Remaja Terlanjur Berhubungan Seks Tanpa Pengaman? Ini Kontrasepsi Darurat yang Bisa Dipertimbangkan Orang Tua

Sebagai orang tua, segala perasaan yang campur aduk bisa membuyarkan isi pikiran ketika mengetahui bahwa putra atau putri tercinta yang masih belia ternyata berhubungan seks dengan pacarnya. Apalagi, bila mengingat segala konsekuensi berbahaya dari kehamilan remaja. Menurut WHO, remaja berusia <16 tahun memiliki risiko kematian yang 4 kali lebih besar dibandingkan dengan yang berusia 20 tahunan bila harus mengandung dan melahirkan. Angka kematian bayi yang dikandung remaja pun 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang dikandung dan dilahirkan oleh perempuan dewasa. Belum lagi, bila terlibat dalam aborsi ilegal yang bisa mengancam nyawa. Dalam situasi ini, ketenangan dan kebijaksanaan orangtua diuji. Pertahankan kepala dingin, sebab masih ada solusi, salah satunya dengan menggunakan kontrasepsi darurat yang bisa mencegah kehamilan setelah terjadi hubungan seks tanpa pengaman.

  • Apa itu Pil kontrasepsi darurat?
    Pil kontrasepsi darurat atau ‘Postpil’ adalah pil yang bisa mencegah kehamilan hingga maksimal 5 hari setelah terjadinya hubungan seks tanpa pengaman (Dweck & Westen, 2017). Pil ini tidak boleh digunakan secara rutin, hanya untuk situasi darurat saja, soalnya kadar hormon di dalamnya jauh lebih tinggi daripada pil KB untuk kebutuhan sehari-hari. Cara mengonsumsinya adalah dengan diminum dua butir sekaligus. Setelah dikonsumsi, pil ini akan mengeluarkan hormon progesteron dalam dosis tinggi yang akan memberi sinyal pada tubuh untuk menunda pelepasan sel telur, sehingga sperma yang sudah terlanjur masuk ke dalam rahim tidak akan bisa membuahi sel telur. Efektivitasnya lebih tinggi bila segera dikonsumsi, sehingga sebaiknya diminum secepat mungkin. Bila sel telur sudah terlanjur dibuahi, pil ini tidak akan bisa membatalkan kehamilan. Untuk mendapatkan pil ini, dampingilah putri yang masih remaja untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Soalnya, meskipun pil ini aman bagi remaja, untuk memperolehnya tetap membutuhkan resep dokter.

  • IUD Tembaga
    IUD tembaga bisa digunakan untuk kontrasepsi sehari-hari, namun bisa juga dipakai dalam situasi darurat, asalkan dipasang hingga maksimal 5 hari setelah terjadinya hubungan seks tanpa pengaman. Alat kontrasepsi ini biasanya dipasang oleh dokter atau bidan di dalam rahim. Cara kerjanya adalah dengan mengeluarkan ion-ion tembaga yang bersifat toksik bagi sperma (Hill, 2019). Sekali pasang, IUD tembaga bisa melindungi pemakainya dari risiko kehamilan yang tidak direncanakan hingga 10 tahun, tergantung dari jenis yang dipilih. Kalau sudah tidak membutuhkan perlindungan dari kehamilan, IUD tembaga dapat dilepas sebelum masa perlindungannya berakhir dengan bantuan dokter atau bidan. Bila orang tua curiga anak sudah sering melakukan berbagai aktivitas seksual, IUD tembaga ini bisa menjadi pilihan yang baik, sebab bisa dilanjutkan pemakaiannya setelah situasi darurat kali ini berakhir dan mencegah terjadinya situasi yang sama lagi. Meskipun begitu, tetap upayakan untuk berdiskusi dengan anak mengenai hubungan yang sehat di usia remaja, agar anak terhindar dari perilaku seksual berisiko serta ancaman infeksi menular seksual.

Itulah dua jenis kontrasepsi darurat yang bisa dipertimbangkan orang tua bila remaja terlanjur berhubungan seks tanpa pengaman. Selain itu, jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, hubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 09.00 – 17.00 WIB.