Inilah Gejala HIV Pada Ibu Hamil yang Harus Dikenali

gejala hiv

Pada tahap awal gejala HIV pada ibu hamil mirip dengan gejala flu.

Secara data penelitian, ibu hamil yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) berpotensi untuk menularkannya pada janin 15 sampai 45%. Kabar baiknya, jika dideteksi dengan cepat dan menjalani pengobatan maka penularan HIV dari ibu kepada janin bisa eliminasi. Tapi kenyataanya masih banyak orang, khususnya ibu rumah tangga (IRT) yang tidak mengetahui bagaimana gejala HIV bisa dikenali.

Baca Juga: Ini Bedanya Ruam Kulit Pada Gejala HIV

Mengapa banyak ibu rumah tangga positif HIV?

Padahal faktanya pada 2019 Kemenkes menyebutkan ada sebanyak 16.844 IRT yang positif AIDS di Indonesia. Angka tersebut cukup tinggi diantara profesi lainnya. Karena lingkaran penularannya semakin dekat pada lingkungan keluarga, maka sangat penting untuk mengenali gejala HIV, termasuk pada ibu hamil.

Salah satu penyebab tingginya penularan HIV pada IRT adalah karena melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman seperti kondom. Penggunaan kondom menjadi bentuk tanggung jawab dalam rumah tangga untuk saling melindungi dari penularan HIV. Karena pada prinsipnya setiap hubungan seksual, baik secara vaginal, oral maupun anal yang dilakukan tanpa pengaman berpotensi terjadinya penularan HIV.

Tapi kondom yang kamu dan pasangan pilih ketika berhubungan seksual sebaiknya yang berbahan lateks, karena sudah terbukti secara ilmiah bisa mencegah transmisi patogen ke dalam tubuh. Dan untuk mencegah kondom rusak saat terjadi gesekan, gunakan juga lubrikan berbahan air. Mengapa? Karena lubrikan berbahan air tidak akan membuat kondom lateks yang kamu gunakan rusak. Adapun kondom berbahan lateks yang berstandar internasional yang bisa kamu pilih untuk aktivitas seksual yang aman adalah Kondom Fiesta dan untuk lubrikannya ada Fiesta Intimate Natural Lubricant.

Ibu hamil wajib mengenali gejala HIV berikut ini.

Prinsipnya gejala HIV pada ibu hamil sama dengan gejala HIV pada umumnya. Adapun gejala HIV di setiap tahapnya berbeda-beda, karena itu kamu perlu mengenalnya.

  • Gejala HIV tahap awal
    Di tahap ini sering kali tidak disadari kalau virus penyebab HIV sudah ada di dalam tubuh karena gejala yang muncul sangat mirip dengan gejala flu. Adapun pada ibu hamil, gejala HIV yang muncul seperti demam, muncul ruam kemerahan pada kulit, sakit kepala, cepat lemas, sakit tenggorokan dan kelenjar getah bening membesar. Di antara beberapa gejala tersebut, yang bisa kamu jadikan tanda waspada adalah kelenjar getah bening yang membesar atau bengkak. Ini memang indikasi infeksi secara umum dan pada ibu hamil apapun bentuk infeksi yang terjadi harus ditangani dengan segera.
  • Gejala HIV tahap kedua.
    Pada tahap ini bisa dibilang justru tidak bergejala sama sekali, maka sering kali disebut sebagai tahap periode jendela. Karena meski tidak bergejala tetap sangat menular karena virus HIV di dalam tubuh bereplikasi dengan cepat. Replikasi inilah yang kemudian melemahkan sistem imun kamu sehingga berpotensi mengalami penyakit lainnya. Kondisi ini tentu berbahaya bagi janin, apalagi jika tidak terdeteksi dengan cepat proses persalinan bisa berpeluang untuk menularkan HIV kepada janin.

    Meski pada tahap ini sering kali tidak bergejala, namun pada beberapa kasus terdapat gejala lanjutan seperti demam yang sering berulang, selalu berkeringat di malam hari, mengalami diare yang tak kunjung sembuh, dan penurunan berat badan yang drastis. Waspadalah ketika berat badan kamu menurun secara drastis, karena idealnya ibu hamil mengalami kenaikan berat badan.

  • Gejala HIV tahap ketiga.
    Karena tidak terdeteksi maka virus HIV semakin melemahkan sistem kekebalan tubuh, alhasil kamu menjadi lebih mudah mengalami infeksi oportunistik seperti tuberkulosis, meningitis, infeksi jamur dan sebagainya. Pada tahap ini, sebenarnya sudah masuk ke tahap Acquired Immune Deficiency Syndrome atau AIDS.

    Gejala spesifik di tahap ini adalah penurunan berat badan yang drastis, muncul bercak putih di lidah, mulut atau tenggorokan, infeksi paru atau pneumonia, diare yang berkelanjutan, kelenjar getah bening yang terus membengkak.

Segeralah memeriksakan diri ketika mengalami gejala-gejala tersebut. Dan cara paling efektif untuk mengetahui apakah gejala tersebut merujuk pada HIV/AIDS, adalah dengan melakukan tes HIV. Tes ini memerlukan dampingan tenaga medis dan konselor sehingga semua proses pemeriksaanya bisa berlangsung optimal.

Baca Juga: Sudah Tahu Beda HIV dan AIDS?

Kalau kamu ingin bertanya lebih detail tentang apa saja gejala HIV yang harus diantisipasi, langsung saja konsultasi ke HALO DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 atau klik link berikut https://bit.ly/halodktwhatsapp. Jangan kuatir, semua informasi yang kamu sampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya