Tipe Kontrasepsi IUD yang Perlu Wanita Ketahui

tipe-kontrasepsi-iud

Meski terdiri dari dua tipe namun kontrasepsi IUD tetap efektif mencegah terjadinya kehamilan hingga 98%.

Kontrasepsi IUD atau intrauterine device adalah yang paling digemari oleh wanita. Mengapa? Karena pemasangan yang praktis dan nyaris tanpa rasa sakit serta masa pemakaiannya cukup lama yaitu delapan sampai sepuluh tahun. Lantas bagaimanakah cara kerja kontrasepsi ini hingga efektif mencegah terjadinya kehamilan? Yuk wanita perlu tahu lebih detail tentang kontrasepsi IUD.

Baca Juga: Lima Keunggulan Fiesta Max Dotted, Si Alat Kontrasepsi ‘Berduri’

Agar lebih mengerti cara kerja kontrasepsi IUD haruslah diawali dengan mengetahui bahwa alat kontrasepsi ini terdiri atas dua jenis, yaitu kontrasepsi hormonal dan non hormonal. Kedua kontrasepsi berbentuk huruf ‘T’ ini bekerja dengan cara yang berbeda.

Kontrasepsi IUD non hormonal terdapat lapisan tembaga pada bagian vertikal dari bentuk huruf ‘T’. Secara perlahan lapisan tembaga itu akan dilepaskan dan membuat rahim menjadi tidak ramah untuk embrio berkembang. Sedangkan kontrasepsi hormonal mengandung hormon progesteron di dalamnya. Hormon ini juga dilepaskan secara perlahan hingga membuat lendir serviks lebih kental sehingga sperma kesulitan untuk bertemu sel telur. Alhasil kedua cara ini membuat tidak terjadinya pembuahan dan kehamilan.

Adapun kelebihan dari kontrasepsi IUD non hormonal adalah sangat aman digunakan oleh ibu menyusui. Contohnya IUD Andalan TCu 380A atau IUD Andalan Pospartum yang tidak mengandung hormon hingga tidak akan memengaruhi produksi ASI. Apalagi IUD ini memang didesain agar lebih mudah dipasang kepada ibu yang baru saja melahirkan. Dan masa pemakaian kontrasepsi IUD non hormonal biasanya lebih panjang dibanding kontrasepsi IUD hormonal, bisa delapan sampai sepuluh tahun. Selain aman untuk ibu menyusui, kontrasepsi IUD non hormonal juga cocok digunakan oleh wanita yang sensitif terhadap hormon progesteron. Hal yang harus diantisipasi jika kamu memilih kontrasepsi IUD non hormonal adalah aliran darah yang cukup deras selama menstruasi.

Sedangkan kelebihan dari IUD hormonal adalah bisa mengurangi terjadinya nyeri dan kram pada saat PMS. Tak hanya itu, kontrasepsi IUD hormonal pun bisa mengatasi aliran darah menstruasi yang deras. Adapun masa pemakaian kontrasepsi ini adalah antara tiga sampai lima tahun.

Lantas manakah yang paling bagus antara kontrasepsi IUD non hormonal dengan yang hormonal? Hal ini sangat tergantung pada kebutuhan kamu. Jika ada kondisi kesehatan yang membuatmu tidak bisa memilih kontrasepsi IUD hormonal, maka pilihlah kontrasepsi IUD non hormonal. Tapi jika tidak ada alasan khusus terkait kandungan hormon di dalam kontrasepsi, maka pilihlah kontrasepsi IUD non hormonal.

Baik kontrasepsi IUD hormonal maupun non hormonal, keduanya sangat ekonomis karena pemakaiannya cukup panjang, bahkan bisa sampai 8 tahun. Sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter kandungan atau bidan tentang pilihan kontrasepsi IUD mana yang tidak akan mengganggu kesehatan tubuh serta menjaga kualitas hidup kamu tetap baik. Ajak juga suami ketika berkonsultasi tentang kontrasepsi karena mereka wajib dilibatkan dalam merencanakan kehamilan. Ada juga persiapan pemasangan kontrasepsi IUD yang sering dilupakan yaitu melakukan pemeriksaan infeksi menular seksual atau IMS. Tujuannya untuk memastikan bahwa kamu sedang tidak mengalami infeksi tersebut. Sebab jika pemasangan kontrasepsi IUD dilakukan saat ada bakteri atau virus penyebab IMS, maka patogen ini bisa masuk ke dalam rahim dan memicu terjadinya infeksi yang lebih serius lagi.

Baca Juga: Remaja Terlanjur Berhubungan Seks Tanpa Pengaman? Ini Kontrasepsi Darurat yang Bisa Dipertimbangkan Orang Tua

Jika kamu ingin mencari tahu lebih detail tentang kontrasepsi IUD, segeralah konsultasi di HALO DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 atau klik link berikut https://bit.ly/halodktwhatsapp. Tenang, semua informasi pribadi akan dijaga baik. Yuk segera berkonsultasi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya