Tips Merespon Komentar Nyinyir atas Keputusan Kamu Ikut Program Keluarga Berencana (KB)

“Ngapain KB? Banyak anak banyak rezeki…”
“Suami pasti pingin anak, kok ditahan-tahan?”
“Nggak kasian sama orangtua? Nanti mereka nggak sempat ngerasain punya cucu loh.”
“Sudah kodratnya perempuan jadi ibu, buat apa ngejar pendidikan dan karir tinggi-tinggi?”

Sebagai orang yang memilih untuk berkontrasepsi, Kamu mungkin sering mendengar cibiran-cibiran pedas tadi. Rasanya semua orang ingin ikut campur dalam pembuatan keputusan Kamu. Padahal, Kamulah yang menjalani hidup dan paling paham akan kebutuhan dan kemampuan sendiri. Tak perlu pusing dalam merespon, berikut beberapa tips yang bisa Kamu gunakan untuk menanggapi komentar-komentar nyinyir atas keputusan Kamu ikut program Keluarga Berencana (KB).

  • Jelaskan alasan Kamu mengikuti program Keluarga Berencana (KB)
    Setiap orang punya alasan masing-masing atas keputusan yang mereka ambil. Lawan bicara Kamu mungkin kurang paham bahwa Kamu punya prioritas lain yang saat ini lebih penting daripada membangun keluarga. Contoh penjelasan yang bisa Kamu gunakan:
    “Harus nabung dulu nih, biar nanti lebih siap untuk punya momongan, hehe…”
    “Waduh, masih banyak kegiatan. Kalau punya anak sekarang, nanti nggak ada yang ngurus…”
    “Iya nih, pengen nambah anak lagi, tapi kata dokter sebaiknya dikasih jarak dulu beberapa tahun, biar lebih siap untuk hamil lagi dan si Kakak lebih siap punya adik…”
    Tips Merespon Komentar Nyinyir atas Keputusan Kamu Ikut Program Keluarga Berencana (KB)

  • Respon dengan humor
    Kalau Kamu tak ingin memberi penjelasan panjang lebar, Kamu bisa mencoba merespon dengan menggunakan humor. Faktanya, menggunakan humor ketika sedang ada perselisihan pendapat bisa membuat orang lain cenderung lebih setuju dengan Kamu dan lebih mau berkompromi (Nir & Halperin, 2018). Beberapa contoh respon humoris yang bisa Kamu gunakan misalnya:   
    “Kalau bayar biaya persalinan dan beli susu anak bisa pake daun, dijamin deh aku udah ngegendong bayi sekarang.”
    “Duh, suami ngorok aja udah bikin aku kurang tidur, apalagi kalo ada bayi yang nangis-nangis, hahaha… Pasti bakal telat ngantor.”
    “Kalian yang pingin anak bikin bayi duluan deh, nanti aku jadi tim hore buat gendong-gendong aja. Urusan ganti popok dan yang rempong-rempong orang lain, ya! Hahaha…”
    Tips Merespon Komentar Nyinyir atas Keputusan Kamu Ikut Program Keluarga Berencana (KB)

  • Sampaikan bahwa komentar mereka membuat Kamu tidak nyaman
    Terkadang, orang yang memberi komentar soal keputusan Kamu ikut program Keluarga Berencana (KB) sebenarnya mungkin punya maksud yang baik. Akan tetapi, cara yang mereka gunakan untuk menunjukkan kepedulian salah. Terus terang saja bahwa Kamu tidak nyaman dengan komentar mereka. Mudah-mudahan mereka bisa mengerti. Bila lawan bicara tetap bersikap keras kepala, akhiri percakapan tersebut, sebab tak ada gunanya terus berdebat dengan seseorang yang tidak menghargai Kamu.
    Tips Merespon Komentar Nyinyir atas Keputusan Kamu Ikut Program Keluarga Berencana (KB)

Baca Juga: Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Suami Bila Istri Ingin Ikut Program Keluarga Berencana (KB)

Demikianlah beberapa tips untuk merespon komentar nyinyir atas keputusan Kamu ikut program Keluarga Berencana (KB). Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, Kamu bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Tak Masalah Tinggal di Pelosok Desa, Ini Program Keluarga Berencana yang Mudah Diakses

Di mana pun Kamu tinggal, kontrasepsi tetap menjadi kebutuhan pokok. Bagi pasangan-pasangan di kota besar, biaya hidup yang mahal membuat pembatasan ukuran keluarga menjadi sebuah keharusan. Di pedesaan, biaya hidup sangat murah, namun kontrasepsi tetap dibutuhkan, sebab pendapatan pun lebih kecil. DKT Indonesia memahami kebutuhan Kamu dan senantiasa berupaya untuk menyediakan akses program Keluarga Berencana (KB) yang mudah di seluruh penjuru nusantara. Berikut beberapa jenis program Keluarga Berencana (KB) yang dapat diakses di pedesaan.

Baca juga: Sehabis Pasang KB Susuk Tak Boleh Kerja Berat, Betulkah?

Tak perlu jauh-jauh ke rumah sakit mewah di perkotaan, program Keluarga Berencana (KB) seperti pemasangan IUD tembaga, pemasangan KB implan, suntik KB, dan pemberian resep pil KB bisa dilakukan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Pondok Bersalin Desa (Polindes), Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), maupun tempat praktik pribadi milik dokter / bidan Andalan setempat. Kamu juga bisa mencari bidan Andalan terdekat di kotamu, dengan klik Cari Bidan Sahabat Andalan terdekat pada tautan berikut: https://dktindonesia.org/andalan-clinic/

Alternatif lainnya, Kamu juga bisa membeli kondom secara bebas di apotek atau minimarket. Itulah sejumlah pilihan program Keluarga Berencana (KB) yang bisa diakses dengan mudah di wilayah pedesaan. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, Kamu bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Suami Bila Istri Ingin Ikut Program Keluarga Berencana (KB)

Bila Anda dibesarkan dengan keyakinan bahwa hal pertama yang harus dilakukan setelah berumah tangga adalah memiliki anak, sedangkan istri Anda memiliki prinsip yang berbeda, wajar saja kalau Anda merasa agak kaget dan bingung merespon keinginan istri. Perbedaan pandangan dalam pernikahan adalah sesuatu yang wajar. Meskipun begitu, segalanya tetap harus didiskusikan dengan kepala dingin dan pertimbangan yang matang. Berikut 3 hal yang sebaiknya Anda lakukan sebagai suami bila istri ingin ikut program Keluarga Berencana (KB).

  1. Mendengarkan alasan di balik keinginan istri untuk ikut program Keluarga Berencana (KB)
    Ingat bahwa dalam setiap keputusan untuk memiliki anak, istri adalah pihak yang akan memikul beban lebih berat, sehingga sudah sewajarnya Anda sebagai suami mendengarkan pendapatnya terlebih dahulu. Dialah yang nantinya harus mengandung dan melahirkan seorang anak. Belum lagi bila Anda bekerja penuh waktu dan berharap istri akan sepenuhnya mengasuh sang buah hati. Bisa saja, istri punya rencana yang sedang ia kejar seperti pendidikan atau karier yang penting bagi dirinya, sehingga ia ingin menunda terlebih dulu, meskipun ia juga ingin punya anak. Selain itu, bisa pula istri ternyata memiliki kondisi medis tertentu yang bisa menyebabkan kehamilan menjadi berisiko, sehingga banyak treatment yang perlu ia jalani sebelum tubuhnya siap untuk hamil. Ada banyak kemungkinan mengapa istri ingin berkontrasepsi. Oleh karena itu, diskusikanlah terlebih dahulu secara terbuka dan tanpa penghakiman. Jangan sampai istri merasa bahwa nilainya di mata Anda hanya terbatas pada kemampuannya menghasilkan keturunan.
    Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Suami Bila Istri Ingin Ikut Program Keluarga Berencana (KB)
  2. Mencari informasi mengenai program Keluarga Berencana (KB) yang sesuai
    Setelah Anda memahami alasan keinginan istri untuk mengikuti program KB, cari tahulah bersama-sama program KB yang sesuai dengan kebutuhan istri dan Anda. Jika Anda tak ingin menunda terlalu lama, sementara istri tak ingin terlalu cepat, mungkin Anda dan istri bisa mencari titik tengah. Ada banyak jenis alat KB dengan jangka waktu perlindungan yang berbeda. IUD melindungi penggunanya dari kehamilan hingga 10 tahun dan implan hingga 3 tahun, namun keduanya dapat dilepas kembali dengan mudah oleh dokter atau bidan bila Anda dan pasangan berubah pikiran dan ingin merencanakan kehamilan sebelum masa perlindungan berakhir. Untuk KB yang jangka waktunya lebih pendek, tersedia suntikan KB 1 bulanan dan 3 bulanan. Selain itu, ada juga pil KB yang tinggal diminum setiap hari dalam sebulan, serta kondom yang ampuh melindungi dari infeksi menular seksual (IMS) dan hanya perlu dipakai setiap kali berhubungan seks saja.
    Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Suami Bila Istri Ingin Ikut Program Keluarga Berencana (KB)
  3. Menemani dan mendukung istri
    Terakhir, ketika istri dan Anda sama-sama telah menemukan pilihan program Keluarga Berencana (KB) yang tepat, tunjukkan dukungan Anda. Temanilah istri ketika mengunjungi bidan atau dokter. Prosedur KB pada umumnya sangat sederhana dan nggak menyebabkan rasa sakit, namun istri mungkin merasa deg-degan karena belum pernah menjalaninya. Dengan kehadiran Anda di sisinya, ia akan merasa lebih nyaman.
    Tiga Hal yang Bisa Anda Lakukan Sebagai Suami Bila Istri Ingin Ikut Program Keluarga Berencana (KB)

Baca juga : Berbeda dengan di Masa Lalu, Ini 4 Kemudahan Program Keluarga Berencana di Era Modern

Demikianlah 3 hal yang bisa Anda lakukan sebagai suami bila istri ingin ikut program Keluarga Berencana (KB). Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?

Ketika mendengar istilah Keluarga Berencana (KB), kebanyakan orang langsung membayangkan seorang ayah, ibu, dan dua orang anak. Padahal, momen ideal untuk ikut program Keluarga Berencana (KB) sebenarnya jauh lebih fleksibel dan nggak harus menunggu datangnya kehadiran dua orang anak terlebih dahulu. Berikut sejumlah mitos populer mengenai waktu terbaik untuk ikut program Keluarga Berencana (KB) dan fakta di baliknya.

  • “KB hanya untuk usia 18 tahun ke atas.”
    Faktanya, remaja pun terkadang membutuhkan pelayanan KB. Soalnya, KB juga dipakai untuk membantu gejala-gejala yang seringkali muncul di masa pubertas. Beberapa contohnya adalah penggunaan pil KB untuk mengatasi menstruasi yang berlebihan, migrain saat menstruasi, dan mood yang kurang stabil (Brant, Ye, et al., 2017). Jadi, jangan serta-merta marah bila adik, keponakan, atau putri Anda yang masih remaja ingin berkonsultasi mengenai KB pada Anda karena ada temannya yang menggunakannya.
    Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?
  • “KB sebaiknya digunakan hanya bila sudah menikah.”
    Kalaupun Anda belum menikah atau tidak berniat untuk menikah, KB tetap sebaiknya digunakan apabila Anda sudah aktif secara seksual namun tidak siap untuk memiliki anak. Hubungan seks dengan kontrasepsi adalah hubungan seks yang bertanggung jawab dan tidak merugikan siapa-siapa. Sebaliknya, tanpa kontrasepsi akan ada banyak beban yang harus dipikul bila kehamilan yang tidak direncanakan sampai terjadi. WHO pun menyarankan penggunaan kontrasepsi untuk menurunkan angka aborsi tidak aman yang banyak terjadi di Asia (WHO, 2019).
    Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?
  • “Jika baru berumah tangga dan belum punya anak, jangan ikut KB dulu, soalnya nanti lebih susah punya anak.”
    Tak perlu khawatir, sebab ini hanya hoax belaka. Penelitian telah membuktikan bahwa mengikuti program Keluarga Berencana (KB) tidak akan mengurangi kesuburan Anda (Girum & Wasie, 2018). Kesuburan akan langsung kembali tak lama setelah program KB dihentikan. Jadi, Anda tetap bisa memiliki momongan.
    Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?
  • “Kalau usia sudah 40-an, nggak perlu pakai KB, karena nggak bakal hamil.”
    Meskipun risiko kehamilan lebih rendah, kemungkinan hamil tetap ada selama seorang perempuan belum memasuki masa menopause. Oleh karena itu, usia 40-an pun tetap merupakan waktu yang baik untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Justru, kehamilan di usia 40 tahun ke atas lebih berbahaya, karena berisiko menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, dan abnormalitas kromosom (Frederiksen, Ernst, et al., 2018).
    Adakah Waktu Terbaik untuk Ikut Program Keluarga Berencana?

Baca juga : Tekanan Darah Tinggi? Ini 5 Metode Keluarga Berencana yang Baik bagi Anda

Dari beberapa poin tadi, bisa disimpulkan bahwa program KB dapat memberikan manfaat bagi pengguna dari berbagai kelompok usia, mulai dari masa pubertas hingga menopause. Jadi, tak perlu menunggu ‘waktu terbaik’, karena sebenarnya sama saja. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Mengurangi Risiko Kematian Ibu dengan Program Keluarga Berencana

Berdasarkan data terbaru WHO tahun 2017, sebanyak 810 perempuan di berbagai negara meninggal dunia setiap harinya akibat proses kehamilan dan melahirkan. Dari angka rata-rata tersebut, 94% terjadi di negara berkembang. Situasi ini sangat disayangkan, sebab sebenarnya terdapat banyak cara untuk mengurangi risiko kematian ibu. Salah satunya adalah melalui program Keluarga Berencana (KB).

Berikut beberapa alasan mengapa program Keluarga Berencana (KB) bisa mengurangi risiko kematian ibu.

  • Perempuan usia muda yang secara fisik dan psikologis belum siap untuk hamil bisa menunda kehamilannya terlebih dahulu
    Faktanya, perempuan yang hamil di usia belasan tahun memiliki risiko kematian, terkena penyakit, dan gangguan kesehatan mental yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang berusia 20 tahun ke atas (Neal, Mahendra, Bose, et al., 2016; Wong, Twynstra, et al., 2020). Oleh karena itu, kehamilan di usia yang terlalu muda sebaiknya dihindari. Dengan mengikuti program Keluarga Berencana (KB), Anda bisa menunda kehamilan hingga usia yang lebih ideal untuk punya anak. Selain itu, program Keluarga Berencana juga turut mengurangi angka kematian ibu akibat aborsi yang tidak aman.
    Mengurangi Risiko Kematian Ibu dengan Program Keluarga Berencana
  • Pasangan muda punya waktu untuk bekerja dan menabung hingga lebih mampu membiayai layanan kesehatan berkualitas dan mencukupi kebutuhan nutrisi optimal pendukung kehamilan
    Persiapan dari mulai kehamilan hingga persalinan tentunya tidak murah dan akan memakan biaya yang cukup besar. Mulai dari biaya pemeriksaan kesehatan ke rumah sakit, kelas persiapan kehamilan, makanan dan minuman sehat, vitamin penunjang kehamilan, hingga persalinan itu sendiri. Setelah melahirkan pun, Anda masih perlu melakukan banyak kunjungan ke dokter. Oleh karena itu, pasangan muda terkadang perlu waktu untuk bekerja dan menabung terlebih dahulu hingga kondisi finansial lebih stabil. Di sinilah letak peran program Keluarga Berencana (KB).
    Mengurangi Risiko Kematian Ibu dengan Program Keluarga Berencana
  • Perempuan dengan kondisi medis tertentu yang apabila hamil nyawanya terancam bisa mencegah kehamilan
    Perempuan dewasa di usia akhir 30-an hingga akhir 40-an yang masih berpotensi hamil namun bisa membahayakan nyawa dapat mencegah kehamilan dengan program Keluarga Berencana (KB). Demikian juga dengan perempuan-perempuan lain yang secara medis karena kondisi tertentu memiliki risiko kematian yang lebih tinggi apabila hamil, misalnya perempuan dengan penyakit jantung, kelainan darah, diabetes, dan sebagainya. Bukan berarti tidak boleh memiliki anak sama sekali, namun mengadopsi anak bisa menjadi alternatif yang lebih aman daripada memaksakan diri untuk punya anak secara biologis.
    Mengurangi Risiko Kematian Ibu dengan Program Keluarga Berencana

Baca juga : Ingin Suntik KB Namun Takut Disuntik? Ini 6 Strategi untuk Mengalahkan Ketakutan Anda

Itulah beberapa cara program Keluarga Berencana (KB) membantu mengurangi risiko kematian ibu. Jika ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Tekanan Darah Tinggi? Ini 5 Metode Keluarga Berencana yang Baik bagi Anda

Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2019, hipertensi alias tekanan darah tinggi adalah salah satu penyakit kardiovaskuler yang paling banyak diidap masyarakat Indonesia. Bagi Anda yang mengalami hipertensi, memilih metode Keluarga Berencana (KB) perlu dilakukan dengan lebih hati-hati, sebab tidak semua kontrasepsi dapat Anda gunakan dengan bebas. Meskipun begitu, tak perlu khawatir, sebab Anda masih memiliki banyak pilihan. Berikut sekilas penjelasannya.

Dalam adaptasi diagram WHO edisi ke-5 tahun 2015, penggunaan pil KB kombinasi dan suntikan kombinasi tidak disarankan bagi penderita hipertensi dengan tekanan darah 140-159 / 90-99, kecuali apabila tidak ada alternatif kontrasepsi lain di klinik atau fasilitas kesehatan tersebut. Sementara itu, bila tekanan darah >160 / >100, pil KB kombinasi dan suntikan kombinasi tidak boleh digunakan sama sekali. Soalnya, pil KB kombinasi dan suntikan kombinasi mengandung hormon estrogen yang juga bisa meningkatkan tekanan darah, sehingga berbahaya bila digunakan oleh penderita hipertensi, meskipun bisa digunakan dengan aman oleh orang-orang dengan tekanan darah yang normal.
Alternatif kontrasepsi yang aman dan baik digunakan bagi penderita hipertensi antara lain:

  • Pil Laktasi
    Pil laktasi alias pil KB yang hanya mengandung hormon progesteron saja aman dikonsumsi oleh penderita hipertensi setiap harinya. Di Indonesia, salah satu contoh pil laktasi adalah pil KB Andalan Laktasi. Isinya 28 butir pil yang masing-masing mengandung 0,5 mg Linestrenol/hormon progesteron.
    Tekanan Darah Tinggi? Ini 5 Metode Keluarga Berencana yang Baik bagi Anda
  • Implan KB
    Implan KB atau KB susuk merupakan alat kontrasepsi mungil yang dipasang di bawah permukaan kulit lengan bagian atas. Masa perlindungan implan ialah hingga 3 tahun. Contoh implan yang saat ini banyak digunakan di Indonesia misalnya implan Andalan berbatang dua yang mengandung 75 mg Levonorgestrel per batang. Levonorgestrel juga merupakan hormon progesteron, sehingga aman bagi orang-orang dengan tekanan darah tinggi.
    Tekanan Darah Tinggi? Ini 5 Metode Keluarga Berencana yang Baik bagi Anda
  • Suntikan KB 3 Bulan
    Suntikan KB yang hanya mengandung hormon progesteron saja biasanya dilakukan setiap 3 bulan sekali. Suntikan ini aman bagi penderita hipertensi bila tekanan darah 140-159 / 90-99, namun tidak disarankan bila tekanan darah >160 / >100. Contohnya adalah Andalan Suntikan KB 3 bulan 3 ml dan 1 ml dan/atau Suntikan KB Depo Harmonis 3 bulan 1 ml dan 3 ml.
    Tekanan Darah Tinggi? Ini 5 Metode Keluarga Berencana yang Baik bagi Anda
  • IUD tembaga
    Bila Anda menginginkan alternatif kontrasepsi jangka panjang yang tahan bertahun-tahun, aman bagi penderita hipertensi, dan tidak mengandung hormon sama sekali, IUD tembaga adalah solusi yang tepat untuk program Keluarga Berencana (KB) Anda. Alih-alih menggunakan hormon, IUD tembaga bekerja mencegah kehamilan dengan melepas ion-ion yang bersifat toksik bagi sperma. Beberapa macam IUD tembaga populer di Indonesia misalnya IUD Andalan TCu 380A, Andalan Cu 375 Sleek, dan Andalan Silverline Cu 200 / Cu 380 Ag.
    Tekanan Darah Tinggi? Ini 5 Metode Keluarga Berencana yang Baik bagi Anda
  • Kondom
    Kontrasepsi non-hormonal lainnya yang aman bagi penderita hipertensi adalah kondom. Selain bisa menjadi metode Keluarga Berencana (KB) yang baik untuk mencegah kehamilan, kondom merupakan satu-satunya kontrasepsi yang juga bisa melindungi penggunanya dari risiko infeksi menular seksual (IMS). Beberapa brand kondom terpercaya yang telah sesuai standar mutu internasional misalnya kondom Andalan, Fiesta, Sutra, dan Supreme.
    Tekanan Darah Tinggi? Ini 5 Metode Keluarga Berencana yang Baik bagi Anda

Baca juga : Mengatasi Endometriosis dengan Pil KB, Apakah Bisa?

Itulah jenis-jenis metode Keluarga Berencana (KB) yang aman bagi Anda yang bertekanan darah tinggi. Jika ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Berbeda dengan di Masa Lalu, Ini 4 Kemudahan Program Keluarga Berencana di Era Modern

Dengan kemajuan sains dan teknologi, kontrasepsi telah banyak berkembang. Dibandingkan dengan pengguna kontrasepsi di masa lalu, pengguna kontrasepsi di era modern jauh lebih diuntungkan. Berikut 4 kemudahan program Keluarga Berencana di era modern yang tidak bisa dinikmati oleh generasi-generasi sebelum kita.

  1. Lebih mudah diakses
    Dulu, akses kontrasepsi sangat terbatas. Pada tahun 1960-an, bahkan negara maju seperti Inggris pun masih membatasi akses pil KB hanya bagi pasangan yang sudah menikah saja (Witton, 2019), apalagi di negara-negara berkembang. Padahal, pil KB dibutuhkan oleh banyak perempuan tidak hanya untuk mencegah kehamilan, namun juga untuk mengatasi keluhan-keluhan seperti premenstrual syndrome (PMS), premenstrual dysphoric syndrome (PMDD), endometriosis, dan ketidak-stabilan hormon. Sekarang, pil KB mudah didapatkan dengan resep dokter, baik bagi yang sudah menikah maupun belum. Suntik KB, pemasangan implan, dan pemasangan IUD pun diperbolehkan bagi siapapun, asalkan sesuai dengan kondisi kesehatan. Masyarakat bisa mengakses kondom secara bebas. Informasi mengenai kontrasepsi pun tidak lagi tabu dan dapat diperoleh dengan gampang dari internet.
    Berbeda dengan di Masa Lalu, Ini 4 Kemudahan Program Keluarga Berencana di Era Modern
  2. Lebih efektif
    Dulu, orang menggunakan diafragma dan spons untuk mencegah kehamilan. Efektivitasnya sangat rendah. Tingkat kegagalan spons bisa mencapai 30% (Dweck & Westen, 2017). Sekarang, orang-orang sudah beralih ke kondom yang efektivitasnya relatif lebih tinggi. Bila mengikuti instruksi secara tepat dan konsisten, efektivitas kondom bisa mencapai 98% (NHS UK). Kondom pun bisa melindungi penggunanya dari infeksi menular seksual (IMS), suatu keunggulan yang belum ada di masa lalu. Selain kondom, ada pula KB suntik, IUD, dan KB implan yang memiliki efektivitas lebih tinggi lagi, karena penggunaannya dibantu oleh tenaga medis terlatih.
    Berbeda dengan di Masa Lalu, Ini 4 Kemudahan Program Keluarga Berencana di Era Modern
  3. Lebih aman, nyaman, dan minim efek samping
    Ketika baru diciptakan, kadar hormon dalam pil KB tinggi sekali, 10 mg progesteron dan 0,15 mg estrogen, jauh melebihi yang dibutuhkan tubuh untuk mencegah kehamilan (Witton, 2019). Tidak mengherankan jika saat itu efek samping dari pil KB banyak sekali. Sekarang, dosisnya jauh lebih kecil. Pil KB Andalan, misalnya, hanya mengandung 0,15 mg Levonorgestrel (progesteron) dan 0,03 mg Etinilestradiol (estrogen). Alhasil, pil KB masa kini lebih aman bagi tubuh dan minim efek samping. Metode-metode KB modern lainnya pun lebih aman dan nyaman digunakan. Bila dulu kondom sangat tebal dan terbuat dari usus hewan, sekarang kondom sangat tipis dan terbuat dari lateks yang halus dan nyaman. Dengan Kondom Fiesta Ultra Thin, misalnya, hubungan seks lebih aman, nyaman, dan terasa seperti tidak memakai apapun.
    Berbeda dengan di Masa Lalu, Ini 4 Kemudahan Program Keluarga Berencana di Era Modern
  4. Lebih bervariasi
    Di era modern ini, Anda bisa memilih mulai dari kondom, pil KB, suntik KB, implan, hingga IUD. Bila tidak cocok dengan salah satu metode, Anda bisa dengan mudah beralih ke metode yang lain. Tiap metode pun memiliki fitur unik yang berbeda-beda. Misalnya, kondom ada yang bertekstur, beraroma, dan memiliki pelumas khusus hingga membuat seks lebih tahan lama. Pil KB pun demikian, ada yang hanya berisi pil KB saja, ada pula yang ditambah dengan suplemen zat besi untuk mencegah anemia saat menstruasi, seperti Pil KB Andalan FE. Kenikmatan-kenikmatan ini tidak dirasakan oleh generasi pendahulu Anda di masa lalu, sebab jenis kontrasepsi dulu lebih terbatas daripada sekarang.
    Berbeda dengan di Masa Lalu, Ini 4 Kemudahan Program Keluarga Berencana di Era Modern

Baca juga : 4 Metode Keluarga Berencana yang Paling Praktis untuk Mendukung Karir Anda

Begitulah kemudahan program Keluarga Berencana (KB) di era modern. Jika ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Manfaat Punya Orangtua yang Ikut Keluarga Berencana bagi Si Anak Sulung

Dalam proses pembuatan keputusan untuk menambah anak, terkadang orangtua lupa mempertimbangkan kepentingan anak pertama mereka. Padahal, anak pertama seringkali dirugikan ketika orangtuanya tidak merencanakan keluarga dengan matang. Dengan mengikuti program Keluarga Berencana (KB) dan mengatur jarak kelahiran, hal ini bisa dihindari. World Health Organization (WHO) menyarankan jarak kelahiran ideal antara anak pertama dan anak kedua minimal 24 bulan (2 tahun). Penelitian terkini lainnya menganjurkan jarak kelahiran 3-5 tahun (Tsegaye, Shuremu, et al., 2017). Sementara itu, menurut RISKESDAS Kemenkes RI 2018, jarak kelahiran ideal adalah 4 hingga 5 tahun, karena selain rahim ibu sudah siap untuk mengandung kembali, bonding antara ibu dan anak sudah cukup kuat, sehingga anak siap untuk menjadi kakak. Artinya, semakin optimal jarak kelahiran, semakin baik.

Berikut 4 manfaat punya orang tua yang ikut program Keluarga Berencana (KB) bagi si anak sulung:

  1. Kebutuhan nutrisi dan ASI di tahap awal masa pertumbuhan lebih tercukupi
    Dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki adik di usia yang lebih dini, anak yang orangtuanya mengikuti program Keluarga Berencana (KB) memperoleh asupan nutrisi yang lebih baik dan mendapatkan ASI untuk durasi yang lebih panjang. WHO dan UNICEF sama-sama merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama usia anak, diikuti dengan kombinasi ASI dan makanan bernutrisi mulai dari usia 6 bulan hingga usia 2 tahun atau lebih. Nah, bila dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun orang tua telah memiliki anak lagi, durasi pemberian ASI si sulung akan menjadi lebih singkat.
    Manfaat Punya Orangtua yang Ikut Keluarga Berencana bagi Si Anak Sulung
  2. Lebih dekat dengan orangtuanya
    Dengan menunda punya anak kedua hingga setidaknya 2 tahun, si sulung punya kesempatan untuk lebih dekat dengan Anda. Hal ini sangat penting, sebab hubungan anak dengan orang tua akan menjadi dasar bagi hubungan sosial anak dengan orang lain di masa depannya. Anak yang dekat dengan orang tuanya juga akan menjadi lebih percaya diri.
    Manfaat Punya Orangtua yang Ikut Keluarga Berencana bagi Si Anak Sulung
  3. Lebih terbantu tugas-tugas perkembangannya
    Dengan jarak kelahiran optimal, orang tua lebih mampu membantu anak pertamanya untuk belajar dan mempersiapkan diri secara maksimal untuk tugas-tugas perkembangannya. Sebaliknya, jika anak terlalu cepat memiliki adik, orang tua cenderung kurang fokus mendidik si sulung. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hayes et al. di Amerika Serikat menemukan bahwa anak-anak sulung yang jarak kelahiran dengan adiknya di bawah 2 tahun cenderung lebih sering gagal dalam tes kognitif dan lebih tidak siap untuk masuk sekolah.
    Manfaat Punya Orangtua yang Ikut Keluarga Berencana bagi Si Anak Sulung
  4. Secara mental lebih siap untuk memiliki adik
    Kehadiran bayi bisa jadi situasi yang mengagetkan dan sulit diterima anak kecil. Saat seorang anak mulai memiliki adik, ia harus berbagi makanan, mainan, dan perhatian dari orangtuanya. Sangat normal bagi anak kecil untuk menunjukkan rasa cemburu, mencari perhatian, serta berusaha mencubiti atau memukul adiknya ketika orang tua tidak melihat (Regan, 2019). Nah, program Keluarga Berencana (KB) bisa membantu Anda mengatur jarak kelahiran hingga si Kecil memang sudah lebih siap untuk punya adik. Ketika anak sudah agak lebih besar, Anda bisa mengobrol dengannya dan meyakinkannya bahwa Anda masih akan selalu menyayanginya meskipun ia akan memiliki seorang adik.
    Manfaat Punya Orangtua yang Ikut Keluarga Berencana bagi Si Anak Sulung

Baca juga : 5 Manfaat Ikut Program Keluarga Berencana Saat Melanjutkan Pendidikan Tinggi

Itulah 4 manfaat punya orang tua yang ikut Keluarga Berencana (KB) bagi si anak sulung. Jika ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

4 Keuntungan Ikut Program Keluarga Berencana untuk Para Ayah

Program Keluarga Berencana (KB) seringkali diasosiasikan sebagai program pemberdayaan perempuan, baik yang baru menikah maupun yang telah menjadi ibu. Akan tetapi, tahukah Anda? Para ayah ternyata juga mendapat banyak keuntungan dari program Keluarga Berencana (KB). Berikut beberapa di antaranya.

  1. Lebih mudah mengatur keuangan?
    Jika di masa lajang Anda belum memiliki tanggungan, kini kondisinya berbeda. Biaya yang dikeluarkan setelah berumah tangga lebih besar, meskipun istri Anda mungkin saja bekerja. Dengan menunda punya anak, Anda bisa menabung dulu hingga benar-benar siap. Ingat bahwa biaya yang diperlukan tak hanya sebatas biaya kehamilan dan persalinan, namun juga biaya untuk mendukung masa depan anak hingga ia menyelesaikan pendidikan tinggi dan bisa mandiri. Apalagi jika ingin memiliki lebih dari satu anak, tentunya akan lebih baik bila bisa mengatur jarak kelahiran antara anak pertama dengan anak berikutnya. Di jeda waktu tersebut, Anda dan istri bisa mempersiapkan tabungan untuk menyambut anak kedua. Nah, nantinya setelah sudah puas dengan ukuran keluarga yang diinginkan, Anda pun bisa mempertahankannya dengan program Keluarga Berencana (KB).
    Keuntungan Ikut Program Keluarga Berencana untuk Para Ayah
  2. Lebih fokus membangun karir
    Jika tadinya Anda merupakan karyawan entry-level, Anda mungkin memiliki target untuk menjadi supervisor. Sementara itu, Anda yang sudah menjadi supervisor mungkin ingin menjadi manager. Demikian juga, Anda yang telah memimpin perusahaan bisa saja masih memiliki impian untuk membuka bisnis sendiri. Apapun gol Anda di bidang karir, akan lebih mudah untuk mencapainya bila Anda memiliki waktu untuk berfokus pada pengembangan diri, baik untuk mengikuti kegiatan pelatihan, melanjutkan pendidikan, atau mulai melakukan riset kecil-kecilan sebelum merintis usaha sendiri. Program Keluarga Berencana (KB) bisa menjadi solusi untuk masalah ini.
    Keuntungan Ikut Program Keluarga Berencana untuk Para Ayah
  3. Lebih sehat dan fit secara fisik
    Jam tidur seorang ayah biasanya akan berkurang secara drastis pada tahun-tahun awal mengasuh anak bersama istri. Sulit sekali beristirahat di sela-sela pekerjaan yang menumpuk dan suara tangisan bayi. Tak jarang, para ayah tertidur di kantor akibat kelelahan. Padahal, kurang tidur berdampak buruk terhadap performa kerja (Costa-Font & Flèche, 2017). Dengan istirahat yang kurang, daya tahan tubuh pun menurun dan Anda lebih rentan terkena penyakit. Memang benar bahwa pengalaman-pengalaman tersebut normal bila Anda memutuskan untuk menjadi seorang ayah, namun Anda tidak perlu mengalaminya setiap tahun, kan? Dengan program Keluarga Berencana (KB), Anda bisa mengatur porsi tanggung jawab keluarga sesuai kemampuan fisik Anda.
    Keuntungan Ikut Program Keluarga Berencana untuk Para Ayah
  4. Lebih banyak waktu untuk keluarga
    Dengan keluarga berukuran kecil, Anda memiliki lebih banyak waktu untuk benar-benar terlibat di kehidupan setiap anggota keluarga. Hubungan Anda dengan istri akan jadi lebih harmonis seiring dengan bertambahnya waktu untuk menjalin romansa. Anak pun bisa lebih dekat dengan Anda. Faktanya, anak-anak dengan ayah yang terlibat aktif dalam kehidupan sehari-hari mereka memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik, lebih sehat secara fisik, dan terjaga kesehatan mentalnya (Allport, Johnson, et al., 2018).?
    Keuntungan Ikut Program Keluarga Berencana untuk Para Ayah

Baca juga : 5 Manfaat Ikut Program Keluarga Berencana Saat Melanjutkan Pendidikan Tinggi

Demikianlah 4 manfaat mengikuti program Keluarga Berencana (KB) untuk para ayah. Jika ingin berkonsultasi, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Program Keluarga Berencana Ditentang Mertua? Ini 3 Strategi yang Bisa Anda Lakukan

Di banyak keluarga, mertua memiliki peranan penting dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Tidak jarang, mertua pun merasa bahwa merekalah yang berhak menentukan jumlah anak yang ideal untuk para menantu (Char, Saavala & Kulmala, 2010). Pilihan untuk mengikuti program Keluarga Berencana bisa menjadi sebuah tantangan. Meskipun begitu, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Berikut beberapa strategi yang bisa Anda terapkan.

  1. Berkomunikasi dengan terbuka
    Terkadang mertua hanya menginginkan yang terbaik bagi anak dan menantunya, namun cara mereka menunjukkannya kurang tepat. Jika ini kasusnya, yakinkan mertua bahwa program Keluarga Berencana memang merupakan keputusan yang tepat bagi Anda dan pasangan. Kemukakan juga segala informasi pendukung, misalnya jika Anda berargumen soal kesehatan, tunjukkan bahwa memang akan ada risiko medis apabila terjadi kehamilan. Kalau alasan Anda adalah ingin mengutamakan pendidikan atau karir dulu, ceritakan mengapa hal tersebut penting dan akan membuat Anda dan keluarga bahagia.
    Sampaikan juga bahwa Anda kemungkinan besar tidak akan bisa menjadi orangtua yang baik jika harus mengasuh anak dalam keadaan belum siap atau terpaksa. Kompromi untuk memberikan 1-2 orang cucu kemudian berkontrasepsi mungkin terdengar ideal, namun tidak bisa selalu dijadikan solusi. Faktanya, meskipun sudah diberikan beberapa orang cucu, banyak mertua yang tetap bersikeras menantunya hamil lagi hingga cucu yang diperoleh jenis kelaminnya sesuai harapan (Char, Saayala & Kumala, 2010).

  2. Memanfaatkan dukungan dari pasangan
    Jika mertua tidak mau mendengarkan Anda, jangan terburu-buru menyerah. Mungkin mereka mau mendengarkan sang buah hati alias pasangan Anda. Menurut penelitian, pasangan bisa menjadi mediator yang baik dalam konflik antara menantu dengan mertua (Shih & Pike, 2010). Meskipun begitu, menyerahkan segala masalah untuk diselesaikan pasangan tanpa berusaha sendiri juga tidak bijak. Pasangan boleh membantu, tetapi Anda tetap harus mampu berbicara untuk diri sendiri.

  3. Memperkuat otonomi pribadi
    Otonomi adalah kemampuan untuk mengatur diri sendiri. Dalam konteks Keluarga Berencana, Anda butuh otonomi untuk bisa menentukan ukuran keluarga sesuai dengan keinginan dan menggunakan kontrasepsi. Otonomi Anda akan lebih rendah jika Anda bergantung secara finansial pada mertua atau keluarga pasangan. Kasus seperti ini juga sering terjadi di India, di mana perempuan yang baru menikah biasanya tinggal bersama keluarga suaminya dengan suami sebagai kepala keluarga dan ibu mertua sebagai kepala rumah tangga yang membuat berbagai keputusan. Dengan rendahnya otonomi istri, keputusan mengenai jumlah keturunan ditetapkan oleh mertua. Bahkan ketika ingin mengunjungi puskesmas, klinik, atau rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan KB atau kesehatan reproduksi pun, hanya 14% perempuan yang tinggal bersama mertuanya diperbolehkan untuk pergi (Anukriti, Herrera-Almanza, Karra & Pathak, 2019). Situasi-situasi seperti ini tidak akan terjadi jika otonomi pribadi lebih besar.
    Ada banyak cara untuk memperbesar otonomi pribadi. Dua di antaranya adalah melalui pendidikan dan karir, khususnya bagi perempuan. Faktanya, perempuan dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki preferensi jumlah anggota keluarga yang lebih kecil, serta lebih berani mengambil keputusan untuk mewujudkannya (Kumar, Bordone, & Muttarak, 2016).

Baca juga : Ini 4 Alasan Mengikuti Program Keluarga Berencana Meskipun Belum Menikah

Itulah tadi tiga strategi yang bisa dilakukan apabila program Keluarga Berencana Anda ditentang oleh mertua. Selain itu, Anda juga bisa berkonsultasi ke Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau ke 0811-1-326459 pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00–17.00 WIB. Semua informasi yang Anda sampaikan akan dijamin kerahasiaannya.