Skrining Infeksi Menular Seksual: Untuk Siapa dan Bagaimana Melakukannya?

Skrining infeksi menular seksual

Jika sudah aktif melakukan hubungan seksual maka sebaiknya skrining infeksi menular seksual secara teratur.

Tahukah kamu kalau infeksi menular seksual sering kali tidak bergejala? Karena tidak bergejala, orang yang sudah aktif secara seksual merasa tidak perlu melakukan hubungan seks secara aman. Alhasil potensi risiko terjadinya penyakit menular seksual semakin tinggi. Tidak hanya dari sisi faktor risiko, infeksi menular seksual yang tidak tertangani sejak dini akan terus berkembang merusak organ-organ vital alias menimbulkan berbagai komplikasi.

Baca Juga: Penyakit Infeksi Menular Seksual yang Disebabkan Seks Anal

Yang banyak orang tidak sadar tentang infeksi menular seksual adalah penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual termasuk penetrasi vagina, seks anak dan seks oral. Penularan terjadi ketika bakteri atau virus penyebabnya berpindah dari orang ke orang melalui air mani, cairan vagina, darah ataupun cairan tubuh lainnya. Tak hanya secara kontak seksual, infeksi ini juga bisa ditularkan dari ibu ke bayi selama masa kehamilan atau saat persalinan. Ini mengapa skrining atau deteksi dini infeksi menular seksual seharusnya menjadi pemeriksaan wajib bagi siapa saja yang sudah aktif melakukan hubungan seksual.

Lantas bagaimanakah sebenarnya tes infeksi menular seksual ini dilakukan? Mengingat infeksi menular seksual ada beberapa jenis, maka sampel pemeriksaannya pun beragam.

Untuk infeksi menular seksual seperti klamidia, gonorrhoea, sifilis dan HIV, tes dilakukan dengan mengambil sampel urin atau darah. Ada juga pemeriksaan dengan swab test yang dilakukan dengan menyeka bagian organ genital. Biasanya ini dilakukan untuk mendeteksi infeksi menular seksual klamidia dan gonore.

Sedangkan untuk skrining HPV bisa dengan pap smear untuk mendeteksi apakah ada pertumbuhan sel abnormal di dalam serviks. Pemeriksaan ini direkomendasikan dilakukan setiap tiga tahun sekali. Apabila pap smear mengindikasikan adanya sel abnormal, biasanya akan dilanjutkan dengan tes HPV untuk memastikan apakah hal tersebut mengarah ke kanker serviks atau tidak.

Apabila hasil skrining positif infeksi menular seksual, jangan langsung patah semangat karena penyakit ini pada prinsipnya bisa diobati. Jenis pengobatannya akan sangat tergantung pada jenis infeksi menular seksual yang dialami, tapi sebagian besar pengobatannya adalah dengan konsumsi obat atau suntikan. Tapi pada jenis infeksi menular seksual herpes dan HIV/AIDS, ini tidak bisa disembuhkan. Yang dilakukan kemudian adalah mencegah agar infeksi tidak terjadi ke bagian tubuh lainnya.

Penting juga untuk terbuka kepada pasangan jika ternyata kamu positif infeksi menular seksual. Pasangan perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah telah terjadi penularan atau tidak.

Hal utama yang harus kamu ingat dari infeksi menular seksual ini adalah mencegah terjadinya penularan dengan menerapkan berhubungan seksual secara aman. Prinsipnya adalah melakukan hubungan seksual hanya dengan satu orang, menggunakan kondom setiap kali melakukan hubungan seksual (penetrasi vagina, seks oral maupun seks anal), dan amati setiap perubahan yang terjadi pada tubuh. Pastikan kondom yang kamu pilih berbahan lateks karena penelitian membuktikan kondom jenis ini mampu menghalangi virus atau bakteri berukuran patogen menginfeksi melalui kontak seksual.

Baca Juga: Infeksi Menular Seksual Trikomoniasis Jarang Bergejala, tapi Berisiko bagi Kehamilan

Jika kamu ingin berkonsultasi lebih detail lagi tentang cara pencegahan dan penanganan infeksi menular seksual, yuk konsultasi langsung di HALO DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 atau klik link berikut https://bit.ly/halodktwhatsapp. Tenang segala informasi pribadi akan dijaga dengan baik, jadi jangan ragu untuk berkonsultasi ya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya