Apakah Gejala HIV pada Pria dan Wanita Berbeda?

gejala-hiv

Gejala HIV (human immunodeficiency virus) memang bervariasi, tetapi sebenarnya pada pria dan wanita mirip.

Ketika tubuh terinfeksi HIV sebenarnya tidak ada perubahan spesifik yang dirasakan. Namun, banyak orang mengatakan ada gejala yang dirasakan pada satu bulan pertama, walau tidak menyadari bahwa itu adalah HIV.

Gejala tersebut mirip dengan penyakit flu biasa, misalnya saja demam, menggigil, kelenjar getah bening bengkak, hingga ruam kemerahan di kulit.

Baca Juga: Mengenal Gejala HIV Sesuai Perjalanan Penyakitnya

Karena gejalanya yang sangat umum tersebut, biasanya seseorang tidak merasa perlu untuk memeriksakan diri ke dokter. Selain itu, terkadang gejalanya datang dan pergi atau bisa memburuk dengan cepat.

Bila seseorang terpapar HIV, kemungkinan besar mereka juga terpapar infeksi menular seksual, seperti gonorrhea, klamidia, sifilis, atau trichomoniasis.

Para pria cenderung lebih cepat menyadari gejala infeksi menular seksual karena melihat ada luka kecil di organ genitalnya. Tetapi kebanyakan pria tidak langsung memeriksakan diri ke dokter.

Sebaliknya pada wanita, biasanya mereka tidak menyadari ada perubahan atau luka di organ vaginanya.

Selain itu, wanita yang terinfeksi HIV juga beresiko tinggi:

  • Infeksi jamur di vagina berulang
  • Infeksi lain di vagina, termasuk bakteri vaginosis
  • Perubahan siklus haid
  • Infeksi human papillomavirus (HPV) yang juga menyebabkan kutil kelamin dan memicu kanker leher rahim.

Meski tidak terkait dengan gejala HIV, tetapi wanita yang terinfeksi HIV juga bisa menularkan virusnya ke bayi saat kehamilan. Karena itu disarankan untuk mengonsumsi obat ARV yang dinyatakan aman untuk ibu hamil.

Ibu hamil yang mendapatkan terapi ARV beresiko lebih rendah untuk menularkan HIV ke bayinya, baik saat kehamilan atau persalinan. Menyusui juga bisa menjadi jalan penularan virus ini ke bayi.

Pengobatan

Terapi pengobatan harus dimulai begitu seseorang terdiagnosis HIV, berapapun jumlah virusnya (viral load).

Pengobatan utamanya adalah ARV (antiretroviral), kombinasi dari obat-obatan yang bekerja untuk menghentikan reproduksi virus. Terapi obat ini juga mencegah HIV berkembang menjadi AIDS dan menekan risiko penularan ke orang lain.

Baca Juga: Jangan Ragu Lakukan Tes HIV, Meski Belum Muncul Gejala HIV

Jika terapi yang dijalankan efektif, maka jumlah virusnya bisa “tidak terdeteksi”. Ini berarti seseorang masih terinfeksi HIV, tetapi jika dilakukan tes maka virusnya tidak terlihat walau virusnya masih ada dalam tubuh.

Meski begitu, jika pengobatan ARV dihentikan, jumlah virus bisa meningkat lagi dan HIV mulai menyerang sel CD4 (jenis sel darah putih yang menjadi bagian dari sistem kekebalan tubuh).

Kamu bisa berkonsultasi lebih jauh soal HIV ke Halo DKT, dengan menghubungi Halo DKT di nomor WhatsApp 0811-1-326459, atau melalui link: https://bit.ly/halodktwhatsapp, pada hari Senin hingga Jumat pukul 09.00 – 16.30 WIB. Jangan khawatir karena segala informasi yang kamu sampaikan bersifat rahasia.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya

kondom

Ketika Kondom Kedaluwarsa Lebih Cepat

Kondom kedaluwarsa jika tetap dipakai justru berbahaya untuk kesehatan. Kondom bisa berfungsi dengan optimal jika digunakan sebelum melewati tanggal kadaluarsanya. Tapi kebanyakan orang berpikir, definisi

Read More »