Sering Disamakan, Ternyata Ini Perbedaan HIV dan AIDS

Walaupun sudah bertahun-tahun dikenal di seluruh penjuru dunia, masih banyak orang yang belum mengetahui perbedaan antara HIV dan AIDS. Keduanya seringkali disamakan. Padahal, memahami perbedaan tersebut sangat penting, terutama dalam mengambil langkah pencegahan dan penanganan yang tepat.

Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan suatu kondisi di mana imunitas tubuh mulai terganggu secara bertahap hingga lebih mudah terkena infeksi dan bisa berakibat fatal (Dweck & Westen, 2017). HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. Akan tetapi, memiliki HIV belum tentu sudah terkena AIDS.

Seseorang dikatakan sudah hidup dengan AIDS hanya apabila sistem imun tubuhnya telah rusak akibat HIV. Artinya, sudah tidak ada lagi sistem pertahanan yang melindungi badan dari berbagai macam penyakit, sehingga penyakit yang pada umumnya terkesan sepele pun bisa menjadi sesuatu yang mengancam nyawa. Bila seseorang berstatus positif HIV, maka masih bisa ditangani agar tidak sampai ke tahap AIDS. Caranya adalah melalui terapi antiretroviral (ARV).

ARV bekerja dengan mencegah pertumbuhan dan perkembang-biakan virus HIV. Jumlah virus HIV di dalam tubuh dikenal dengan istilah viral load. Jika seseorang mengonsumsi obat ARV, viral load dalam tubuhnya akan menurun. Apabila penurunannya hingga level yang tak terdeteksi melalui tes, maka HIV tidak bisa menular (Westheimer & Lehu, 2019), meskipun sebenarnya virus tersebut masih ada di tubuh orang yang bersangkutan dalam jumlah yang sangat rendah. Inilah mengapa ada istilah TD = TM, yang artinya Tidak Terdeteksi = Tidak Menular, atau yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan U=U, Undetected = Untransmittable.

Terapi ARV hanya bisa untuk mengontrol saja, namun tak bisa menyembuhkan hingga orang dengan HIV (ODHIV) bisa 100% lepas dari obat-obatan. Dengan ARV, ODHIV bisa berumur panjang dan berada dalam kondisi sehat. Akan tetapi, ARV harus diminum secara terus-menerus dan tidak boleh dihentikan. Alhasil, beban finansial yang ditanggung oleh ODHIV seringkali cukup besar.

Oleh karena itu, pencegahan sebaiknya dilakukan sejak awal, sebelum HIV masuk ke dalam tubuh. Beberapa langkah yang bisa diterapkan untuk mencegah HIV adalah sebagai berikut.

  • Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten ketika berhubungan seks
  • Tidak berbagi jarum suntik, pisau cukur, silet, dan sebagainya
  • Mengonsumsi obat preexposure prophylaxis (PrEP) untuk melindungi diri apabila memiliki pasangan yang berstatus positif HIV
  • Melakukan tes HIV untuk mengetahui status diri sendiri dan pasangan
  • Bila sudah berstatus positif HIV, sebaiknya menjalani terapi ARV agar mengurangi risiko penyebaran HIV ke pasangan dan / atau anak

Baca juga : Kesetaraan Gender sebagai Kunci Persoalan HIV/AIDS, Apa Kaitannya?

Itulah sekilas pembahasan mengenai perbedaan HIV dan AIDS, mudah-mudahan Anda jadi lebih memahaminya. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.