Waspadai 3 Jenis Gangguan Makan yang Menyebabkan Menstruasi Tidak Teratur

Dengan standar kecantikan yang semakin tinggi dan maraknya tren menampilkan tubuh ideal di jejaring sosial, tak mengherankan bila banyak orang akhirnya terobsesi dengan pola makan yang kurang sehat. Padahal, pola makan yang tidak sehat bisa menyebabkan banyak masalah bagi tubuh, termasuk menstruasi tidak teratur serta ketidak-suburan. Berikut 3 contoh gangguan makan yang perlu diwaspadai menurut DSM-5, buku panduan diagnosis resmi para psikolog.

  • Anoreksia nervosa
    Orang dengan anoreksia memiliki persepsi yang tidak wajar mengenai bentuk tubuhnya sendiri. Meskipun sudah sangat kurus, ia masih merasa gemuk. Berbagai upaya akan ia lakukan untuk mencapai bentuk tubuh kurus yang diinginkan, mulai dari diet, memuntahkan makanan dengan sengaja, menggunakan obat-obatan pelancar buang air besar (BAB), dan / atau olahraga yang berlebihan.
    Menstruasi tidak teratur merupakan salah satu dampak dari anoreksia terhadap kesehatan reproduksi. Selain itu, orang yang memiliki anoreksia biasanya juga butuh waktu yang lebih lama sebelum dikaruniai keturunan (Winkler, Frolich, et al., 2016).
    Waspadai 3 Jenis Gangguan Makan yang Menyebabkan Menstruasi Tidak Teratur

  • Bulimia nervosa
    Seperti anoreksia, bulimia juga disertai dengan kebiasaan untuk memuntahkan makanan dengan sengaja, minum obat-obatan pelancar BAB, serta olahraga dan puasa berlebihan demi tubuh kurus. Bedanya, jika orang dengan anoreksia mengalami penurunan berat badan yang ekstrim akibat membatasi asupan makanan, orang-orang dengan bulimia tidak demikian. Pola makan tidak sehat dari bulimia ditandai dengan kebiasaan makan banyak dalam waktu cepat yang diikuti dengan rasa bersalah dan malu, kemudian mengeluarkan kembali secara paksa makanan yang sudah masuk ke dalam perut. Masalahnya, karena makanan hanya ‘lewat’ di lambung dalam waktu yang sangat singkat, tubuh tak sempat mencerna kandungan nutrisinya. Ini merupakan salah satu faktor penyebab menstruasi tidak teratur bagi orang-orang dengan bulimia. Meskipun dampaknya tidak separah anoreksia, bulimia tetap bisa mengurangi kesuburan (Tabler, Utz, et al., 2018).
    Waspadai 3 Jenis Gangguan Makan yang Menyebabkan Menstruasi Tidak Teratur

  • Binge-Eating Disorder (BED)
    Berbeda dengan anoreksia dan bulimia, orang-orang dengan BED justru terlalu banyak makan. Walaupun sedang tidak lapar, mereka bisa makan sangat cepat hingga kekenyangan. Bila setelahnya mereka merasa bersalah karena sudah makan secara berlebihan, cara mereka mengatasi perasaan yang membuat tidak nyaman tersebut adalah dengan makan lagi. Seperti anoreksia dan bulimia, BED juga bisa menyebabkan menstruasi tidak teratur (Algars, Huang, et al., 2014).

    Lalu, bila sudah terlanjur memiliki gangguan makan, apakah siklus menstruasi bisa kembali teratur? Dengan bantuan profesional, niat yang kuat, serta upaya yang konsisten, bisa.

    Sebagai contoh, sebanyak 50% penyintas anoreksia kembali menstruasi secara teratur setelah mereka berhasil menaikkan kadar lemak dalam tubuh hingga 23% (Winkler, Frolich, et al., 2016). Oleh karena itu, kalau kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami salah satu dari ketiga gangguan makan ini, usahakan untuk segera mencari bantuan psikolog dan dokter. Hindari penghakiman dalam bentuk apapun, sebab gangguan makan seringkali bersifat kompleks dan berakar pada masalah yang lebih serius.
    Waspadai 3 Jenis Gangguan Makan yang Menyebabkan Menstruasi Tidak Teratur

Baca juga: Menstruasi Tidak Teratur, Salah Satu Gejala PCOS

Itulah sekilas pembahasan mengenai gangguan makan yang bisa menyebabkan menstruasi tidak teratur. Selain itu, jika kamu masih punya pertanyaan, kamu bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Menstruasi Tidak Teratur, Salah Satu Gejala PCOS

Sudah terlambat 2 bulan, namun yang ditunggu-tunggu tidak juga tiba. Ketika akhirnya menstruasi kembali, sang ‘tamu bulanan’ seakan punya mood yang berubah-ubah. Terkadang ia keluar dengan lancar, terkadang pembalut putih bersih tanpa cairan apapun yang menempel. Terdengar familiar? Siklus menstruasi tidak teratur merupakan salah satu gejala dari PCOS. Apa itu PCOS dan seperti apa ciri-cirinya?

Menurut Repropedia, kamus khusus kesehatan reproduksi, PCOS atau polycystic ovary syndrome merupakan gangguan hormon yang banyak menyerang perempuan usia subur. Istilah ‘PCOS’ muncul untuk menggambarkan banyaknya kista di permukaan luar indung telur bila diperiksa dengan menggunakan teknologi ultrasound. Kista-kista ini terbentuk akibat kelebihan hormon androgen. PCOS bisa mengakibatkan gagalnya pelepasan sel telur dari indungnya, sehingga dampaknya mengganggu kesuburan.

Beberapa gejala PCOS antara lain (Dweck & Westen, 2017):

  • Menstruasi tidak teratur. Artinya, jadwalnya bisa meleset. Volumenya bisa tiba-tiba banyak, tiba-tiba sedikit. Durasinya bisa bervariasi. Bahkan, ada kalanya tidak menstruasi sama sekali.
    Menstruasi Tidak Teratur, Salah Satu Gejala PCOS

  • Gangguan kesuburan. Karena sel telur gagal dilepas, sperma tidak bisa melakukan pembuahan, sehingga tidak terjadi kehamilan.
    Menstruasi Tidak Teratur, Salah Satu Gejala PCOS

  • Munculnya jerawat. Akibat hormon yang tidak terkontrol, jerawat pun berkerumun di wajah.
    Menstruasi Tidak Teratur, Salah Satu Gejala PCOS

  • Tumbuhnya bulu yang berlebihan di bagian-bagian yang biasanya hanya berbulu pada tubuh laki-laki, seperti di bibir atas, dagu, payudara, bawah perut, dan paha dalam.
    Menstruasi Tidak Teratur, Salah Satu Gejala PCOS

  • Tubuh orang dengan PCOS seringkali kesulitan mengontrol produksi insulin, sehingga orang-orang dengan PCOS biasanya kelebihan berat badan.
    Menstruasi Tidak Teratur, Salah Satu Gejala PCOS

PCOS tidak bisa disembuhkan secara permanen, namun bisa dikontrol agar gejalanya berkurang (Khadilkar, 2019). Penderita PCOS disarankan menjalani konseling rutin dengan dokter, pakar fisiologis, dan ahli nutrisi demi mengadopsi pola hidup sehat yang sesuai dengan kondisi PCOS. Selain itu, mengingat bahwa PCOS membutuhkan manajemen jangka panjang, ada baiknya juga berkonsultasi dengan psikolog untuk membantu menyusun goal yang ingin dicapai terkait PCOS (Ko, Teede & Moran, 2017).

Dengan perubahan pola hidup yang tepat, penderita PCOS bisa mengurangi gejala menstruasi yang tidak teratur serta meningkatkan kemungkinan untuk bisa melanjutkan keturunan. Meskipun begitu, prosesnya bisa memakan waktu yang cukup lama, sehingga kamu akan membutuhkan banyak dukungan dari orang-orang terdekat. Bila kamu hidup dengan PCOS, mintalah bantuan keluarga, pasangan, atau teman-temanmu untuk terus memberikan motivasi serta menemani secara bergantian pada setiap sesi konseling dengan para pakar.

Baca juga: Menstruasi Tidak Teratur Ketika Traveling, Apakah Normal?

Itulah sekilas penjelasan mengenai menstruasi yang tidak teratur dan 4 gejala PCOS lainnya. Selain itu, kalau kamu masih memiliki pertanyaan, kamu juga bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan serta identitas kamu akan dijamin kerahasiaannya.