Ini Kontrasepsi yang Aman untuk Penderita Diabetes

Menurut data terakhir WHO, sebanyak 422 juta orang di dunia hidup dengan diabetes pada tahun 2014. Jumlah tersebut terus diprediksi akan terus meningkat. Diabetes tidak bisa disembuhkan secara permanen, namun bisa dikontrol, khususnya jika dideteksi sejak dini. Beberapa hal yang harus dikontrol ketika hidup dengan diabetes misalnya pola makan, olahraga, dan pengobatan. Selain itu, pemilihan kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi diabetes juga penting.

Dalam diagram kriteria kelayakan medis dalam penggunaan kontrasepsi yang diadaptasi dari WHO, dijelaskan mengenai kecocokan masing-masing jenis alat kontrasepsi dengan tiap-tiap kondisi medis. Bagi yang menderita diabetes, pilihan paling aman merupakan IUD tembaga. Metode kontrasepsi yang satu ini dapat digunakan oleh penderita diabetes dalam setiap keadaan.

Ini Kontrasepsi yang Aman untuk Penderita Diabetes

IUD tembaga berukuran mungil, berbentuk seperti huruf T, dan dipasang di dalam rahim oleh tenaga medis terlatih. Tergantung dari jenisnya, IUD tembaga bisa mencegah kehamilan selama 10 tahun (Dweck & Westen, 2017). IUD tembaga tidak mengandung hormon. Cara kerjanya adalah dengan melepas ion-ion tembaga yang bersifat toksik bagi sperma.  Beberapa jenis IUD tembaga berkualitas yang layak dipertimbangkan misalnya IUD Andalan TCu 380A, IUD Andalan Cu 375 Sleek, dan IUD Andalan Silverline Cu 200 Ag.
Selain IUD tembaga, menurut diagram kriteria kelayakan medis WHO dalam penggunaan kontrasepsi, penderita diabetes juga secara umum bisa menggunakan alat-alat kontrasepsi berikut:

  • Pil KB yang hanya mengandung hormon progesteron saja (pil mini)
    Pil KB progesteron bekerja dengan melepas hormon untuk mengurangi ketebalan dinding rahim, menebalkan lendir leher rahim, dan menghambat proses pelepasan sel telur dari indungnya (Hill, 2019). Untuk menggunakannya, pil KB jenis ini harus dikonsumsi setiap hari pada jam yang sama. Contohnya seperti Pil KB Andalan Laktasi yang mengandung 0,5 mg Linestrenol (hormon progesteron) dalam setiap tabletnya. 

  • KB implan
    Serupa dengan pil KB progesteron, KB implan juga melepas hormon yang sama. Bedanya, implan di pasang di bawah permukaan kulit di bagian lengan atas oleh tenaga medis terlatih. Ukurannya seperti korek api. Tergantung jenisnya, implan bisa melindungi pemakainya dari kehamilan hingga 4 tahun lamanya. Salah satu produk implan populer di Indonesia misalnya Andalan Implan berbatang dua dengan 75 mg Levonorgestrel (hormon progesteron) di setiap batangnya.

  • IUD hormonal
    Seperti IUD tembaga, IUD hormonal juga berbentuk seperti huruf T, berukuran mungil, dan ditempatkan di dalam rahim oleh dokter atau bidan. Bedanya, IUD hormonal tidak mengeluarkan ion-ion tembaga, melainkan mengeluarkan hormon progesteron. IUD hormonal bisa efektif selama 3-5 tahun. Cara kerjanya adalah dengan menipiskan lapisan dinding rahim dan menebalkan lendir rahim (Dweck & Westen, 2017).

Bagaimana dengan pil KB kombinasi, suntik KB 1 bulanan, dan suntik KB 3 bulanan? Ketiganya secara umum dapat digunakan, namun ada syaratnya. Pertama, tidak boleh ada komplikasi pada kondisi diabetes. Kedua, belum menderita diabetes lebih dari 20 tahun. Kalau kedua syarat tadi tidak terpenuhi, maka pil KB kombinasi, suntik KB 1 bulanan, dan suntik KB 3 bulanan tidak dapat digunakan.

Baca juga: Ingin Suntik KB Namun Takut Disuntik? Ini 6 Strategi untuk Mengalahkan Ketakutan Anda

Itulah sekilas informasi mengenai pilihan kontrasepsi yang aman untuk penderita diabetes. Jika kamu ingin berkonsultasi, kamu bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
WhatsApp chat