Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui vs Senggama Terputus, Mana yang Lebih Efektif?

Kontrasepsi ibu menyusui

Pasangan yang baru memiliki anak seringkali bingung memilih metode KB. Banyak yang beranggapan bahwa karena menyusui bisa menjadi kontrasepsi alami, tak perlu metode KB lainnya. Realitanya, mencegah kehamilan dengan menyusui ternyata tak semudah itu. Bila ibu sudah mengalami menstruasi, si Kecil sudah berusia di atas 6 bulan, atau si Kecil terkadang diberikan susu formula di samping ASI, maka menyusui tak akan efektif untuk dijadikan metode KB alami lagi (Abraha, Teferra, et al., 2018). Pasutri membutuhkan kontrasepsi lain. Pertanyaan paling umum yang sering diajukan adalah: kalau menyusui sudah tak bisa jadi kontrasepsi, perlukah memakai kontrasepsi untuk ibu menyusui? Apakah metode ‘keluar di luar’ saja tidak cukup?

Baca Juga: Bisakah Hamil Saat Memakai Kontrasepsi?

Senggama terputus atau yang lebih dikenal sebagai metode ‘keluar di luar’ merupakan salah satu strategi yang sering digunakan orang untuk mencegah kehamilan. Caranya sederhana, yaitu dengan menarik penis keluar dari vagina sesaat sebelum mencapai orgasme. Kenyataannya, metode ini sangat rentan gagal. Sebanyak 1 dari setiap 5 pasangan yang menggunakan metode senggama terputus ini mengalami kehamilan (CDC US). Berikut beberapa alasan mengapa metode senggama terputus kurang efektif (Westheimer & Lehu, 2019).

  • Orang terkadang gagal memprediksi dan mengontrol waktu ejakulasi.

  • Pasangan bisa saja ‘terbawa suasana’ dan lupa menarik penis keluar.

  • Pasangan bisa berjanji akan ‘keluar di luar’, namun sebenarnya bohong.

  • Kalaupun pasangan laki-laki mampu mengontrol ejakulasinya dan benar-benar mengeluarkan penis dari vagina sebelum cairan semen keluar, perempuan masih bisa hamil akibat cairan pra-ejakulasi. Cairan pra-ejakulasi keluar sejak penis mulai tegang. Cairan ini terkadang mengandung sperma juga dan bisa membawa sperma bekas ejakulasi sebelumnya yang masih tertinggal di saluran uretra pada penis.

Lalu bagaimana dengan kontrasepsi untuk ibu menyusui? Ada beberapa jenis kontrasepsi untuk ibu menyusui yang paling sering disarankan, yaitu pil KB laktasi yang hanya mengandung progesteron, suntikan KB 3 bulanan, dan KB implan. Dibandingkan dengan senggama terputus, kontrasepsi untuk ibu menyusui jauh lebih efektif dalam mencegah kehamilan. Pil KB laktasi memiliki efektivitas 93%, suntikan KB 3 bulanan 96%, dan KB implan 99,9% (Hill, 2019). Perbandingan kesuksesannya kontras sekali bila disandingkan dengan metode senggama terputus. Kontrasepsi untuk ibu menyusui bekerja dengan tmenggunakan hormon progesteron untuk mempertebal lendir leher rahim agar sperma lebih sulit masuk, mencegah pelepasan sel telur dari indungnya, serta menipiskan lapisan dinding rahim agar sel telur tak bisa menempel bila ternyata masih berhasil dibuahi. Perlindungan dari kehamilan ada berlapis-lapis, tak mengherankan bila kontrasepsi untuk ibu menyusui sangat manjur.

Baca Juga: Enam Jenis Kontrasepsi, Mana yang Kamu Minati?

Jadi, bila harus memilih antara metode senggama terputus atau kontrasepsi untuk ibu menyusui, pilihlah kontrasepsi untuk ibu menyusui, sebab efektivitasnya jauh lebih tinggi. Dari segi keamanan pun, kontrasepsi untuk ibu menyusui tak perlu diragukan, sebab pemakaiannya tidak akan mengurangi jumlah serta kualitas ASI, dan tidak memicu gangguan kesehatan maupun hambatan perkembangan apapun bagi bayi (Phillips, Tepper, Kapp, et al., 2016). Itulah perbandingan singkat antara metode senggama terputus dan kontrasepsi untuk ibu menyusui. Selain itu, jika kamu masih punya pertanyaan atau ingin berkonsultasi, kamu pun bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Tak perlu ragu untuk bertanya atau berkonsultasi, sebab segala informasi yang kamu sampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya