4 Alasan Mengapa Anda Tidak Bisa Mengandalkan Metode Ejakulasi di Luar Sebagai Kontrasepsi

Dianggap sebagai cara yang paling alami untuk mencegah kehamilan, metode ejakulasi di luar merupakan strategi yang cukup populer dan banyak digunakan pasangan dari berbagai kalangan. Adam Levine pun mengaku menerapkan teknik ini sebelum memiliki anak. Meskipun begitu, kenyataannya metode ini memiliki banyak kelemahan. Berikut beberapa alasan mengapa Anda tidak bisa mengandalkan metode ejakulasi di luar sebagai kontrasepsi.

  • Mengontrol ejakulasi ketika sedang terangsang itu sulit
    Banyak laki-laki merasa yakin bisa mengontrol momen ejakulasi, namun faktanya sebagian besar dari mereka mencapai klimaks sebelum menarik penis keluar  (Westheimer & Lehu, 2019). Padahal, keberhasilan metode ejakulasi di luar dalam mencegah kehamilan sangat ditentukan dari menemukan waktu yang tepat untuk menarik penis keluar dari vagina. Jika terlambat sedetik saja, sperma bisa masuk. Risiko terjadinya kehamilan sangat besar. Satu dari setiap lima pasangan yang menggunakan metode ejakulasi di luar hamil dalam setahun sejak menerapkan metode ejakulasi di luar (Perez, 2019).
  • Tidak semua pasangan bisa dipercaya
    Pasangan yang sudah hidup bertahun-tahun bersama saja masih bisa tiba-tiba berubah pikiran, apalagi yang baru dikenal. Bisa saja di awal pasangan berjanji akan ejakulasi di luar demi mendapatkan seks, namun ketika hampir mencapai klimaks janji tersebut diabaikan karena kehilangan fokus hingga terlupa atau memang atas dasar keegoisan pribadi sebab ejakulasi di dalam vagina terasa lebih enak. Bisa pula, pasangan Anda sebenarnya tidak seprinsip dengan Anda dan ingin memiliki anak, sehingga ia membuat janji palsu dan kemudian melanggarnya.
  • Cairan pra-ejakulasi bisa saja mengandung sperma
    Kalaupun penis berhasil dikeluarkan tepat sebelum ejakulasi, masih ada kemungkinan terjadinya kehamilan akibat cairan pra-ejakulasi, yaitu cairan bening yang keluar dari penis ketika laki-laki mulai terangsang. Oleh banyak orang, cairan pra-ejakulasi seringkali dianggap tidak mengandung sperma, sebab tekstur dan warnanya berbeda dari cairan mani yang keluar saat laki-laki mengalami ejakulasi. Akan tetapi, kenyataannya cairan pra-ejakulasi bisa mengandung sperma serta bisa membawa sperma bekas ejakulasi sebelumnya yang tertinggal di saluran uretra (Westheimer & Lehu, 2019).
  • Adanya risiko yang besar untuk terkena infeksi menular seksual (IMS)
    Kondom adalah satu-satunya metode kontrasepsi yang bisa mencegah IMS (Witton, 2017). Ejakulasi di luar tidak bisa melindungi Anda dari ancaman ini. Meskipun pasangan Anda setia, bukan berarti bebas IMS. Bisa saja ia belum pernah mengambil tes IMS, sehingga tidak pernah menyadarinya. Soalnya, beberapa jenis IMS hadir tanpa gejala apapun. Langkah yang bijak adalah senantiasa menggunakan kondom dan melakukan tes IMS. Beberapa jenis kondom berkualitas yang bisa digunakan untuk meningkatkan keamanan bercinta misalnya kondom Sutra, Fiesta, Andalan, dan Supreme. Masing-masing tersedia dalam berbagai varian dan fitur menarik yang bisa disesuaikan dengan selera Anda dan pasangan.

Baca juga : Seks Oral Tanpa Kondom, Ini Risikonya Bagi Kesehatan Reproduksi

Itulah 4 alasan mengapa Anda tidak bisa mengandalkan metode ejakulasi di luar sebagai kontrasepsi. Jadi, jangan serta-merta mengandalkannya hanya karena banyak orang yang melakukannya. Jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai topik ini, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang Anda sampaikan dijamin kerahasiaannya.

Trik Menjaga Kesehatan Reproduksi Pasangan Ketika Anda Punya Infeksi Menular Seksual

Terkena infeksi menular seksual (IMS) mungkin terdengar sangat menyeramkan, namun bukan akhir dunia. Anda tidak harus melajang seumur hidup hanya karena status kesehatan tersebut. Masih ada kesempatan bagi Anda untuk menjalani hubungan romantis. Yang terpenting adalah mengetahui cara yang tepat untuk melindungi kesehatan reproduksi pasangan Anda. Berikut beberapa di antaranya.

  • Mencari penanganan medis untuk diri sendiri
    Cara terbaik untuk melindungi pasangan Anda adalah dengan mendapatkan penanganan medis untuk kesehatan reproduksi Anda sendiri. Ingat bahwa sebagian besar IMS seperti gonorrhea, klamidia, sifilis, trikomonas dan kutu kelamin dapat disembuhkan, asalkan cepat dideteksi. Beberapa jenis IMS lainnya seperti herpes dan HIV/AIDS tidak dapat disembuhkan secara permanen, namun bisa dikontrol agar dampaknya minim serta kemungkinan penularannya semakin rendah dengan menggunakan obat-obatan (Dweck & Westen, 2017).
  • Mengajak pasangan memeriksakan diri dan melakukan vaksinasi bila memungkinkan
    Seks yang lebih aman bukan hanya soal apa yang Anda lakukan bersama pasangan di ranjang, namun juga soal seberapa sering Anda dan pasangan memeriksakan diri. Tes IMS sebaiknya dilakukan minimal sekali setahun (Perez, 2019). Lakukan lebih rutin lagi jika banyak melakukan tindakan seksual berisiko. Khusus untuk HPV, tersedia juga vaksinasi (Dweck & Westen, 2017). Bila memungkinkan, upayakan agar pasangan Anda mendapatkan vaksinasi tersebut.
  • Mempraktekkan strategi-strategi seks yang lebih aman
    Selama Anda dan pasangan tetap berhubungan seks, risiko terkena IMS tidak bisa hilang sepenuhnya. Meskipun begitu, untuk mengurangi risiko tersebut secara signifikan, Anda bisa menggunakan kondom dengan benar dan konsisten setiap kali hubungan seks dilakukan. Kondom harus dipakai sejak awal, saat penis sudah mulai tegang, hingga sesaat setelah ejakulasi selesai, sebelum penis mengecil kembali. Pegang pangkal kondom ketika melepasnya agar sperma tidak merembes keluar (Westheimer & Lehu, 2019). Pastikan stok kondom selalu tersedia ketika diperlukan, tanggal kadaluarsa masih jauh, dan semua kondom tersimpan di tempat yang aman bebas dari benda-benda tajam, bahan kimia, dan paparan sinar matahari.
  • Menghindari aktivitas seksual hingga infeksi berakhir
    Dalam beberapa kasus IMS tertentu, dokter biasanya akan merekomendasikan Anda untuk menghindari seks yang melibatkan segala bentuk penetrasi alias masuknya penis ke dalam mulut, vagina, atau anus selama beberapa waktu, khususnya saat infeksi masih ada. Meskipun begitu, Anda dan pasangan masih bisa melakukan berbagai aktivitas lainnya. Berpelukan, berciuman, berbaring sekasur, berenang bareng, ataupun menggunakan toilet yang sama tidak akan menularkan IMS, kecuali pada kasus herpes atau kutu kelamin (Witton, 2017).

Baca juga : Seks Oral Tanpa Kondom, Ini Risikonya Bagi Kesehatan Reproduksi

Demikianlah beberapa tips menjaga kesehatan reproduksi pasangan ketika Anda punya infeksi menular seksual. Jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai topik ini, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang Anda sampaikan dijamin kerahasiaannya.

Cegah Infeksi Saluran Kemih dengan Kontrasepsi, Apakah Bisa?

Setiap tahunnya, sebanyak 250 juta orang di seluruh dunia terkena infeksi saluran kemih (ISK). ISK bisa menyerang laki-laki dan perempuan, namun perempuan dewasa memiliki risiko terkena ISK 30 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan laki-laki dewasa (Mohiuddin, 2019). Jika terlambat ditangani atau terjadi komplikasi, ISK bisa berakibat fatal. Berikut sekilas penjelasan mengenai ISK dan strategi pencegahannya.

Saluran kemih manusia terdiri dari sepasang ginjal, saluran ureter, kandung kemih, dan saluran kencing alias uretra. ISK adalah infeksi yang menyerang salah satu atau beberapa bagian dari saluran kemih tadi. Dibandingkan dengan laki-laki, uretra perempuan lebih pendek, sehingga bakteri lebih mudah menjalar ke bagian dalam saluran kemih dan menyebabkan infeksi. Apalagi, posisi uretra secara fisik berdekatan dengan anus, di mana banyak terdapat bakteri. Apabila seseorang terkena ISK, ada beberapa gejala yang bisa muncul, yaitu sebagai berikut (Dweck & Westen, 2017).

  1. Timbul rasa nyeri saat buang air kecil
  2. Merasa harus bolak-balik buang air kecil
  3. Warna urin berubah menjadi kemerah-merahan atau keruh akibat nanah
  4. Muncul rasa sakit di bagian bawah panggul atau di sekitar tulang pubis
  5. Hanya bisa buang air kecil sedikit-sedikit saja meskipun sudah merasa kebelet
  6. Merasa lemah dan lelah
  7. Perut bagian bawah terasa berat seperti ada tekanan
  8. Nyeri di salah satu sisi punggung belakang bagian tengah, tepatnya di posisi ginjal
  9. Apabila infeksi sudah agak berkelanjutan, bisa terjadi demam, meriang, mual atau muntah, disertai dengan munculnya darah dalam urin

Salah satu cara untuk mengurangi kemungkinan terkena ISK adalah dengan menggunakan alat kontrasepsi, yaitu kondom. Faktanya, meskipun ISK bukan merupakan infeksi menular seksual (IMS), risiko terjadinya ISK meningkat seiring dengan seringnya seseorang berhubungan seks. Hal ini terjadi karena bakteri bisa terdorong masuk ke lubang saluran kencing alias uretra saat hubungan seks terjadi (Westheimer & Lehu, 2019). Jika Anda ingin menggunakan kondom untuk mencegah ISK, gunakan kondom tanpa spermisida, sebab spermisida bisa meningkatkan risiko terkena ISK (Bergamin & Kiosoglous, 2017).

Untuk perlindungan maksimal, pastikan Anda mengganti kondom untuk setiap tindakan seksual yang berbeda, baik seks oral, vaginal, maupun anal. Soalnya, menggunakan kondom yang sama tanpa diganti terlebih dahulu atau bahkan tidak menggunakan kondom sama sekali ketika melakukan lebih dari satu tindakan seksual yang berbeda bisa memicu ISK.

Baca juga : Kondom Terbalik Saat Mau Dipakai, Bolehkah Digunakan Ulang?

Di samping menggunakan kondom, beberapa cara lain yang bisa Anda terapkan untuk mencegah ISK antara lain (Westheimer & Lehu, 2019):

  • Menjaga kebersihan organ reproduksi bagian luar, baik penis maupun vulva
  • Cebok dari depan ke belakang agar bakteri dari anus tidak terbawa ke uretra
  • Buang air kecil setelah berhubungan seks agar bakteri yang sempat terbawa masuk bisa langsung keluar dari uretra

Itulah penjelasan mengenai beberapa cara untuk mencegah ISK. Jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai topik ini, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang Anda sampaikan dijamin kerahasiaannya.

Awas Sperma Merembes! Ini Tips Melepas Kondom dengan Aman

Tak hanya soal memasang kondom, tindakan melepas kondom pun bisa berisiko menyebabkan kehamilan yang tidak direncanakan (KTD) apabila dilakukan dengan cara yang kurang tepat. Tidak memegang pangkal kondom ketika melepasnya merupakan salah satu kesalahan penggunaan kondom yang pernah dilakukan oleh 49,4% pengguna kondom dari kalangan muda (Barrett, Laris, et al., 2020). Pengalaman sepertinya berperan, sebab faktanya kesalahan-kesalahan penggunaan kondom seperti ini lebih sering terjadi pada mereka yang berusia di <35 tahun dibandingkan dengan orang-orang yang lebih tua (Burmen, Omollo & Olilo, 2019). Akan tetapi tak perlu khawatir jika Anda belum cukup berpengalaman atau masih membuat kesalahan yang sama meskipun telah mencoba berkali-kali, sebab kali ini Halo DKT akan membahas mengenai strategi melepas kondom yang aman.

Bagian paling menantang dari penggunaan kondom memang merupakan saat melepaskannya sehabis pakai. Soalnya, sperma bisa merembes keluar dan masuk ke dalam vagina apabila Anda tidak berhati-hati. Berikut cara melepas kondom yang benar (Westheimer & Lehu, 2019):

  • Pegang bagian pangkal kondom ketika akan melepas kondom. Apabila Anda kesulitan memegang pangkal kondom sambil melepasnya, lakukan berdua. Misalnya, pasangan Anda bisa memegang pangkal kondom sementara Anda berusaha menariknya.
  • Lepaskan kondom dari penis sebelum penis mengecil kembali akibat hilangnya ereksi.

Dari kedua langkah di atas, bisa dilihat bahwa waktu melepas kondom sangat berperan, sebab sperma bisa bocor keluar apabila kondom dilepas setelah penis mengecil kembali. Meskipun begitu, Anda juga tidak boleh melepas kondom terlalu dini. Sekilas hal ini mungkin terdengar sepele dan terkesan seperti sudah diketahui banyak orang, namun faktanya melepas kondom terlalu dini merupakan salah satu kesalahan yang masih dilakukan oleh 7,9% pengguna kondom (Burmen, Omollo & Olilo, 2019). Percuma Anda dan pasangan menggunakan kondom di awal berhubungan seks jika kondom tersebut dilepas sebelum waktunya. Selain bisa menyebabkan kehamilan karena sperma dan karena cairan pra-ejakulasi yang bisa saja mengandung sperma, melepas kondom terlalu dini juga bisa meningkatkan risiko terkena infeksi menular seksual (IMS) seperti klamidia, sifilis, gonorrhea, dan HIV/AIDS bagi Anda dan pasangan Anda. Jadi, lepaskanlah kondom pada saat yang tepat, yakni sesudah ejakulasi namun sebelum ereksi menghilang.

Baca juga: Ini dia Kondom Enak yang Bisa Mempermudah Orgasme Perempuan

Begitulah cara melepas kondom dengan aman agar sperma tidak merembes keluar dan menyebabkan kehamilan yang tidak direncanakan. Mudah-mudahan, dengan mengetahui informasi tadi, Anda jadi lebih bijak dalam menggunakan kondom. Jika Anda masih memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai topik ini, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang Anda sampaikan dijamin kerahasiaannya.

Pil KB Bisa Mencegah Kista di Indung Telur?, Ini Alasannya!

Di samping bekerja sebagai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, pil KB juga memiliki banyak manfaat sampingan. Salah satunya adalah untuk mencegah kista di indung telur. Manfaat ini sudah cukup dikenal dan diakui dalam berbagai penelitian di bidang kesehatan reproduksi.

Kista indung telur atau kista ovarium adalah kantung kecil berisi cairan yang berkembang dalam indung telur perempuan. Sebagian besar kista indung telur tidak berbahaya, namun bisa menimbulkan masalah apabila pecah, berdarah, atau terpilin. Kista jenis ini didiagnosis melalui riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan teknologi ultrasound. Penanganan kista bisa hanya sekadar dengan memonitor perkembangannya seiring waktu, bisa pula dengan pengobatan atau operasi pengangkatan kista untuk kasus-kasus yang lebih serius (Dweck & Westen, 2017).

Pada umumnya, orang-orang yang mengonsumsi pil KB lebih jarang mengalami pembentukan kista indung telur (Westheimer & Lehu, 2019). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pil KB banyak digunakan untuk mencegah tumbuhnya kista. Bahkan, pil KB pun seringkali diresepkan oleh dokter sebagai penanganan untuk kista indung telur yang sudah terbentuk, sebab pil KB bisa menghambat perkembangan kista indung telur (Dweck & Westen, 2017). Pasalnya, pil KB mengandung hormon-hormon yang serupa dengan apa yang biasanya diproduksi tubuh secara alami, yakni estrogen, progesteron, atau kombinasi dari keduanya. Apa hubungan menjaga keseimbangan hormon dengan pencegahan kista indung telur? Dalam setiap siklus menstruasi yang terdiri dari kurang lebih 28 hari, perempuan biasanya melepas satu buah sel telur. Tubuh mempersiapkan proses pelepasan sel telur melalui hormon-hormon yang merangsang perkembangan sel telur dalam cangkang yang disebut dengan folikel. Masalahnya, kadang-kadang proses pelepasan sel telur ini tidak terjadi. Akibatnya, folikel terus berkembang dan akhirnya membentuk kista (Hill, 2019). Nah, dengan mengonsumsi pil KB, keseimbangan hormon menjadi lebih terjaga dan kista indung telur bisa dicegah. Meskipun begitu, pencegahan kista indung telur dengan meminum pil KB tetap harus dilakukan dengan berkonsultasi pada dokter terlebih dahulu, tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Baca juga : Spotting Bukan Berarti Tak Cocok dengan Pil KB, Ini Penjelasannya

Untuk mendapatkan gambaran awal mengenai jenis pil KB mana yang paling cocok untuk kebutuhan Anda, Anda bisa berkonsultasi melalui Halo DKT, mengunjungi bidan Andalan terdekat, atau menjadwalkan kunjungan konsultasi ke puskesmas / rumah sakit.

Selain dengan mengonsumsi pil KB, apabila Anda memiliki kista indung telur tanpa keluhan apapun, Anda bisa mencegah kista berkembang lebih lanjut dengan makan makanan sehat secara teratur, berolahraga, dan tidur yang cukup (Hill, 2019). Seiring waktu, kemungkinan besar indung telur Anda akan melepas sel telur dengan teratur lagi. Jangan ragu juga untuk memonitor kista secara teratur ke dokter beberapa bulan sekali. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang Anda sampaikan dijamin kerahasiaannya.

Hati-hati, Ini Dampak Buruk Berat Badan Rendah Terhadap Kesuburan

Anda mungkin sudah sering mendengar bahwa obesitas bisa mengurangi kesuburan. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa berat badan rendah juga bisa menyebabkan masalah serupa? Berikut pembahasannya.

Menginginkan badan yang langsing itu tidak salah, namun sebaiknya Anda tidak melakukan diet yang ekstrim. Adanya lemak dalam tubuh merupakan sesuatu yang wajar. Manusia membutuhkan asupan lemak yang sehat untuk proses pembentukan hormon (Hill, 2019). Contoh sumber makanan yang mengandung asupan lemak sehat antara lain telur, ikan, minyak zaitun, alpukat, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Ketika seseorang melakukan diet secara berlebihan dan tidak mengonsumsi asupan lemak sehat sama sekali, ini justru bisa mengganggu produksi hormon. Padahal, hormon memegang peranan penting dalam menjaga kesuburan.

Faktanya, orang-orang dengan berat badan yang terlalu rendah seringkali tidak mengalami ovulasi. Ovulasi adalah pelepasan sel telur dari indungnya (Dweck & Westen, 2017). Yang menentukan terjadinya ovulasi adalah hormon-hormon dalam tubuh. Hormon pelepas Gonadatropin (GnRH), hormon perangsang folikel (FSH), dan luteinising hormone (LH) ketiganya bekerja sama demi terjadinya ovulasi. Apa hubungannya dengan kesuburan? Agar bisa terjadi kehamilan, proses ovulasi harus terjadi, sel telur harus dilepas, bertemu dengan sperma, dan dibuahi. Seluruh proses ini bisa terhambat apabila seseorang kekurangan asupan lemak sehat serta memiliki berat badan yang terlalu rendah. Selain kesulitan untuk ovulasi, orang-orang dengan berat badan rendah juga lebih banyak mengalami gangguan kesehatan reproduksi dibandingkan dengan orang-orang dengan berat badan normal (Aladashvili-Chikvaidze, Kristesashvili, dan Gegechkori, 2015).

Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Berikut beberapa strategi yang bisa Anda terapkan untuk mencapai berat badan yang lebih ideal.

  1. Makan makanan bergizi seimbang
  2. Tidur dan beristirahat dengan cukup
  3. Olahraga secukupnya saja, jangan berlebihan
  4. Menghindari sumber penyebab stres
  5. Berkonsultasi dengan dokter
  6. Konseling dengan psikolog atau psikiater jika Anda memiliki gangguan makan
  7. Minta dukungan pasangan, keluarga, atau teman untuk memotivasi Anda menerapkan pola hidup sehat
  8. Menghindari akun-akun di jejaring sosial yang mempromosikan bentuk tubuh terlalu kurus dan akun-akun yang mempromosikan diet ekstrim

Baca juga : 7 Kesalahan yang Bisa Dilakukan Ketika Menghitung Masa Subur

Itulah dampak berat badan rendah terhadap kesuburan serta beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencapai berat badan yang lebih ideal. Mudah-mudahan dengan informasi tersebut, Anda bisa lebih menjaga kesuburan dan kesehatan reproduksi Anda dengan lebih baik lagi. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai topik ini, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang Anda sampaikan akan dijamin kerahasiaannya, sehingga Anda bisa mencurahkan isi hati Anda dengan bebas.

Memakai Kondom Mengurangi Risiko Keputihan Berbahaya, Benarkah?

Pada umumnya, keputihan merupakan sesuatu yang alami dan banyak dialami oleh perempuan. Jumlah dan kualitas keputihan bisa berubah-ubah sesuai dengan siklus menstruasi (Dweck & Johnson, 2017). Ini adalah suatu hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Meskipun begitu, munculnya rasa gatal, nyeri, bau tidak sedap, serta warna yang aneh dan tekstur pekat pada keputihan biasanya merupakan beberapa tanda adanya gangguan kesehatan pada organ reproduksi. Beberapa jenis infeksi yang ditandai dengan keputihan yang tidak normal di antaranya misalnya trikomoniasis, vaginitis, dan gonorrhea (Westheimer & Lehu, 2019). Salah satu solusi yang bisa membantu mengurangi risiko keputihan berbahaya akibat dari infeksi-infeksi tadi adalah dengan memakai kondom. Berikut pembahasannya.

Selain memiliki fungsi utama untuk mencegah kehamilan, kondom juga bisa mengurangi risiko penyebaran infeksi menular seksual (IMS) dan infeksi bakteri lainnya yang kerap menyerang organ reproduksi. Cara kerja kondom cukup sederhana, yaitu dengan mencegah kontak langsung antara cairan membran mukus yang terdapat di sekitar penis dan vagina. Soalnya, jika membran mukus saling bersentuhan dalam hubungan seks, IMS bisa menyebar (Perez, 2018). Jadi, fokusnya bukan hanya untuk mencegah masuknya sperma ke dalam vagina, tapi juga mencegah membran mukus dari saling bersentuhan. Membran mukus sudah ada bahkan sebelum sperma keluar melalui ejakulasi, sehingga Anda dan pasangan harus menggunakan kondom sejak awal. Begitu penis sudah tegang, pasanglah kondom. Jangan menunggu hingga sudah setengah jalan berhubungan seks dan baru memasang kondom menjelang orgasme, karena ini berarti penis dan vagina sudah saling terekspos membran mukus satu sama lain tanpa pengaman.

Ada beberapa jenis kondom yang bisa Anda gunakan untuk mengurangi risiko munculnya keputihan berbahaya akibat gejala IMS. Anda yang ingin melindungi diri tanpa merasakan adanya lapisan kondom ketika bercinta bisa menggunakan kondom tipis seperti Fiesta Ultra Thin. Jika ingin perlindungan ekstra, tersedia juga varian Fiesta Ultra Safe. Di samping itu, beberapa varian lain seperti kondom Sutra Gerigi, Fiesta Dotted, dan Supreme Sensation menawarkan tekstur yang bisa menambah stimulasi ekstra dalam hubungan seks. Anda tinggal memilih mana yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda saja.

Baca juga : Bahaya Menggunakan Bedak Saat Keputihan

Selain menggunakan kondom, beberapa strategi lain yang bisa turut membantu mencegah munculnya keputihan yang berbahaya dan berbagai jenis IMS antara lain dengan tidak berganti-ganti pasangan, selalu menjaga kebersihan organ reproduksi, dan memeriksakan kesehatan organ reproduksi secara rutin. Begitulah sekilas penjelasan mengapa pemakaian kondom bisa mengurangi risiko keputihan berbahaya yang muncul sebagai gejala IMS. Jika ingin berkonsultasi mengenai pencegahan IMS secara lebih lanjut, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

5 Solusi Mudah Memperlancar ASI Demi Keceriaan Si Buah Hati

Seorang ibu adalah sosok perempuan tangguh yang bisa menghadapi segalanya. Mengemban tanggung jawab rumah tangga, bekerja, mengasuh anak, bahkan sanggup melakukan ketiga-tiganya sekaligus. Proses mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan sesosok bayi membuat para ibu menjadi orang yang kuat dan tegar. Meski begitu, ada satu hal yang paling sulit dihadapi oleh para ibu, yaitu mendengar tangisan si buah hati. Apalagi bila tangisan tersebut merupakan tangisan lapar, sementara ASI untuk si kecil tidak mencukupi. Tak perlu khawatir, berikut 5 solusi mudah memperlancar ASI demi keceriaan si buah hati.

  1. Konsisten memberikan ASI dengan kedua payudara secara bergantian
    Semakin teratur Anda menyusui, semakin banyak ASI yang diproduksi. Para ibu disarankan menyusui selama 20 menit, 6-8 kali sehari (Heon, Goulet, Garofalo, et al., 2016). Selain itu, sebaiknya menyusui menggunakan payudara secara bergantian. Jika tadi Anda menggunakan payudara sebelah kiri, berikutnya susui si kecil dengan payudara sebelah kanan. Menyusui dari payudara kanan dan kiri bisa menambah produksi ASI dan kandungan lemak di dalamnya (Prime, Garbin, et al., 2012).
  2. Menggunakan pompa ASI
    Mengingat bahwa memberi ASI secara konsisten sangat penting untuk mempertahankan produksi ASI, sebaiknya Anda tetap memompa ASI bahkan di saat si kecil sedang tak mau minum. Contohnya, bila si kecil biasanya mendapatkan ASI jam 9 pagi, namun kali ini kebetulan ia menolak. Bisa juga ketika ASI masih keluar namun si kecil sudah kenyang. Kedua contoh tadi adalah saat-saat yang tepat untuk menggunakan pompa ASI. Selain itu, gunakan juga pompa ASI ketika Anda sedang terpisah dari si buah hati (Santos-Longhurst, 2018, Healthline). Jadi, payudara tetap mendapatkan stimulasi untuk memproduksi ASI secara teratur.
  3. Mengurangi sumber stres
    Stres juga bisa memengaruhi produksi ASI. Oleh karena itu, upayakan untuk menyusui dalam keadaan rileks. Selain itu, pilihlah tempat menyusui yang nyaman bagi Anda.
  4. Menghindari konsumsi alkohol
    Tak hanya saat sedang hamil, Anda tetap disarankan untuk menghindari alkohol saat sedang menyusui. Memang benar bahwa sebagian besar penelitian menemukan bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi alkohol dan produksi ASI, asalkan minum alkohol tidak berlebihan (> 2 gelas per hari). Akan tetapi terdapat pula 7 buah penelitian yang menemukan bahwa mengonsumsi alkohol dalam porsi yang biasa-biasa saja pun akan mengurangi durasi menyusui secara eksklusif (Greiner, 2019). Selain itu, apabila seorang ibu menyusui mengonsumsi alkohol, bayi bisa menjadi gelisah dan kurang tidur.
  5. Makan makanan & minuman bergizi, serta mengonsumsi ASI Booster
    Nutrisi bisa memengaruhi produksi ASI, oleh karena itu konsumsilah makanan dan minuman sehat. Bila perlu, Anda juga bisa menambah suplemen yang bisa menambah produksi ASI, misalnya seperti Andalan Lactaboost yang mengandung daun katuk alami. Daun katuk kaya akan alkaloid dan sterol yang dapat meningkatkan produksi ASI (Rahmanisa & Aulianova, 2016).

Baca juga : Ikut Program Keluarga Berencana di Masa ‘New Normal’? Ini yang Perlu Dipersiapkan

Itulah 5 solusi mudah yang bisa Anda terapkan untuk memperlancar ASI demi keceriaan si buah hati. Jika ingin berkonsultasi mengenai hal ini, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

5 Manfaat Ikut Program Keluarga Berencana Saat Melanjutkan Pendidikan Tinggi

Menempuh pendidikan tinggi merupakan strategi pengembangan diri yang sangat baik. Selain menambah pengetahuan, gelar yang diperoleh juga bisa membantu jenjang karir kamu. Bagi kamu yang sudah menikah dan ingin melanjutkan pendidikan kembali, salah satu hal yang bisa membantu mempermudah perjuanganmu adalah mengikuti program Keluarga Berencana. Berikut 5 manfaat ikut program KB dalam dunia perkuliahan.

  1. Lebih fokus dengan kegiatan pembelajaran
    Kegiatan pembelajaran di jenjang perkuliahan membutuhkan fokus yang besar. Berbeda dengan saat menempuh pendidikan dasar, sebagai mahasiswa kamu dituntut belajar lebih mandiri. Dosen hanya berperan sebagai fasilitator, sehingga mahasiswa harus aktif mencari sumber informasi sendiri. Dengan menunda punya anak atau memberikan jarak beberapa tahun di antara kelahiran anak pertama dengan anak berikutnya, kamu bisa mengurangi tanggung-jawab tambahan dan berfokus pada kegiatan akademik.
  2. Punya lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tugas perkuliahan
    Aktivitas perkuliahan biasanya banyak melibatkan pekerjaan rumah, kerja kelompok, penelitian, praktek, seminar, dan konferensi. Oleh karena itu, kamu membutuhkan lebih banyak waktu luang. Tidak cukup apabila kamu hanya sekadar meluangkan waktu untuk jam kuliah saja. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk membaca buku-buku perkuliahan yang tebal dengan bahasa yang kompleks.  Mengikuti program Keluarga Berencana bisa memberikan kamu lebih banyak waktu luang.
  3. Menghemat biaya
    Selain uang pendaftaran kampus, mahasiswa harus membayar uang kuliah, uang buku, dan mengeluarkan biaya untuk penelitian. Hingga perkuliahan selesai, totalnya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Akan sangat memberatkan jika kamu juga harus membiayai anak pada waktu yang bersamaan. Program Keluarga Berencana bisa membantu kamu mengurangi pengeluaran hingga kamu siap berkeluarga. Tinggal memilih sesuai dengan kebutuhan kamu saja. Kamu yang sedang memperjuangkan gelar S1 bisa menggunakan IUD Andalan Silverline Cu 380 Ag agar terlindungi dari kehamilan selama 3 hingga 5 tahun atau Andalan Implan yang efektif mencegah kehamilan selama 4 tahun. Butuh masa perlindungan yang lebih panjang hingga selesai S2 atau S3? IUD Andalan TCu 380A bisa melindungi kamu hingga 10 tahun.
  4. Menjaga kesehatan tubuh
    Di tengah jadwal yang padat, mahasiswa harus selalu fit. Terkena infeksi menular seksual (IMS) bisa menjadi kondisi yang sangat tidak nyaman. Kamu jadi harus bolak-balik berobat ke rumah sakit. Padahal, ini bisa dicegah dengan menggunakan kondom. Selain itu, kamu juga bisa menghindari berbagai gangguan kesehatan lainnya dengan menunda kehamilan. Faktanya, risiko berbagai penyakit seperti anemia, hipertensi, dan infeksi saluran kemih (ISK) meningkat saat hamil (Ranjan, Sridhar, et al., 2017; Braunthal & Brateanu, 2019).
  5. Agar lebih sehat secara psikologis
    Bahkan dalam kondisi normal pun, banyak tekanan yang akan kamu rasakan saat berkuliah. Apalagi bagi kamu yang sering mengalami PMS atau kamu yang rentan terhadap perubahan mood. Kontrasepsi hormonal seperti pil KB Andalan FE bisa membantu mengatasi gejala PMS (Witton. 2019). Alhasil, mood tetap stabil dan Kamu bisa produktif belajar dengan maksimal.

Baca juga : 4 Metode Keluarga Berencana yang Paling Praktis untuk Mendukung Karir Anda

Demikianlah 5 manfaat mengikuti program Keluarga Berencana saat melanjutkan pendidikan tinggi. Jika ingin berkonsultasi, Kamu bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB.  Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.

Fetish dan Kink, Apa Sih Perbedaannya?

Meski telah ada sejak zaman dahulu, istilah fetish dan kink kini semakin sering muncul di media, khususnya dengan perkembangan teknologi internet. Ada banyak sekali persepsi yang berbeda mengenai keduanya. Di kalangan awam, sebagian orang menganggapnya sebagai penyimpangan seksual, sementara sebagian lagi memiliki opini yang berbeda. Untuk meluruskan pemahaman Anda, berikut penjelasan mengenai fetish dan kink dari sudut pandang psikologi.

Menurut kamus psikologi resmi terbitan American Psychological Association (APA), fetishism adalah kondisi di mana seseorang menggunakan benda-benda mati seperti pakaian dalam, stocking, benda-benda karet, sepatu, atau boots untuk meraih kepuasan seksual. Penggunaan sex toys seperti vibrator tidak tergolong bagian dari fetishism. Fetish pada dasarnya dimiliki sebagian besar orang, namun tidak semua fetish tergolong gangguan psikologis. Seseorang bisa saja memiliki fetish tertentu tetapi tetap dianggap sehat. Berdasarkan DSM-5, buku panduan pembuatan diagnosis yang digunakan oleh psikolog di seluruh dunia, fetish hanya bisa dikategorikan sebagai gangguan apabila:

  • menyebabkan rasa tertekan
  • menyebabkan gangguan di ranah sosial, karir, dan bidang lainnya
  • prakteknya menyakiti orang lain

Jika fetish yang dimiliki seseorang tidak memenuhi karakteristik di atas, fetish tersebut tidak bisa disebut gangguan, hanya variasi dari preferensi seksual seseorang saja. Misalnya, seorang laki-laki terangsang oleh sepatu hak tinggi. Ia menyalurkan fetish-nya di tempat tidur dengan meminta istrinya menggunakan sepatu tersebut ketika bercinta. Istrinya tidak terganggu dengan hal ini. Dalam contoh kasus tadi, fetish ini bukan gangguan, karena tidak mengganggu kehidupannya. Akan tetapi jika ia ejakulasi di publik karena melihat perempuan menggunakan sepatu hak tinggi, hingga ia malu, hubungan sosialnya terganggu, dan tidak bisa fokus bekerja, maka fetish ini adalah sebuah gangguan.

Lalu bagaimana dengan kink? Menurut Samuel Hughes, psikolog yang banyak meneliti kink di ranah sosial, kink adalah istilah yang menggambarkan berbagai perilaku seksual dan intim yang sifatnya non-tradisional (tidak umum) namun dilakukan atas dasar mau sama mau (Aaron, Psychology Today, 2018). Beberapa contoh perilaku kink adalah sebagai berikut:

  • Bondage: mengikat diri sendiri / pasangan dengan tali atau dengan objek lain yang bisa membatasi ruang gerak untuk meningkatkan gairah seksual
  • Domination & submission: aktivitas seksual di mana satu pihak menjadi sangat dominan dan pihak lainnya menunjukkan kepatuhan sehingga terjadi permainan kekuasaan yang bisa memberikan rangsangan seksual
  • Role-play: bermain peran dalam hubungan seks, misalnya sebagai dokter dan pasien, guru dan murid, dan sebagainya agar mendapat suasana baru dalam aktivitas seksual

Jadi, jika fetish fokusnya pada benda mati, kink berfokus pada aktivitas dan seringkali dilakukan bersama pasangan. Seperti fetish, kink juga bukan merupakan penyimpangan, selama tidak menyebabkan rasa tertekan ataupun gangguan yang signifikan dalam kehidupan seseorang. Agar fetish dan kink Anda tidak mengganggu pasangan, kuncinya adalah komunikasi yang baik. Jangan ragu untuk jujur pada pasangan mengenai hal-hal yang merangsang Anda. Siapa tahu, ia mau bereksperimen atau malah memiliki fetish atau kink-nya sendiri.

Begitulah pembahasan singkat soal fetish dan kink. Selain itu, jika Anda masih memiliki pertanyaan, Anda bisa menghubungi Halo DKT melalui layanan bebas pulsa 0800-1-326459 atau Whatsapp ke 0811-1-326459 dengan mengklik tautan ini pada hari Senin hingga Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB. Segala informasi yang disampaikan akan dijamin kerahasiaannya.