Amankah Menunda Menstruasi Terlalu Sering?

menstruasi

Menunda atau menghentikan menstruasi saat ini bukan lagi hal yang sulit, dengan perkembangan kontrasepsi hormonal modern. Ada banyak alasan wanita menunda menstruasi: alasan medis seperti pendarahan menstruasi yang berat, persiapan untuk prosedur medis, atlet yang akan bertanding, pergi umroh atau haji, atau karena rencana pernikahan dan bulan madu. Aman nggak sih menunda menstruasi? Boleh tidak dilakukan berkali-kali?

Baca Juga: Penyebab Kembung Saat Menstruasi

Cara Menunda Menstruasi

Jika kamu belum pernah melakukannya dan bertanya-tanya bagaimana cara menunda menstruasi secara alami, maka kamu tidak akan bisa menemukan jawabannya. Ya, menunda menstruasi tidak bisa dilakukan dengan cara alami.

Banyak mitos yang dipercaya, misalnya minum cuka sari apel atau jus lemon bisa menunda menstruasi. Namun, belum ada buktinya.

Meskipun tidak ada cara alami yang terbukti secara ilmiah dapat menghentikan menstruasi, namun ada berbagai cara non-alami atau dengan penggunaan obat untuk menunda datangnya menstruasi atau menghentikannya.

Cara paling umum adalah dengan kontrasepsi hormonal, seperti pil KB yakni pil dan suntikan progesteron. Bagaimana cara kerjanya?

Pil Progestogen

Norethindrone adalah bentuk sintetis dari progesteron (hormon yang mempersiapkan penebalan lapisan rahim untuk kehamilan). Jika diminum sebelum siklus menstruasi, maka akan mencegah penurunan progesteron yang memicu menstruasi, sehingga secara efektif menunda menstruasi.

Setelah kamu berhenti minum obat ini, menstruasi akan kembali dalam beberapa hari. Sebuah penelitian norethindrone di Amerika Serikat yang dilakukan pada tahun 2019 dengan partisipasi 50 wanita yang ingin menunda menstruasi karena berbagai alasan menunjukkan, obat ini efektif menunda menstruasi tanpa menimbulkan masalah. Keuntungan pil progesteron lainnya adalah cepat mengembalikan kesuburan dan tidak adanya penggunaan obat hormonal jangka panjang.

Suntikan DMPA (KB Suntik)

Medroxyprogesterone acetate, atau DMPA, adalah kontrasepsi jangka panjang yang bisa dimanfaatkan untuk menunda menstruasi. DMPA biasanya diberikan dalam bentuk suntikan setiap tiga bulan. Dengan menggunakan metode kontrasepsi ini dapat menunda atau meniadakan menstruasi.

Pada tahun pertama menerima suntikan, 75 persen wanita melaporkan tidak adanya perdarahan menstruasi. Semakin lama digunakan, semakin sedikit menstruasi yang didapatkan.

IUD

Beberapa wanita mungkin tidak lagi mendapatkan menstruasi jika mereka menggunakan IUD hormonal. Terjadi atau tidaknya menstruasi sangat individual dan tergantung jenis IUD. IUD dengan kandungan bahan aktif yang lebih tinggi (levonorgestrel) lebih mungkin untuk tidak mendapatkan menstruasi. Selama tahun pertama penggunaan IUD hormonal, 20 persen wanita melaporkan menstruasi menjadi lebih jarang. Di tahun kedua, jumlah itu meningkat menjadi 50 persen.

KB Implan

KB implan atau susuk yang ditanamkan di lengan tepat di bawah kulit, juga dapat menghentikan ovulasi, yang dapat menyebabkan tidak adanya menstruasi. Menurut penelitian yang dilakukan di Indonesia dari tahun 2016 hingga 2018, dengan partisipasi 140 wanita yang menggunakan kontrasepsi implan, mereka berhenti mendapatkan menstruasi pada bulan pertama penelitian.

Tergantung pada jenis implan yang digunakan, absennya menstruasi terjadi pada sekitar 33–41 persen peserta di bulan pertama. Namun, di dua tahun berikutnya, hanya 28-30 persen peserta yang tidak mendapatkan menstruasi.

Adakah efek samping menunda menstruasi?

Menunda menstruasi dapat dilakukan dengan melewatkan pil plasebo dalam paket pil kontrasepsi. Tetapi penting untuk dicatat bahwa melakukan ini dapat memiliki efek samping seperti nyeri, diare, dan pendarahan yang tidak terduga. Tidak semua orang mengalami efek samping ini, tetapi jika kamu berniat mengambil cara ini, jangan kaget jika mengalami efek sampingnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menunda atau melewatkan menstruasi relatif aman dengan menggunakan kontrasepsi hormonal tanpa istirahat.

Sebuah studi tahun 2005 berdasarkan database publikasi ilmiah yang membandingkan penggunaan kontrasepsi hormonal secara terus menerus (nonstop) dan siklik (mengkonsumsi pil plasebo) menunjukkan bahwa keduanya sama-sama aman.

Pada tahun 2014, penelitian ini dilengkapi dengan penelitian baru, tetapi kesimpulannya tetap tidak berubah. Studi yang dilakukan pada tahun 2003 dan 2008 tentang penggunaan kontrasepsi hormonal secara terus menerus tanpa jeda (masing-masing 91 dan 168 hari) juga menunjukkan efisiensi dan aman untuk penggunaan jangka panjang.

Salah satu masalah terbesar yang dialami wanita yang menunda menstruasi adalah perdarahan tidak terduga. Efek samping lainnya adalah mual, nyeri payudara, fluktuasi suasana hati, dan dorongan seks yang lebih rendah.

Baca Juga: Menstruasi Tidak Normal, Salah Satu Indikator Masalah Kesehatan

Jadi apakah aman untuk menunda menstruasi? Secara umum, ya. Jika Kamu ragu, Kamu bisa berkonsultasi ke Halo DKT dengan menghubungi nomor Whatsapp Halo DKT 0811-1-326459 dan juga link bit.ly/halodktwhatsapp.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya