Betulkah Usia Memengaruhi Faktor Kesuburan Laki-laki?

Berbeda dengan perempuan yang kemampuan reproduksinya jelas akan berhenti setelah memasuki masa menopause, bagi laki-laki tak ada batas waktu pasti yang menandakan hilangnya kesuburan. Meskipun begitu, seiring dengan meningkatnya usia laki-laki, semakin sering pula kita mendengar cerita-cerita mengenai performa seksual yang menurun dan kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Betulkah usia bisa memengaruhi faktor kesuburan laki-laki? Berikut sejumlah fakta ilmiah mengenai penuaan dan kesuburan laki-laki.

  • Kualitas sperma menurun

    Sayangnya, informasi yang satu ini benar. Semakin tua seorang laki-laki, biasanya semakin menurun juga kualitas spermanya (Mazur & Lipshultz, 2018). Bukan berarti tak ada satupun sperma yang masih bisa membuahi sel telur dengan sukses, hanya saja kemungkinan untuk bisa melanjutkan keturunan tidak setinggi pada masa muda dahulu. Selain itu, karena kualitas sperma yang kurang optimal dengan DNA yang seringkali kurang baik, anak-anak yang dihasilkan dari laki-laki >40 tahun memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami autisme, skizofrenia, dan sejumlah kondisi psikiatris lainnya (Yatsenko & Turek, 2018).

    Tidak ada cara yang bisa 100% mencegah dampak negatif penuaan terhadap kondisi sperma, namun menerapkan pola hidup yang sehat tetap bisa meminimalisir dampak buruknya. Hindari narkoba, rokok, serta konsumsi alkohol dan kafein. Usahakan untuk mempertahankan berat badan yang ideal, menjauhi sumber-sumber stres, tidur yang cukup, serta mengonsumsi makanan dan minuman bergizi seimbang (Durairajanayagam, 2017).

  • Kadar testosteron menurun
    Ini juga merupakan fakta. Dampak penuaan terhadap sistem endokrin yang mengatur hormon bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan dampak penuaan terhadap produksi sperma (Almeida, Rato, Sousa, et al., 2017). Padahal, hormon testosteron sangat berperan dalam menentukan faktor kesuburan laki-laki, termasuk mendukung proses pembuatan sperma, hasrat seksual, dan aktivitas seksual. Untuk mengatasi kadar testosteron yang rendah, ada terapi yang bisa dijalani, namun tentunya harus dengan berkonsultasi pada dokter terlebih dahulu.

  • Lebih sering mengalami disfungsi ereksi

    Disfungsi ereksi adalah kesulitan mencapai penis yang tegang serta mempertahankannya cukup lama untuk mendapatkan kepuasan seksual (Spitz, 2018). Alhasil, penis menjadi lemas dan ‘loyo’. Betul bahwa disfungsi ereksi bisa menyerang laki-laki dari segala usia, namun hal ini lebih sering terjadi pada laki-laki yang berusia >40 tahun (Tirado, Ferrer & Herrera, 2016). Ada banyak faktor yang bisa memicu difsungsi ereksi, namun penyebab utamanya adalah enzim PDE5 yang memblokir aliran darah ke penis. Enzim ini sebenarnya merupakan enzim alami yang bertugas untuk menjaga agar penis nggak selalu tegang setiap saat. Akan tetapi, ketika enzim ini terlalu aktif, ereksi jadi gagal total.

    Untungnya, di zaman modern ini, sudah banyak alternatif yang bisa dipilih sebagai solusi untuk mengatasi disfungsi ereksi. Salah satunya adalah dengan terapi menggunakan Topgra , obat tablet untuk mengatasi disfungsi ereksi. Setiap tablet Topgra mengandung 100 mg sildenafil sitrat yang bekerja dengan menghambat pelepasan enzim PDE5. Jadi, penis akan bisa tegang kembali dan performa seksual yang tadinya menurun pun dapat meningkat lagi.

Itulah tiga fakta mengenai pengaruh usia terhadap faktor kesuburan laki-laki. Selain itu, jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, kamu bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
WhatsApp chat