Kesetaraan Gender sebagai Kunci Persoalan HIV/AIDS, Apa Kaitannya?

kesetaraaan gender HIV AIDS

Menurut data UNAIDS, sebanyak 690.000 orang meninggal dunia karena AIDS pada tahun 2019 lalu. Dari sekian banyaknya faktor yang mempersulit upaya untuk menurunkan angka penyebaran HIV/AIDS, Anne Firth Murray, seorang aktivis hak asasi manusia sekaligus profesor dari Stanford University menyebutkan bahwa ketidak-setaraan gender merupakan akar dari peliknya permasalahan HIV/AIDS. Seperti apa kaitan HIV/AIDS dengan ketidak-setaraan gender dan bagaimana kesetaraan gender bisa menjadi kunci dari persoalan IMS yang satu ini? Berikut beberapa poin utamanya.

Baca juga : Vaksin HIV Berbasis mRNA Mulai Diuji Coba pada Manusia

  • Semakin tinggi pendidikan perempuan, semakin rendah angka pernikahan dini yang berisiko menyebarkan HIV/AIDS
    Perempuan, khususnya yang berusia muda, memiliki risiko terkena HIV/AIDS yang lebih tinggi daripada laki-laki. Selain karena faktor biologis organ reproduksi perempuan yang lebih rentan terhadap virus, secara sosial ketidak-setaraan gender juga menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih rawan. Salah satu faktor risiko terbesar dari HIV/AIDS di benua Afrika dan Asia adalah pernikahan, khususnya pernikahan dini. Akibat tekanan ekonomi, keluarga seringkali mendesak perempuan untuk berhenti bersekolah dan segera menikah agar tidak lagi menjadi tanggungan finansial mereka.
    Kecenderungannya, para perempuan muda yang terjebak dalam pernikahan dini tidak memiliki suara dan kekuatan untuk bernegosiasi dengan suami dalam berbagai aspek, termasuk hubungan seks. Bila suami berhubungan seks di luar pernikahan atau memiliki lebih dari satu istri, hal ini dianggap normal. Demikian juga jika suami berusia jauh lebih tua, pernah memiliki beberapa pasangan sebelumnya, dan memiliki riwayat infeksi menular seksual, istri kerap tidak bisa menolak. Perempuan seringkali nggak memiliki kontrol apapun dalam kehidupan seksual di pernikahan mereka. Padahal, risiko istri tertular HIV/AIDS dari suami sangat besar. Dengan memberikan perempuan kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan, lebih banyak perempuan muda akan menunda pernikahan dan hubungan seks hingga tamat bersekolah dan sudah dewasa, saat mereka sudah mampu membuat keputusan dan bernegosiasi, termasuk dalam hal memilih pasangan yang tepat, menggunakan kondom, dan menolak perilaku seksual berisiko.
    Kesetaraan Gender sebagai Kunci Persoalan HIV/AIDS, Apa Kaitannya?
  • Semakin tinggi tingkat literasi perempuan, semakin mudah perempuan mengakses informasi kesehatan yang dibutuhkan
    Informasi kesehatan mengenai HIV/AIDS, pencegahan, dan penanganannya sebenarnya telah tersedia dari berbagai sumber. Akan tetapi, seringkali informasi tadi tidak mencapai target populasi yang rentan, sebab kebanyakan perempuan yang paling tinggi risiko terkena HIV/AIDS-nya adalah perempuan yang buta huruf. Oleh karena itu, adanya kesetaraan gender dalam hal tingkat literasi juga sangat dibutuhkan.
    Kesetaraan Gender sebagai Kunci Persoalan HIV/AIDS, Apa Kaitannya?
  • Bila perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan karir yang layak, prostitusi ilegal yang berbahaya akan menurun
    Ketika perempuan tidak mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan, kemungkinannya untuk mendapatkan karir yang layak untuk mendukung kehidupannya sendiri jauh lebih rendah. Seringkali, hal ini membuat perempuan terjebak dalam prostitusi ilegal, di mana kesehatan dan kesejahteraan pekerja seks sama sekali tidak diperhatikan. Situasi ini pun turut berkontribusi terhadap peningkatan HIV/AIDS. Sebaliknya, dengan kesetaraan gender dalam pendidikan dan pekerjaan, perempuan bisa memperoleh pekerjaan yang lebih aman, baik untuk dirinya, dan baik untuk keluarganya.
    Kesetaraan Gender sebagai Kunci Persoalan HIV/AIDS, Apa Kaitannya?

Baca juga : Ini Realita HIV di Masa Pandemi dan Strategi Pencegahannya

Itulah beberapa alasan mengapa kesetaraan gender bisa menjadi kunci persoalan HIV/AIDS. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya