Mengatasi Endometriosis dengan Pil KB, Apakah Bisa?

Satu dari sepuluh perempuan mengalami endometriosis dengan gejala-gejala yang dimulai sejak masa remaja dan berkembang terus seiring dengan bertambahnya usia (Hill, 2019). Sayangnya, meskipun dialami oleh banyak perempuan dan dampaknya cukup serius, seringkali dibutuhkan waktu yang lama untuk menetapkan diagnosis endometriosis, sebab gejalanya seringkali menyerupai nyeri menstruasi biasa dan orang seringkali menyepelekan nyeri menstruasi. Padahal, endometriosis sangat menghambat penderitanya dari melakukan aktivitas sehari-hari.

Endometriosis merupakan suatu kondisi di mana jenis sel-sel endometrium yang biasanya melapisi rahim malah tumbuh di luar rahim (Okamoto, 2018). Saat perempuan mengalami menstruasi dan lapisan dinding rahim luruh, sel-sel ini ikut luruh. Masalahnya, karena tidak berlokasi di dalam rahim, sel-sel yang luruh ini tidak bisa keluar bersama dengan darah menstruasi dan malah terperangkap di dalam tubuh sehingga bisa menyebabkan rasa nyeri.
Gejala endometriosis bisa berbeda-beda tergantung pada lokasinya, namun beberapa yang cukup umum antara lain sebagai berikut (Hill, 2019).

  • Nyeri di bagian panggul dan/atau punggung
  • Nyeri saat menstruasi, berhubungan seks, berolahraga, dan/atau buang air kecil
  • Frekuensi buang air kecil meningkat
  • Gangguan pencernaan
  • Gangguan kesuburan
  • Mudah lelah
  • Depresi

Diagnosisnya dilakukan berdasarkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan terkadang juga melibatkan operasi laparaskopi (Dweck & Westen, 2017). Endometriosis tidak dapat disembuhkan, namun ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi gejala-gejalanya. Biasanya, penanganan berfokus pada dua hal, yaitu upaya untuk mengatasi ketidak-seimbangan hormon estrogen dalam tubuh dan strategi-strategi lainnya untuk mengontrol rasa nyeri dan menghentikan pertumbuhan sel-sel endometrium.

Salah satu metode yang sering digunakan dokter untuk mengatasi keluhan terkait endometriosis adalah dengan meresepkan kontrasepsi hormonal (Schrager, Larson, et al., 2020). Misalnya, dengan menggunakan pil KB kombinasi. Dengan mengonsumsi pil KB kombinasi, tubuh bisa menyeimbangkan kadar hormon estrogen yang sering menjadi masalah pada kasus-kasus endometriosis. Selain itu, pil KB kombinasi juga bisa mengurangi pendarahan sel-sel endometrium di masa menstruasi dan mencegah menyebarnya sel-sel ini ke bagian-bagian lain di sekitar area perut. Meskipun demikian, tentunya strategi ini tetap harus dikonsultasikan pada dokter terlebih dahulu. Soalnya, kebutuhan medis setiap orang berbeda.

Baca juga : Pil KB Bisa Mencegah Kista di Indung Telur?, Ini Alasannya!

Pola hidup sehat juga sangat berpengaruh. Sebaiknya, kurangi konsumsi daging dan susu atau pilihlah daging dan susu organik, sebab daging dan susu seringkali ditambahkan hormon secara berlebihan dalam proses produksinya. Hindari juga alkohol dan kafein, sebab keduanya bisa menyebabkan ketidakseimbangan tingkat hormon estrogen dalam tubuh (Hill, 2019).

Untuk kasus-kasus yang lebih serius, terkadang dibutuhkan operasi untuk mengangkat sel-sel endometrium yang berada di luar rahim. Bila nyeri sangat parah dan tidak bisa ditahan lagi, dokter juga akan memberikan pilihan untuk menjalani histerektomi atau pengangkatan rahim sebagai alternatif terakhir (Okamoto, 2018).

Begitulah sekilas pembahasan soal endometriosis dan penanganannya. Jika ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.