Olahraga dan Faktor Kesuburan Laki-laki, Seperti Apa Kaitannya?

Di tengah kesibukan bekerja, olahraga sudah menjadi kebutuhan. Selain untuk mempertahankan agar kondisi tubuh tetap fit, olahraga juga memiliki fungsi rekreasi untuk membantu melepas penat. Tak mengherankan jika banyak kantor mulai menyediakan peralatan dan ruangan untuk berolahraga atau memanjakan karyawan dengan jatah berlangganan fasilitas gym. Di bidang kesehatan reproduksi, olahraga memiliki dua wajah. Ada yang mengatakan bahwa olahraga membantu kesuburan, ada juga yang menyebutkan bahwa olahraga justru berdampak negatif terhadap faktor kesuburan laki-laki. Kira-kira pernyataan mana yang benar? Berikut sekilas pembahasannya.

Olahraga bisa menjadi kawan, bila pula menjadi lawan. Kuncinya adalah mengetahui proporsi yang tepat. Sebagai contoh, olahraga rutin terbukti bisa memberi dampak positif terhadap faktor kesuburan laki-laki. Orang-orang yang berolahraga teratur beberapa kali seminggu memiliki masalah ereksi yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang tidak berolahraga sama sekali, sementara itu, atlet ketahanan dengan rutinitas olahraga yang ekstrim cenderung mengalami inflamasi dan punya kadar hormon testosteron yang lebih rendah (Spitz, 2018).

Selain proporsi berolahraga, jenis olahraga juga bisa menentukan apakah olahraga tersebut akan mendukung atau justru memperburuk faktor kesuburan laki-laki. Jenis olahraga tertentu, seperti bersepeda, justru bisa menyakiti penis. Sebuah penelitian eksperimental menemukan bahwa bersepeda dengan intensitas rendah hingga tinggi selama 16 minggu mengurangi volume cairan semen, pergerakan sperma, bentuk sperma yang normal, kepadatan sperma, serta jumlah sperma (Behzad & Bakhtyar, 2015). Suhu tubuh di sekitar area testis cenderung meningkat selama bersepeda, sehingga jadi kurang mendukung produksi sperma. Bentuk sadel sepeda yang kurang ideal juga bisa menyebabkan saraf penis tergencet dan menimbulkan mati rasa (Spitz, 2018).

Meskipun proporsi dan jenis olahraga yang dipilih sudah benar, olahraga tersebut juga tidak akan bisa memberi dampak positif yang maksimal terhadap kesuburan jika gaya hidup secara umum masih negatif. Misalnya, jika masih banyak mengonsumsi alkohol, merokok, menggunakan obat-obatan terlarang, dan makan makanan yang kurang bergizi (Leisegang & Dutta, 2020). Intinya, jika ingin punya kesempatan yang lebih besar untuk melanjutkan keturunan, pola hidup secara keseluruhan harus diubah menjadi positif. Tak bisa setengah-setengah.

Baca juga: Cek IMS Berkala, Salah Satu Cara untuk Menjaga Faktor Kesuburan Laki-laki

Kalau masih kesulitan untuk punya anak meskipun sudah berkomitmen menerapkan gaya hidup yang sehat secara keseluruhan, ada baiknya berkonsultasi dengan ahli kesehatan reproduksi seperti dokter atau seksolog. Mungkin saja ada masalah lain yang ternyata mengganggu kesuburan. Selain itu, kamu pun juga bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Kamu bisa berkonsultasi dengan bebas, sebab segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
WhatsApp chat