Ini Bedanya Ruam Kulit Pada Gejala HIV

gejala-hiv

Ruam HIV paling sering muncul pada wajah dan dada.

Munculnya ruam HIV atau bercak-bercak merah pada kulit bisa terjadi karena manifestasi gejala HIV atau sebagai efek samping dari konsumsi obat antiretroviral atau ARV. Pada bentuk manifestasi gejala HIV, ruam kulit sering kali disalahartikan sebagai reaksi tubuh atas alergi terhadap penggunaan produk yang diaplikasikan ke kulit. Lalu bagaimanakah membedakan ruam karena gejala HIV dengan ruam biasa?

Baca Juga: Ketahui 7 Siklus Hidup HIV dalam Tubuh Manusia

Adapun ruam gejala HIV biasanya muncul pada dua bulan pertama ketika tubuh terinfeksi virus penyebab HIV. Tapi berdasarkan studi yang dilakukan UC San Diego Health, 90% orang yang terinfeksi HIV pasti mengalami ruam pada perjalanan penyakitnya, baik di awal gejala atau saat memasuki stadium tertentu. Tanda spesifik dari ruam gejala HIV adalah berwarna merah dengan sedikit benjolan kecil merah di tengahnya. Ruam-ruam ini tersebar secara merata dan terasa sangat gatal.

Umumnya ruam gejala HIV muncul di wajah dan dada, tapi bisa juga menjalar ke seluruh bagian tubuh seperti kaki dan tangan. Bahkan tidak jarang juga ruam ini muncul di dalam mulut dalam bentuk sariawan. Munculnya ruam juga menjadi indikasi kalau kekebalan tubuh mulai menurun karena virus penyebab HIV telah menghancurkan CD4. Ini adalah salah satu jenis sel darah putih yang fungsinya melawan infeksi.

Karena sistem kekebalan tubuh tidak dapat melawan maka tubuh bereaksi dengan menghasilkan ruam. Selain itu, ruam ini juga menjadi pertanda telah ada infeksi oportunistik tertentu misalnya infeksi jamur Candida. Jika ini yang terjadi maka dapat dipastikan HIV sudah masuk ke stadium akhir atau AIDS.

Untuk membedakan ruam HIV dengan ruam kulit biasanya bukan pada bentuk serta ukuran ruam, melainkan pada gejala yang ikut menyertainya. Biasanya ruam HIV akan diikuti dengan gejala sariawan di mulut, diare terus menerus, berat badan turun drastis tanpa sebab yang jelas, lebih cepat merasa lelah, kelenjar getah bening yang membesar, hingga kehilangan nafsu makan. Sebenarnya ini semua adalah gejala utama dari HIV.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Biasanya ruam yang disertai dengan gejala-gejala di atas membuat dokter merekomendasikan pasien untuk melakukan tes HIV/AIDS. Jika hasilnya memang positif HIV/AIDS maka dokter juga akan memberikan obat seperti antihistamin untuk mengatasi ruamnya. Ruam akan hilang dengan sendirinya ketika sudah mendapatkan pengobatan.

Waspada juga dermatitis seboroik.

Jika tidak segera ditangani, ruam-ruam itu bisa berkembanng menjadi dermatitis seboroik. Ini adalah bentuk gangguan kulit yang ditandai dengan ruam bersisik dan kulit memerah. Biasanya ini terjadi di kulit kepala. Bagi para ODHA yang mengalami ruam kulit HIV yang satu ini menjadi pertanda kalau penyakit kamu semakin berkembang dan menimbulkan berbagai komplikasi.

Sebaiknya segeralah konsultasi ke dokter jika ruam HIV yang dialami ternyata cepat menyebar di seluruh tubuh, muncul lepuhan pada kulit dan demam. Sehingga masalah ruam kulit bisa diatasi. Cara mengatasinya adalah cukup mengonsumsi ARV secara teratur, maka setelah seminggu atau dua minggu masalah ruam kulit dan dermatitis seboroik akan berkurang. Jadi jangan pernah patah semangat untuk mengkonsumsi ARV secara teratur demi menikmati kualitas hidup terbaik.

Baca Juga: Mengapa Kita Perlu Konseling Sebelum Tes HIV

Kalau kamu ingin tahu lebih detail lagi tentang bagaimana sebenarnya mencegah serta mengobati HIV, langsung saja konsultasi ke HALO DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 atau klik link berikut https://bit.ly/halodktwhatsapp. Jangan kuatir, semua informasi yang kamu sampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya