Waspada, Keputihan Bisa Disebabkan karena Pakai Celana Ketat

keputihan

Memilih pakaian dalam sebaiknya jangan hanya karena alasan fungsi dan modelnya yang menarik, tapi juga pengaruhnya bagi kesehatan. Celana dalam yang ketat, misalnya, berpengaruh pada kesehatan vagina.

Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pakaian dalam dapat berdampak serius pada kesehatan vagina, termasuk memicu keputihan.

Keputusan yang kamu buat tentang apa pakaian dalam yang dipakai dapat berimplikasi pada sirkulasi, kesehatan kulit, dan mikrobioma vagina.

Baca Juga: Normalkah Keputihan Pada Remaja?

Tidak ada dua orang yang sama, sehingga satu bahan dapat menimbulkan gangguan pada seseorang, tetapi mungkin sangat nyaman bagi orang lain.

Walau tidak ada satu patokan standar untuk semua dalam hal pakaian dalam, namun penelitian menemukan bahwa jika kamu mengenakan pakaian dalam terlalu lama, basah, atau terlalu ketat, berpengaruh pada kesehatan yang serius.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Obstetrics and Gynecology and Reproductive Biology, pemilihan bahan pakaian dalam sangat penting.
Mengenakan pakaian dalam yang bisa bernapas yang terbuat dari serat kain alami dapat mengurangi risiko terkena infeksi bakteri atau jamur yang memicu keputihan.

Ini bukan berarti kamu harus menghindari renda dan bahan sintetis sama sekali, tetapi sebaiknya untuk sehari-hari kamu memakai pakaian dalam dari bahan katun 100 persen.

“Vulva adalah area yang sangat sensitif dan halus, mirip dengan bibir di wajah. Kamu ingin memperlakukannya dengan lembut,” kata dokter obgyn Alyse Kelly-Jones seperti dikutip dari Healthline.

Keputihan yang normal sebenarnya adalah hal yang wajar, bahkan menandakan vagina yang sehat — mirip dengan kelembaban yang selalu ada di mulut— tentu kita perlu memakai celana dalam yang menyerap kelembaban ekstra dengan lembut. Itu sebabnya serat alami yang bernapas lebih disukai.

Terlalu ketat

Bukan hanya jenis bahan yang dapat mengganggu kulit sensitif. Hal penting lain yang perlu dipertimbangkan saat kamu memilih pakaian dalam adalah seberapa ketatnya.

Jika pakaian dalam sangat ketat, hal itu dapat menyebabkan gesekan yang akan mengiritasi dan dapat menyebabkan rambut tumbuh ke dalam.

Demikian pula, penumpukan panas dan kelembaban dapat membuat kita beresiko besar mengalami infeksi jamur.

Hal ini harus diperhatikan jika kamu termasuk sering berolahraga. Beberapa ahli merekomendasikan berolahraga tanpa celana. Namun, jika kamu tidak nyaman dengan itu, pastikan memakai pakaian dalam yang menyerap keringat dan longgar.

Celana dalam model thong

Secara historis celana dalam model thong dianggap buruk bagi kesehatan vagina.

Studi berpendapat bahwa karena potongannya dan ketat, memakai celana dalam model ini dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, vaginosis bakteri, dan infeksi jamur.

Namun, penelitian yang lebih baru menemukan ini tidak terjadi. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Obstetrics and Gynecology menemukan bahwa mengenakan thong tidak terkait dengan infeksi. Disebutkan bahwa kebersihan organ intim secara keseluruhan lebih berpengaruh.

Namun, bahan dan kekencangan thong tetap dapat mempengaruhi kesehatan vagina. Jadi, jika ingin tetap memakainya, pakailah sebentar saja dan pilih yang bahannya bisa menyerap dengan baik.

Selain itu untuk penggunaan shapewear seperti korset, sebaiknya jangan terlalu sering menggunakan yang terlalu ketat.

Walau shapewear sangat efektif untuk membentuk siluet tubuh, namun jika digunakan untuk waktu yang lama dapat mengganggu pencernaan yang menyebabkan mulas dan refluks asam.

Ini juga membuat proses pergi ke toilet tidak praktis sehingga kita cenderung menahan buang air kecil yang beresiko menyebabkan infeksi saluran kemih.

Baca Juga: Keputihan Tanda Hamil, Kenali Lebih Jauh Ciri-cirinya!

Jika kamu memiliki masalah seputar keputihan dan kesehatan reproduksi, kamu bisa berkonsultasi ke Halo DKT dengan menghubungi nomor Whatsapp Halo DKT 0811-1-326459 dan juga link bit.ly/halodktwhatsapp.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

artikel lainnya