Amankah Gonta-Ganti KB?

Amankah gonta ganti kb

Sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter kandungan ketika ingin ganti metode KB.

Salah satu teknologi kedokteran yang berperan besar dalam menciptakan generasi berkualitas adalah kontrasepsi. Alat pencegah kehamilan ini membuat setiap pasangan bisa menjalani Keluarga Berencana (KB) dengan lebih praktis. Apalagi ada begitu banyak pilihan metode yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi tubuh. Tak hanya itu, ber-KB saat ini juga tidak sekadar merencanakan kehamilan tapi juga memberikan beragam manfaat kesehatan bagi peserta KB.

Baca Juga: Ini 6 Keunggulan Metode KB Implan Alias ‘Susuk’

Dengan beragamnya pilihan metode KB, mungkin kamu bertanya-tanya, apakah boleh gonta-ganti KB sampai benar-benar menemukan yang cocok? Pada prinsipnya mengganti metode KB tidak dilarang. Hanya saja sama seperti ketika pertama kali menggunakan KB, kamu sangat disarankan untuk berkonsultasi dulu ke dokter kandungan sebelum memutuskan menggantinya.

Sebenarnya berkonsultasi ke dokter kandungan adalah langkah awal untuk menemukan metode KB mana yang terbaik untuk kamu. Karena itu ketika kamu konsultasi untuk mengganti metode KB, dokter akan bertanya apa yang melatar-belakangi kamu melakukan hal tersebut. Apakah ada efek samping yang dirasakan dari metode KB yang lama? Atau karena kamu sudah terlalu lama menggunakan KB tertentu dan merasa sudah saatnya untuk mengganti?

Setelah itu dokter kandungan juga akan menganalisa status kesehatan kamu sebelum merekomendasikan metode KB baru yang bisa dipilih. Apa sajakah itu?

  • Berat badan: Dokter kandungan akan memilihkan metode KB yang tidak berpotensi menaikkan berat badan, apabilan kondisinya saat ini berat badan kamu masuk kategori obesitas. Adapun metode KB yang disarankan untuk kamu adalah non hormonal seperti intrauterine device (IUD). Kamu bisa memilih IUD Andalan yang memberikan perlindungan hingga 8 tahun.
  • Merokok: Jika kamu merokok dan berusia di atas 35 tahun, harus sangat berhati-hati dalam memilih metode KB. Misalnya pil KB, tidak disarankan kepada perokok karena zat di dalam rokok bisa mengacaukan kerja hormon pil KB.
  • Obat rutin yang diminum: Ada beberapa jenis obat tertentu yang bisa kontraindikasi atau berlawanan dengan kandungan hormon yang ada di dalam KB. Karena itu, penting untuk menyampaikan kepada dokter bagaimana status kesehatan dan obat rutin apa saja yang kamu minum.

Jangan ada jeda antara metode KB baru dengan yang lama.

Lalu pertanyaan baru muncul, apakah perlu jeda dari melepas KB lama sampai memasang KB yang baru? Para dokter kandungan justru merekomendasikan untuk tidak berjeda, mengapa? Untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan. Teknologi KB saat ini, sangat cepat mengembalikan kesuburan sesaat kamu berhenti ber-KB, ini mengapa sangat disarankan untuk tidak ada jeda saat ingin mengganti metode KB.

Bahkan biasanya dokter kandungan akan menyarankan agar kamu tidak bercinta dulu atau menggunakan kondom, setidaknya seminggu atau sebulan setelah berganti metode KB. Karena metode KB yang baru memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan tubuh agar optimal merencanakan kehamilan.

Adaptasi tubuh terhadap metode KB baru juga akan menimbulkan beberapa perubahan yang harus kamu antisipasi. Apa sajakah itu? Sebagian besar efek yang muncul adalah spotting atau keluar bercak darah selama beberapa bulan jika kamu berganti ke pil KB. Atau kamu akan merasakan kram di perut saat berganti ke KB IUD. Bisa juga kamu akan merasakan migrain atau mood swing saat berganti dari KB non hormonal ke KB hormonal. Tapi tidak perlu panik, karena secara perlahan hormon di dalam tubuh akan bekerja sesuai metode KB yang kamu pilih.

Baca Juga: Bukan Mitos, Pil KB bisa Bikin Kulit Mulus dan Glowing

Kamu bisa langsung berkonsutasi ke Halo DKT dengan menghubungi nomer Whatsapp Halo DKT 0811-1-326459 atau melalui link berikut: https://bit.ly/halodktwhatsapp pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Tak perlu ragu untuk bertanya atau berkonsultasi, sebab segala informasi yang kamu sampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya