Waspadai Risiko Kehamilan Ektopik Akibat Infeksi Menular Seksual

infeksi menular seksual

Kehamilan ektopik akibat infeksi menular seksual bisa terjadi ketika infeksi menyebabkan radang di tuba falopi, lalu menimbulkan luka parut.

Mungkin kamu sering mendengar istilah kehamilan di luar kandungan. Secara medis, ini disebut kehamilan ektopik. Kamu perlu lebih waspada bila pernah mengalami infeksi menular seksual. Karena ternyata, ada risiko kehamilan ektopik akibat infeksi menular seksual yang diam-diam mengintai.

Baca Juga: Tiga Infeksi Menular Seksual Penyebab Keputihan, Apa Saja Ya?

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di tempat yang tidak seharusnya. Pada kehamilan normal, ovum (sel telur) yang telah dibuahi harusnya bergerak menuju rongga rahim, lalu melekat pada lapisan endometrium di rongga rahim. Pada kehamilan ektopik, ovum yang telah dibuahi malah menempel di tempat lain. Paling sering terjadi di tuba falopi. Bisa pula terjadi di rahim tapi di tempat yang tidak seharusnya, misalnya pada bagian atas rahim (interstisial), atau di bagian bawah dekat serviks (leher rahim). Kehamilan ektopik harus diterminasi oleh dokter, karena akan membahayakan keselamatan ibu.

Angka kejadian kehamilan ektopik memang tidak terlalu tinggi. Di Amerika Serikat, diperkirakan angkanya 0,03% dari seluruh populasi. Menurut WHO, angka di Indonesia pun tak jauh berbeda. Namun dari seluruh kehamilan, kejadian kehamilan ektopik diperkirakan mencapai 2% di AS. Angka kematian ibu yang disebabkan oleh kehamilan ektopik pun tidak main-main. Di seluruh dunia, diperkirakan bahwa kehamilan ektopik menyebabkan kematian ibu hingga 28%.

Risiko Kehamilan Ektopik akibat Infeksi Menular Seksual

Kehamilan ektopik paling sering terjadi akibat kondisi tertentu yang menghambat pergerakan ovum yang telah dibuahi, dari tuba falopi menuju rahim. Ovum yang telah dibuahi jadi terjebak dalam tuba falopi. Sering kali karena tuba falopi rusak akibat peradangan, atau bentuk tuba tidak seperti biasa, sehingga menyulitkan bagi ovum yang telah dibuahi untuk bergerak menuju rahim. Akibatnya, sel telur tersebut akhirnya melekat dan tumbuh di tuba falopi.

Ada banyak faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik. Salah satunya, infeksi menular seksual. Kehamilan ektopik akibat infeksi menular seksual bisa terjadi ketika infeksi menjalar hingga melewati serviks, ke organ reproduksi bagian atas.

Infeksi menular seksual seperti gonore atau klamidia bisa menimbulkan peradangan pada tuba falopi maupun organ-organ di sekitarnya, yang berada di area panggul. Ini dikenal juga sebagai penyakit radang panggul (PRP) atau pelvic inflammatory disease. Peradangan yang terjadi pada organ-organ panggul bisa menimbulkan luka parut pada tuba falopi. Akhirnya, rongga tuba falopi pun menyempit, sehingga ovum yang telah dibuahi bisa terjebak di sana.

Jadi, jangan anggap enteng ya bila kamu mengalami infeksi menular seksual. Tidak perlu malu berobat dan berkonsultasi ke dokter, apalagi khawatir dengan omongan julid orang lain. Kesehatan reproduksimu jauh lebih penting. Berobatlah segera bersama pasangan, sehingga penyakit bisa benar-benar tuntas, dan sembuh sebelum menjalar ke mana-mana. Bila kamu pernah mengalami infeksi menular seksual, kembalilah berkonsultasilah kembali ke dokter kandungan, untuk melihat apakah ada luka parut yang terbentuk di organ reproduksi. Dengan demikian, kamu mengetahui kondisi organ-organ panggulmu, dan bisa mempersiapkan kehamilan dengan lebih baik.

Kamu bisa memakai kondom untuk menghindari risiko kehamilan ektopik akibat infeksi menular seksual. Ada banyak pilihan kondom dari DKT yang bisa kamu pilih sesuai selera: Sutra, Fiesta, Andalan Kondom, dan Supreme.

Baca Juga: Penyakit Infeksi Menular Seksual yang Disebabkan Seks Anal

Kamu bisa berkonsultasi ke Halo DKT dengan menghubungi Halo DKT di nomor WhatsApp 0811-1-326459, atau melalui link: https://bit.ly/halodktwhatsapp, pada hari Senin hingga Jumat pukul 09.00 – 16.30 WIB. Jangan khawatir karena segala informasi yang kamu sampaikan bersifat rahasia.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya