Begini Mendiskusikan Metode KB dengan Anak yang Mulai Dewasa dan Aktif Secara Seksual

Mendiskusikan KB dengan anak

Dulu saat ia kecil, sosok ibu adalah dunianya. Sekarang ia sudah remaja, punya kehidupannya sendiri, dan mulai naksir dengan teman sebaya. Orangtua manapun pasti waswas menyaksikan anaknya tumbuh dewasa. Ibu dan ayah bisa saja bersikeras bahwa anak masih terlalu muda untuk mengetahui apapun soal seks, namun kenyataannya ia sudah menstruasi, sudah mengerti rasanya tertarik dengan orang lain, dan sudah berisiko hamil. Jika orangtua tidak mengajaknya berdiskusi soal hubungan yang sehat, memberi edukasi seksual, dan menginformasikan metode KB sejak sekarang, kapan lagi?

Berikut beberapa tips mendiskusikan metode KB dengan anak yang sudah mulai dewasa.

Baca Juga: Mengatasi Endometriosis dengan Pil KB, Apakah Bisa?

  • Sebelum mulai berdiskusi, singkirkan segala pikiran negatif yang ada.
    Mendiskusikan seks dan kontrasepsi dengan terbuka bukan berarti mendorong anak berhubungan seks sedini mungkin. Kenyataannya, anak-anak yang diberikan pendidikan seks sejak dini oleh orangtua mereka justru lebih banyak menunda berhubungan seks hingga waktu yang tepat dan menggunakan kontrasepsi di masa depan (Bourke, Boduszek, Kelleher, et al., 2014). Soalnya, mereka jadi lebih paham bahwa bila kurang berhati-hati, seks bisa berisiko. Sebaliknya, anak-anak yang tak bisa mendiskusikan seks akibat tabu justru bisa menjadi semakin penasaran dan berusaha mencari tahu segalanya tanpa melibatkan orangtua.
  • Jelaskan pada anak bahwa ini adalah topik yang penting untuk didiskusikan secara terbuka karena ia sudah mulai dewasa dan karena ayah ibunya sayang padanya.
    Ketika anak mulai memasuki masa remaja, orangtua tak bisa sepenuhnya memantau aktivitas anak. Yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah memberi kepercayaan dan membimbing anak agar mampu membuat keputusan-keputusan yang baik untuk dirinya sendiri. Beritahu anak bahwa dalam diskusi ini, ia bebas menanyakan hal apapun serta curhat tanpa penghakiman. Apapun yang ia sampaikan tidak akan mengurangi kasih sayang orangtua untuknya.
  • Bantu anak mengenal tubuhnya.
    Gunakan nama ilmiah yang benar, misalnya vulva, vagina, labia, klitoris, penis, skrotum, dan testis, bukan istilah yang diperhalus seperti ‘Miss V’, ‘organ intim’, ‘Mr.P’, atau ‘anu’. Kalau orangtua tak nyaman mengucapkannya, anak bisa jadi tidak nyaman juga. Padahal, menyebut istilah organ reproduksi yang benar sejak masih kecil bisa menambah pemahaman serta rasa nyaman saat mengobrol soal kesehatan reproduksi, sehingga bisa melindungi anak dari risiko pelecehan seksual (Matthews, 2017, Psychology Today). Jelaskan fungsi tiap organ seksual dan reproduksi serta cara menjaganya. Tanyakan pada anak sejauh apa ia mengerti bagaimana kehamilan terjadi. Bila ada pemahamannya yang salah, paparkan yang sebenarnya.
  • Jelaskan mengenai berbagai metode KB yang bisa dipakai untuk mencegah kehamilan
    Tanpa menghakimi anak, pelan-pelan tanyakan pada anak apakah ia sudah pernah berhubungan seks atau memikirkan soal seks. Tanyakan apakah ia paham soal metode KB untuk mencegah kehamilan dan cara mencegah infeksi menular seksual (IMS). Diskusikan berbagai alternatif untuk mencegah kehamilan, mulai dari menunda berhubungan seks, memakai kondom, minum pil KB, suntik KB, pasang KB implan, menggunakan IUD, hingga mengonsumsi pil kontrasepsi darurat. Jelaskan pada anak bagaimana menunda kehamilan bisa membantunya fokus pada hal-hal yang ingin dicapai terlebih dahulu, seperti pendidikan, karir idaman, atau cita-cita lainnya. Tanyakan soal tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh anak dan bahaslah lebih lanjut.
  • Ajaklah anak berkonsultasi soal metode KB dengan dokter atau bidan.
    Tergantung dari jawaban anak saat sebelumnya ditanya soal seberapa jauh ia sudah aktif secara seksual, bantu anak mencari tahu apa yang ia butuhkan. Metode KB boleh, kok, mulai digunakan sejak jauh hari saat masih remaja, baik ketika anak sudah pernah berhubungan seks maupun belum pernah sama sekali. Bila memang dibutuhkan, ajak anak berkonsultasi soal metode KB dan kesehatan reproduksinya dengan dokter atau bidan.

Baca Juga: Metode KB Terbaik untuk Orang dengan HIV

Itulah lima tips mendiskusikan metode KB dengan anak yang mulai dewasa dan aktif secara seksual. Selain itu, jika kamu masih punya pertanyaan atau ingin berkonsultasi, kamu pun bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Tak perlu ragu untuk bertanya atau berkonsultasi, sebab segala informasi yang kamu sampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya