila keputihan Anda sebenarnya normal dan pasangan Anda tak mempermasalahkan hubungan seks dengan adanya keputihan tersebut, namun Anda sendiri malah merasa tidak nyaman, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan.

  • Mengganti pakaian dalam secara rutin. Pilihlah pakaian dalam berbahan katun dengan sirkulasi udara yang baik.
  • Menggunakan sabun pembersih khusus untuk membersihkan organ reproduksi bagian luar atau vulva, misalnya dengan menggunakan Andalan Feminine Care Fresh yang telah diformulasikan khusus dengan prebiotik dan kombinasi bahan alami yang teruji klinis.
  • Memakai tisu basah khusus, seperti Andalan Fresh Intimate Wipes, tisu higienis dan lembut berkandungan lactic adic dan lactoserum yang mampu menjaga keseimbangan pH di area vulva. Kandungan sirih, chamomile, aloe vera dan ekstrak peppermintnya pun memberikan rasa segar dan nyaman tanpa menyebabkan iritasi.
  • Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten ketika berhubungan seks untuk mengurangi risiko infeksi menular seksual (IMS). Bila menginginkan aroma segar, pilihlah kondom Fiesta Grape atau Fiesta Strawberry.

Baca juga : Bahaya Menggunakan Bedak Saat Keputihan

Itulah sekilas penjelasan mengenai boleh tidaknya berhubungan seks ketika keputihan sedang muncul. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Suami Bila Istri Ingin Ikut Program Keluarga Berencana (KB)

Bila Anda dibesarkan dengan keyakinan bahwa hal pertama yang harus dilakukan setelah berumah tangga adalah memiliki anak, sedangkan istri Anda memiliki prinsip yang berbeda, wajar saja kalau Anda merasa agak kaget dan bingung merespon keinginan istri. Perbedaan pandangan dalam pernikahan adalah sesuatu yang wajar. Meskipun begitu, segalanya tetap harus didiskusikan dengan kepala dingin dan pertimbangan yang matang. Berikut 3 hal yang sebaiknya Anda lakukan sebagai suami bila istri ingin ikut program Keluarga Berencana (KB).

  1. Mendengarkan alasan di balik keinginan istri untuk ikut program Keluarga Berencana (KB)
    Ingat bahwa dalam setiap keputusan untuk memiliki anak, istri adalah pihak yang akan memikul beban lebih berat, sehingga sudah sewajarnya Anda sebagai suami mendengarkan pendapatnya terlebih dahulu. Dialah yang nantinya harus mengandung dan melahirkan seorang anak. Belum lagi bila Anda bekerja penuh waktu dan berharap istri akan sepenuhnya mengasuh sang buah hati. Bisa saja, istri punya rencana yang sedang ia kejar seperti pendidikan atau karier yang penting bagi dirinya, sehingga ia ingin menunda terlebih dulu, meskipun ia juga ingin punya anak. Selain itu, bisa pula istri ternyata memiliki kondisi medis tertentu yang bisa menyebabkan kehamilan menjadi berisiko, sehingga banyak treatment yang perlu ia jalani sebelum tubuhnya siap untuk hamil. Ada banyak kemungkinan mengapa istri ingin berkontrasepsi. Oleh karena itu, diskusikanlah terlebih dahulu secara terbuka dan tanpa penghakiman. Jangan sampai istri merasa bahwa nilainya di mata Anda hanya terbatas pada kemampuannya menghasilkan keturunan.
    Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Suami Bila Istri Ingin Ikut Program Keluarga Berencana (KB)
  2. Mencari informasi mengenai program Keluarga Berencana (KB) yang sesuai
    Setelah Anda memahami alasan keinginan istri untuk mengikuti program KB, cari tahulah bersama-sama program KB yang sesuai dengan kebutuhan istri dan Anda. Jika Anda tak ingin menunda terlalu lama, sementara istri tak ingin terlalu cepat, mungkin Anda dan istri bisa mencari titik tengah. Ada banyak jenis alat KB dengan jangka waktu perlindungan yang berbeda. IUD melindungi penggunanya dari kehamilan hingga 10 tahun dan implan hingga 3 tahun, namun keduanya dapat dilepas kembali dengan mudah oleh dokter atau bidan bila Anda dan pasangan berubah pikiran dan ingin merencanakan kehamilan sebelum masa perlindungan berakhir. Untuk KB yang jangka waktunya lebih pendek, tersedia suntikan KB 1 bulanan dan 3 bulanan. Selain itu, ada juga pil KB yang tinggal diminum setiap hari dalam sebulan, serta kondom yang ampuh melindungi dari infeksi menular seksual (IMS) dan hanya perlu dipakai setiap kali berhubungan seks saja.
    Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Suami Bila Istri Ingin Ikut Program Keluarga Berencana (KB)
  3. Menemani dan mendukung istri
    Terakhir, ketika istri dan Anda sama-sama telah menemukan pilihan program Keluarga Berencana (KB) yang tepat, tunjukkan dukungan Anda. Temanilah istri ketika mengunjungi bidan atau dokter. Prosedur KB pada umumnya sangat sederhana dan nggak menyebabkan rasa sakit, namun istri mungkin merasa deg-degan karena belum pernah menjalaninya. Dengan kehadiran Anda di sisinya, ia akan merasa lebih nyaman.
    Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Suami Bila Istri Ingin Ikut Program Keluarga Berencana (KB)

Baca juga : Berbeda dengan di Masa Lalu, Ini 4 Kemudahan Program Keluarga Berencana di Era Modern

Demikianlah 3 hal yang bisa Anda lakukan sebagai suami bila istri ingin ikut program Keluarga Berencana (KB). Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?

Ketika mendengar istilah Keluarga Berencana (KB), kebanyakan orang langsung membayangkan seorang ayah, ibu, dan dua orang anak. Padahal, momen ideal untuk ikut program Keluarga Berencana (KB) sebenarnya jauh lebih fleksibel dan nggak harus menunggu datangnya kehadiran dua orang anak terlebih dahulu. Berikut sejumlah mitos populer mengenai waktu terbaik untuk ikut program Keluarga Berencana (KB) dan fakta di baliknya.

  • “KB hanya untuk usia 18 tahun ke atas.”
    Faktanya, remaja pun terkadang membutuhkan pelayanan KB. Soalnya, KB juga dipakai untuk membantu gejala-gejala yang seringkali muncul di masa pubertas. Beberapa contohnya adalah penggunaan pil KB untuk mengatasi menstruasi yang berlebihan, migrain saat menstruasi, dan mood yang kurang stabil (Brant, Ye, et al., 2017). Jadi, jangan serta-merta marah bila adik, keponakan, atau putri Anda yang masih remaja ingin berkonsultasi mengenai KB pada Anda karena ada temannya yang menggunakannya.
    Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?
  • “KB sebaiknya digunakan hanya bila sudah menikah.”
    Kalaupun Anda belum menikah atau tidak berniat untuk menikah, KB tetap sebaiknya digunakan apabila Anda sudah aktif secara seksual namun tidak siap untuk memiliki anak. Hubungan seks dengan kontrasepsi adalah hubungan seks yang bertanggung jawab dan tidak merugikan siapa-siapa. Sebaliknya, tanpa kontrasepsi akan ada banyak beban yang harus dipikul bila kehamilan yang tidak direncanakan sampai terjadi. WHO pun menyarankan penggunaan kontrasepsi untuk menurunkan angka aborsi tidak aman yang banyak terjadi di Asia (WHO, 2019).
    Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?
  • “Jika baru berumah tangga dan belum punya anak, jangan ikut KB dulu, soalnya nanti lebih susah punya anak.”
    Tak perlu khawatir, sebab ini hanya hoax belaka. Penelitian telah membuktikan bahwa mengikuti program Keluarga Berencana (KB) tidak akan mengurangi kesuburan Anda (Girum & Wasie, 2018). Kesuburan akan langsung kembali tak lama setelah program KB dihentikan. Jadi, Anda tetap bisa memiliki momongan.
    Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?
  • “Kalau usia sudah 40-an, nggak perlu pakai KB, karena nggak bakal hamil.”
    Meskipun risiko kehamilan lebih rendah, kemungkinan hamil tetap ada selama seorang perempuan belum memasuki masa menopause. Oleh karena itu, usia 40-an pun tetap merupakan waktu yang baik untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Justru, kehamilan di usia 40 tahun ke atas lebih berbahaya, karena berisiko menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, dan abnormalitas kromosom (Frederiksen, Ernst, et al., 2018).
    Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?

Baca juga : Tekanan Darah Tinggi? Ini 5 Metode Keluarga Berencana yang Baik bagi Anda

Dari beberapa poin tadi, bisa disimpulkan bahwa program KB dapat memberikan manfaat bagi pengguna dari berbagai kelompok usia, mulai dari masa pubertas hingga menopause. Jadi, tak perlu menunggu ‘waktu terbaik’, karena sebenarnya sama saja. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.